Jumat, 28 Februari 2020

SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO 2 1 MENINGKATKAN HASIL GABAH



Dalam rangka mendukung Upaya Khusus Pajale Babe yang digalakkan pemerintah Jokowi, berbagai usaha dilakukan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Dalam hal ini Tidak terlepas dengan tanaman padi yang merupakan komoditas Utama. Padi merupakan salah satu komoditas strategis baik secara ekonomi, sosial maupun politik. Pada umumnya usaha tani padi masih merupakan tulang punggung perekonomian keluarga tani dan perekonomian pedesaan. Sejak awal tahun 2007 pemerintah telah bertekad  untuk meningkatkan produksi beras 2 juta ton dan selanjutnya meningkat 5% per tahun hingga tahun 2009. Untuk mencapai target atau sasaran tersebut maka diluncurkan Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) dengan mengimplementasikan 4 (empat) strategi yaitu:


  1. Peningkatan produktivitas,
  2. Perluasan areal,
  3. Pengamanan produksi,
  4. Kelembagaan dan pembiayaan serta peningkatan koordinasi (Badan Litbang Pertanian, 2007a; Purwanto, 2008).

Menurut Sembiring (2008) keberhasilan peningkatan produksi padi lebih banyak disumbangkan oleh peningkatan produktivitas dibandingkan dengan peningkatan luas panen. Pada periode 1971–2006 peningkatan produktivitas memberikan konstribusi sekitar 56,1%, sedangkan peningkatan luas panen dan interaksi keduanya memberikan kontribusi masing-masing 26,3% dan 17,5% terhadap peningkatan produksi padi.

Dalam upaya pencapaian target program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) pemerintah dalam hal ini Departemen Pertanian melalui Badan Pengembangan dan Penelitian telah banyak mengeluarkan rekomendasi untuk diaplikasikan oleh petani. Salah satu rekomendasi adalah penerapan sistem tanam yang benar dan baik melalui pengaturan jarak tanam yang dikenal dengan sistem tanam jajar legowo. Namun ada bebarapa hal yang menjadi tantangan, antara lain yaitu masih banyak petani yang belum mau melaksanakan sesuai anjuran. Sebagai contoh dalam hal sistem tanam masih banyak petani yang bertanam tanpa jarak tanam yang beraturan. Padahal dengan pengaturan jarak tanam yang tepat dan teknik yang benar dalam hal ini adalah sistem tanam jajar legowo maka akan diperoleh efisiensi dan efektifitas pertanaman serta memudahkan tindakan pemeliharaan selanjutnya.

PENGERTIAN SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO

Istilah jajar legowo diambil dari bahasa jawa yang secara harfiah tersusun dari kata “lego (lega)” dan “dowo (panjang)” yang secara kebetulan sama dengan nama pejabat yang memperkenalkan cara tanam ini. Sistem tanam jajar legowo diperkenalkan pertama kali oleh seorang pejabat Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar Negara Provinsi Jawa Tengah yang bernama Bapak Legowo yang kemudian ditindak lanjuti oleh Departemen Pertanian melalui pengkajian dan penelitian sehingga menjadi suatu rekomendasi atau anjuran untuk diterapkan oleh petani dalam rangka meningkatkan produktivitas tanaman padi.
Prinsip dari sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan populasi tanaman dengan mengatur jarak tanam sehingga pertanaman akan memiliki barisan tanaman yang diselingi oleh barisan kosong dimana jarak tanam pada barisan pinggir setengah kali jarak tanam antar barisan. Sistem tanam jajar legowo merupakan salah satu rekomendasi yang terdapat dalam paket anjuran Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).
Sistem tanam jajar legowo juga merupakan suatu upaya memanipulasi lokasi pertanaman sehingga pertanaman akan memiliki jumlah tanaman pingir yang lebih banyak dengan adanya barisan kosong. Seperti diketahui bahwa tanaman padi yang

berada dipinggir memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang lebih baik dibanding tanaman padi yang berada di barisan tengah sehingga memberikan hasil produksi dan kualitas gabah yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena tanaman yang berada dipinggir akan memperoleh intensitas sinar matahari yang lebih banyak (efek tanaman pinggir). Adapun manfaat dan tujuan dari penerapan sistem tanam jajar legowo adalah sebagai berikut :
  1. Menambah jumlah populasi tanaman padi sekitar 30 % yang diharapkan akan meningkatkan produksi baik secara makro maupun mikro.
  2. Dengan adanya baris kosong akan mempermudah pelaksanaan pemeliharaan, pemupukan dan pengendalian hama penyakit tanaman yaitu dilakukan melalui barisan kosong/lorong.
  3. Mengurangi kemungkinan serangan hama dan penyakit terutama hama tikus. Pada lahan yang relatif terbuka hama tikus kurang suka tinggal di dalamnya dan dengan lahan yang relatif terbuka kelembaban juga akan menjadi lebih rendah sehingga perkembangan penyakit dapat ditekan.
  4. Menghemat pupuk karena yang dipupuk hanya bagian tanaman dalam barisan.
  5. Dengan menerapkan sistem tanam jajar legowo akan menambah kemungkinan barisan tanaman untuk mengalami efek tanaman pinggir dengan memanfaatkan sinar matahari secara optimal bagi tanaman yang berada pada barisan pinggir. Semakin banyak intensitas sinar matahari yang mengenai tanaman maka


proses metabolisme terutama fotosintesis tanaman yang terjadi di daun akan semakin tinggi sehingga akan didapatkan kualitas tanaman yang baik ditinjau dari segi pertumbuhan dan hasil.
Pada prinsipnya sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan populasi dengan cara mengatur jarak tanam. Selain itu sistem tanam tersebut juga memanpulasi lokasi tanaman sehingga seolah-olah tanaman padi dibuat menjadi taping (tanaman pinggir) lebih banyak. Seperti kita ketahui tanaman padi yang berada dipinggir akan menghasilkan produksi lebih tinggi dan kualitas gabah yang lebih baik hal ini disebabkan karena tanaman tepi akan mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak.
Legowo merupakan rekayasa teknik tanam dengan mengatur jarak tanam antar rumpun maupun antar barisan, sehingga terjadi pemadatan rumpun padi di dalam barisan dan memperlebar jarak antar barisan. Pada sistem jajar legowo dua baris semua rumpun padi berada di barisan pinggir dari pertanaman. Akibatnya semua rumpun padi tersebut memperoleh manfaat dari pengaruh pinggir (border effect). Permana (1995) melaporkan bahwa rumpun padi yang berada di barisan pinggir hasilnya 1,5 – 2 kali lipat lebih tinggi dari produksi pada yang berada di bagian dalam.
Paket budidaya tanaman padi sawah sistem jajar legowo merupakan paket teknologi yang dikembangkan dengan tujuan untuk meningkatkan produksi beras dalam upaya khusus pemerintah untuk swasembada pangan.

Sistem jajar legowo ini memilki pola tanam monokultur dengan populasi tananam 37.000/Ha. Penyemaian benih pada sistem legowo ini dengan cara benih disebar pada bedengan-bedengan yang terisolasi di luar areal penanaman Bibit dipindahkan ke lahan pada umur tidak lebih dari 15 hari
Ada beberapa tipe sistem tanam jajar legowo:
  1. Jajar legowo 2:1. Setiap dua baris diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Namun jarak tanam dalam barisan yang memanjang dipersempit menjadi setengah jarak tanam dalam barisan.
  2. Jajar legowo 3:1. Setiap tiga baris tanaman padi diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Jarak tanam tanaman padi yang dipinggir dirapatkan dua kali dengan jarak tanam yang ditengah.
  3. Jajar legowo 4:1. Setiap tiga baris tanaman padi diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Demikian seterusnya. Jarak tanam yang dipinggir setengah dari jarak tanam yang ditengah.


Contoh gambar sistem tanam jajar legowo 2:1 dan 4:1



Seperti telah diuraikan di atas bahwa prinsip dari sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan jumlah populasi tanaman dengan pengaturan jarak tanam. Adapun jumlah peningkatan populasi tanaman dengan penerapan sistem tanam jajar legowo ini dapat kita ketahui dengan rumus : 100 % X 1 / (1 + jumlah legowo).
Dengan demikian untuk masing-masing tipe sistem tanam jajar legowo dapat kita hitung penambahan/peningkatan populasinya sebagai berikut ;
·         Jajar legowo  ( 2: 1) peningkatan populasinya adalah 100 % X 1 (1 + 2) = 30 %
·         Jajar legowo  ( 3: 1) peningkatan populasinya adalah 100 % X 1 (1 + 3) = 25 %
·         Jajar legowo  ( 4: 1) peningkatan populasinya adalah 100 % X 1 (1 + 4) = 20 %

·         Jajar legowo  (5 : 1) peningkatan populasinya adalah 100 % X 1 (1 + 5) = 16,6 %
·         Jajar legowo  (6 : 1) peningkatan populasinya adalah 100 % X 1 (1 + 6) = 14,29 %

Adapun manfaat sistem tanam jajar legowo adalah:

1.     Menambah jumlah tanaman padi seperti perhitungan diatas
2.     Otomatis juga akan meningkatkan produksi tanaman padi
3.     Memperbaiki   kualitas   gabah  dengan  semakin   banyaknya tanaman pinggir
4.     Mengurangi serangan penyakit
5.     Mengurangi tingkat serangan hama
6.     Mempermudah dalam perawatan baik itu pemupukan maupun penyemprotan pestisida
7.     Menghemat pupuk karena yang dipupuk hanya bagian dalam baris tanaman

Kelebihan sistem jajar legowo dua Satu antara lain:

1.     Semua barisan rumpun tanaman berada pada bagian pinggir yang biasanya memberi hasil lebih tinggi (efek tanaman pinggir),
2.     Pengendalian hama, penyakit, dan gulma lebih mudah,
3.     Penyediaan ruang kosong untuk pengaturan air, saluran pengumpul keong mas atau untuk mina padi, dan
4.     Penggunaan pupuk lebih berdaya guna (suhendrata et al, 2004: badan litbang pertanian, 2007a; suhendrata et al, 2008).

Ada beberapa tipe sistem tanam jajar legowo:

1.     Jajar legowo 2:1. Setiap dua baris diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Namun jarak tanam dalam barisan yang memanjang dipersempit menjadi setengah jarak tanam dalam barisan.
2.     Jajar legowo 3:1. Setiap tiga baris tanaman padi diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Jarak tanam tanaman padi yang dipinggir dirapatkan dua kali dengan jarak tanam yang ditengah.
3.     Jajar legowo 4:1. Setiap tiga baris tanaman padi diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Demikian seterusnya. Jarak tanam yang dipinggir setengah dari jarak tanam yang ditengah.
Berdasarkan hasil pengkajian menunjukkan bahwa tanam sistem jajar legowo dua baris dengan jarak tanam 20 x 10 x 40 cm dapat meningkatkan produksi antara 560 – 1.550 kg/ha dibandingkan dengan taman sistem tegel dengan jarak tanam 20 x
20 cm, dan R/C meningkat dari 1,16 menjadi 1,43 dengan peningkatan keuntungan Rp1.352.000/ha (Widarto dan Yulianto, 2001).
Demikian sedikit yang bisa diuraikan tentang sistem tanam jajar legowo semoga dapat bermanfaat bagi semua pihak. Saran dan kritik sangat diharapkan untuk memperbaiki dan mengembangkan tulisan ini sehingga didapatkan daya manfaat yang lebih besar.

SUMBER TULISAN : http://nad.litbang.pertanian.go.id/ind/images/04-SISTEMTANAMJAJARLEGOWO21MENINGKATKAN%20.pdf

DAFTAR PUSTAKA


Abdulrachman, S et al (2013) Sistem Tanam Legowo Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian.

Badan Litbang Pertanian, 2007a . Pengelolaan tanaman terpadu (PTT) padi sawah irigasi. Petunjuk Teknis Lapang. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.

Cara Meningkatkan Produksi Tanaman Padi Dengan Sistem Tanam Jajar                              Legowo.                        Gerbang Pertanianhttp://www.gerbangpertanian.com/2011/02/ca ra meningkatkan-produksi-tanaman padi.html (Diakses pada 12 Desember 2011).

Helmy S. 2016 Info Teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah, BPTP Aceh.

Permana S, 1995. Teknologi usahatani mina padi azolla dengan cara tabam jajar legowo. Mimbar saresehan Sistem Usahatani Berbasis Padi di Jawa Tengah. BPTP Ungaran.

Purwanto S., 2008. Implementasi kebijakan untuk pencapaian P2BN. Prosiding seminar apresiasi hasil penelitian padi menunjang P2BN. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Sukamandi.

Sembiring H, 2008. Kebijakan penelitian dan rangkuman hasil penelitian BB Padi dalam mendukung peningkatan produksi beras nasional. Prosiding seminar apresiasi hasil penelitian padi menunjang P2BN. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Sukamandi.

Sembiring H. 2001. Komoditas Unggulan Pertanian Provinsi Sumatera Utara. Badan Pengkajian Teknologi Pertanian. Sumatera Utara. 58 p.

Sembiring H. 2001. Komoditas Unggulan Pertanian Provinsi Sumatera Utara. Badan Pengkajian Teknologi Pertanian. Sumatera Utara. 58 p.

Widarto dan Yulianto, 2001. Teknologi tanam padi sistem jajar legowo dua baris. Rekomendasi paket teknologi pertanian Propinsi Jawa Tengah. BPTP Jawa Tengah.

memanfaatkan masa bera untuk meningkatkan kesuburan sawah


Pupuk adalah seluruh bahan penyubur tambahan—yang mengandung unsur hara atau nutrisi untuk tanaman[1][2]. Petani-petani Indonesia rupanya memiliki cara cerdik untuk mengurangi tenaga dan biaya pemupukan. Cara yang paling sederhana adalah…
memanfaatkan masa bera.
Masa bera (fallow) adalah masa istirahat tanah. Lahan dibiarkan tidak diolah atau tidak ditanami selama waktu tertentu. Selama masa bera, tumbuhan liar akan dibiarkan tumbuh secara alami hingga terjadi penumpukan seresah terus menerus. Seresah tersebut menjadi sumber makanan bagi organisme tanah dan pada akhirnya terolah menjadi sumber hara di tanah. Selain itu, metode ini dapat memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah.
Masa bera sudah dikenal sejak sistem ladang berpindah. Masa bera diterapkan setelah 1-3 musim tanam, saat kesuburan tanah menurun, dan/atau gulma sulit diatasi, lahan diberakan selama 5—15 tahun. Kemudian, lahan dibersihkan kembali dengan sistem tebas dan digunakan untuk 1-3 musim tanaman pangan[3].
Tentunya waktu bera tradisional terlalu lama jika diterapkan saat ini. Untuk itu, petani melakukan modifikasi untuk mempersempit masa bero, seperti Sistem Amarasi di NTT[4] . Mereka membiarkan pohon lamtoro tumbuh di tanah yang akan ditanami Jagung. Pada waktu persiapan lahan (September—November), mereka menebas semua tegakan lamtoro. Kayunya diambil untuk kayu bakar, sementara daun dan ranting di sebar di permukaan tanah. Terkadang mereka membakar daun dan ranting sebelum disebar, untuk mempercepat pengembalian unsur hara. Saat musim hujan, para petani menyebar benih lamtoro bersamaan dengan penanaman Jagung. Mereka akan menebang pohon lamtoro lagi untuk menyuburkan tanah pada beberapa musim tanam selanjutnya[5].
Di Pulau Jawa, petani memulihkan tanah dengan menanam legum pada lahan sawah yang kesuburannya berkurang. Tanaman legum (kacang-kacangan) memiliki bakteri pada bintil akar yang mengasimilasi gas nitrogen. Sebagian nitrogen tersebut nantinya dimanfaatkan oleh tanaman. Tanaman legum yang dapat digunakan antara lain kacang tanah, kara benguk, dan kudzu. Yang paling sering digunakan petani adalah kacang tanah.
Setelah satu atau dua musim tanam padi, biasanya petani akan mengistirahatkan sawah mereka dengan bertanam legum. Selain untuk mengembalikan kesuburan tanah, penanaman legum juga berfungsi memotong siklus hidup OPT (Organisme Pengganggu Tanaman).
Pengembalian unsur hara tanpa pupuk tentunya tidak secepat dan sebaik menggunakan pupuk. Mikronutrisi dan makronutrisi yang hilang setelah penanaman membutuhkan waktu lama untuk pengembalian. Sehingga, untuk mengejar kebutuhan produksi, petani tetap perlu menggunakan pupuk, walau pupuk tersebut bersifat organik.
Pupuk organik yang paling mudah didapatkan oleh petani dapat berupa pupuk kandang atau pupuk hijau (seresah panenan tanaman atau jerami padi). Petani juga dapat memanfaatkan limbah rumah tangga untuk dijadikan pupuk cair dengan cara mencampurkannya dengan air kelapa, air cucian beras, air gula, dan ragi tempe. Kemudian, membiarkannya dalam kadaan tertutup selama 2–3 minggu. 
Catatan Kaki

Sabtu, 14 September 2019

Cara pemupukan yang berimbang untuk padi sawah




Info Pertanian Online - Akhir-akhir ini berdasarkan hasil ubinan yang ada menunjukkan bahwa produksi yang telah dicapai pada saat ini tidak ada kenaikan produksi dibanding tahun-tahun yang telah lalu, boleh dikatakan produksinya menurun. Kenaikan produksi yang Nampak telah dicapai di tahun 1980 s/d 1985, pada saat itu kita telah mencapai swasembada beras, kita mampu mengexport beras kenegara yang membutuhkan. Adanya kecenderungan penurunan produksi, dapat diistilahkan gejala leveling of, dari hasil penelitian dari para ahli, kondisi ini diakibatkan oleh perlakuan pemupukan yang tidak rasional, kecenderungan pemupukan N yang berlebihan, tidak diimbangi dengan pemberian unsure yang lain yang cukup, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi hara tanah yang ada.

Kebutuhan Hara Tanaman

Tanaman memperoleh makanan dapat berasal dari udara , air, tanah, dan unsure-unsur organic sebagai contoh :

1.       Dari udara dan air tanah : Karbon (C ) Hidrogen ( H ), oksigen (O)
2.       Dari tanah, pupuk buatan dan kotoran hewan : Nitrogen (N), Pospor (P), Kalium ( K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Sulfur ( S ), Besi (Fe), Mangan (Mn), dan Klorin (Cl), Co ( Kobalt)
Unsur-unsur tersebut memiliki peranan sangat penting dalam kehidupan tanaman, masing-masing unsure memiliki fungsi yang spesifik dan tidak dapat digantikan oleh unsure yang lain. Dalam hal peningkatan produksi pertanian penggunaan pupuk berimbang sangat penting karena dengan pemberian pupuk yang mengandung unsure N, P, K, S. dapat meningkatkan produksi padi yang ada.                        

Pengertian Pupuk Berimbang


Pupuk berimbang adalah suatu cara pemberian pupuk makro (NPKS ) yang seimbang yang sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kandungan hara tanah, dengan tetap memperhatikan pemberian  unsure hara mikro yang lain. Untuk kebutuhan pupuk yang mengandung unsure N, P, K, S dapat diambil dari pupuk kimia, sedang unsure hara mikro dapat diambil dari pupuk organic/ kandang. Pemupukan berimbang yaitu pemberian berbagai unsure hara dalam bentuk pupuk untuk memenuhi kekurangan hara yang dibutuhkan tanaman berdasarkan tingkat hasil yang ingin dicapai dan hara yang tersedia dalam tanah. 

Fungsi & Manfaat Pemupukan Berimbang


a.       Pupuk Nitrogen (N) yang dapat berupa Amonium sulfat/ ZA (NH4)2SO4, Urea (CO (NH2)2), Amonium nitrat (NH4NO3).
Fungsi dari pupuk nitrogen antara lain :
-          Merangsang pertumbuhan akar, batang dan daun
-          Membuat warna daun lebih tampak hijau
-          Memperbanyak anakan
-          Memperbaiki mutu dan jumlah hasil

b.      Pupuk P ( Fosfor )
Yang termasuk pupuk ini adalah super pospat tunggal (ES), Double superfosfat (DS) dan Triple super fosfat (TSP ), pupuk fosfor sebetulnya juga larut dalam air tetapi tidak secepat pupuk  urea, pupuk ini berfungsi :
-          Memperpanjang pertumbuhan akar, sehingga tanaman mudah menyerap makanan
-          Menguatkan batang dan mempercepat proses pemasakan buah
-          Memperbaiki mutu dan jumlah hasil

c.       Pupuk K ( Kalium)
Yang termasuk dalam pupuk kalium adalah pupuk kalium tunggal antara lain kalium sulfat (ZK), kalium magnesium sulfat.
Fungsi kalium bagi tanman :
-          Memperbaiki pertumbuhan tanaman
-          Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama/penyakit
-          Memperbaiki mutu hasil

Dosis Pupuk Berimbang


Sebagai Pedoman : untuk setiap ton gabag yang dihasilkan tanaman padi membutuhkan hara N sekitar 17,5kg, P. seanya 3 kg dan K sebanyak 17kg. agar pemberian pupuk dapat efektif dan efisien penggunaan pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan ketersediaan hara dalam tanah. Kebutuhan N tanaman dapat diketahui dengan mengukur tingkat kehijauan warna daun (BWD ). Pemupukan P dan K disesuaikan dengan hasil analisis status hara tanah sawah dan kebutuhan tanaman
Kisaran dosis pemupukan berdasarkan Permentan No.40/OT.140/4/2007
1.       Apabila menggunakan pupuk tunggal


Pupuk
Tanpa Organik
Dengan Jerami
5 Ton/ha
Dengan organic 2 ton/ha
Urea
250-350
230-330
200-250
SP 36
50-100
50-100
25-75
Kcl
50-100
0-50
30-80


2.       Apabila menggunakan kombinasi pupuk tunggal dan pupuk majemuk Phonska

Pupuk
Dosis kg/ha
Dosis Kg/Ha
Dosis Kg/Ha
Phonska
200
250
300
Urea
185-285
170-270
150-250
Sp36
Kurang 15
s/d surplus P
Surplus P
Surplus P
Kcl
Kurang 50 s/d cukup K
Kurang 40 s/d Surplus K
Kurang 35 s/d Surplus K


3.       Anjuran waktu pemupukan
Pemupukan I : umur 0-14 hari setelah tanam
Pemupukan ke II : umur 21-28 hari setelah tanam
Pemupukan ke III : umur 35 hari setelah tanam hingga primordia

Sumber : https://wibowopenyuluh.blogspot.com/2015/06/pemupukan-berimbang-padi-sawah.html

Pasca Panen Padi Sawah



Sawasembada pangan akan sulit tercapai apabila tanpa usaha penanganan pasca panen yang baik, penanganan pasca panen mempunyai nilai ekonomis dan dampak social yang sangat luas. Pengertian pasca panen secara harfiah artinya setelah panen, lepas panen atau ada yang menyebutnya purna panen. Pengertian penanganan Pasca panen merupakan kegiatan yang dilakukan terhadap suatu komoditas hasil pertanian, segera setelah komoditas tersebut dipanen. Atau Pasca panen adalah segala kegiatan penanganan hasil setelah panen. Penangan pasca panen bertujuan untuk mengurangi susut baik jumlah maupun susut kwalitas. Dalam kegiatan penanganan pasca penen ini termasuk juga pengolahan yang sifatnya tidak merubah struktur asli komoditas tersebut. Misalnya gabah jadi beras.



B.     KOMPONEN HASIL TANAMAN PADI

Setiap tingkat pertumbuhan tanaman padi punya andil dalam hasil gabah, karena itu perlu pengelolaan yang baik pada seluruh tingkatan pertumbuhan tanaman, begitu juga factor lingkungan angat,berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.

1.      Benih

Varietas unggul baru biasanya adalah jenis malai banyak. Sedang varietas unggul type baru mempunyai kemampuan membentuk malai yang lebih banyak, kelas benih juga berpengaruh terhadap pembentukan malai yang ada

2.      Anakan

Jumlah anakan yang terbentuk menentukan terhadap jumlah malai, hal ini merupakan factor yang penting untuk mendapatkan hasil yang tinggi

3.      Pembentukan malai

Jumlah daun yang cukup menjamin terhadap banyaknya jumlah bulir dan untuk pengisian bulir. Jumlah bulir permalai ditentukan pada stadia primordia.

4.      Pembungaan

Suhu rendah dan intensitas cahaya matahari yang tersedia pada stadia pembungaan akan meningkatkan jumlah bulir- bulir yang tersedia, persarian akan menentukan perkembangan bulir menjadi gabah

5.      Pemasakan

Tingkat pemasakan ini menentukan berat gabah.faktor cahaya sinar matahari sangat menentukan bila cahaya penuh ada pada saat pembungaan sampai dengan pengisian malai,akan memberikan bobot yang maxsimal.

C.     TANDA-TANDA PADI DAPAT DIPANEN

Waktu tanaman padi sudah dapat dipanen apabila malai tingkat kemasakannya sudah optimal ( tidak terlalu masak dan tidak terlalu kering ) atau pada umur 33-36 hari sesudah berbunga merata ( 95% rumpun telah berbunga), cirri-ciri yang nampak, daun bendera mulai kuning serta sebagaian telah mati ( kering kecoklat2an ). Panen dilakukan pada saat gabah mencapai kadar air 22-29%, telah mencapai masak yang maxsimal. 


D.    KEHILANGAN HASIL

Besarnya tingkat kehilangan hasil panen padi sejak panen s/d siap dikonsumsi berkisar antara 10%-37%

No
Kegiatan
Perkiraan kehilangan hasil
1
Susut Panen
1 - 3 %
2
Suaut Perontokan
2,0-6,0 %
3
Susut pengeringan
1 – 5 %
4
Susut Penyimpanan
2 - 6 %
5
Susut penggilingan
2- 10 %
6
Susut angkutan
2-7 %
Besarnya susut
10- 37 &

E.     CARA MENEKAN KEHILANGAN HASIL

1.      Gunakan alat pasca panen yang tepat,  menggunakan sabit bergerigi, alas yang lebar, gunakan pedal treser/ power tresser
2.      Tanaman sudah cukup umur. Perhatikan umur pada masing-masing varietas
3.      Cara panen sebaiknya kelompok( 15-20 orang) yang dilengkapi dengan alat perontok ( pasca panen)
4.      Gunakan katong / waring yang masih baik, tidak berlubang.
5.      Gunakan alas pada saat mengangkut tanaman padi yang telah dipotong ketempat perontokan

F.      CARA PENYIMPANAN HASIL

1.      Untuk memperoleh beras dengan kwalitas yang tinggi perhatikan waktu panen, sanitasi dan kadar air gabah ( 12-14%)
2.      Simpan gabah/beras dalam tempat yang bersih dalam lumbung/gudang bebas hama dan memiliki sirkulasi udara yang baik.
3.      Simpan gabah pada kadar air kurang dari 14% untuk konsumsi dan untuk benih 13%
4.      Gabah yang sudah disimpan apabila mau digiling harus dijemur dahulu sampai kadar air mencapai 12-14%.
5.      Sebelum digiling, Gabah yang baru dikeringkan diangin-anginkan terlebih dahulu untuk menghindari butir pecah.
6.      Gudang yang menggunakan semen atau beton harus menggunakan alas kayu setinggi 15 cm dari lantai
7.      Fentilasi gudang harus cukup baik, dapat menyalurkan udara panas atau kelembaban dan dapat menjaga keseragaman suhu dan tingkat kelembaban tertentu.

sumber : https://wibowopenyuluh.blogspot.com/2015/06/pasca-panen-padi-sawah.html