Minggu, 22 Januari 2023

cara menanam kentang dihalaman rumah



Menanam kentang di halaman rumah dapat menjadi pilihan yang menyenangkan dan menguntungkan. Kentang adalah tanaman yang mudah ditanam dan dapat tumbuh dengan baik di berbagai jenis tanah. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat Anda ikuti untuk menanam kentang di halaman rumah Anda:

  1. Pilih lokasi yang tepat: Pilih lokasi di halaman rumah Anda yang terkenal cukup cahaya matahari dan memiliki drainase yang baik. Kentang memerlukan cukup cahaya matahari untuk tumbuh dengan baik, jadi pastikan Anda memilih tempat yang cukup terkena sinar matahari.

  2. Siapkan tanah: Kentang menyukai tanah yang lembab dan berdrainase baik. Sebelum menanam, pastikan tanah di lokasi yang Anda pilih sudah dibersihkan dari gulma dan diaduk dengan baik. Anda juga dapat menambahkan pupuk kandang atau kompos untuk memberikan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman.

  3. Pilih benih kentang: Ada dua jenis benih kentang yang dapat digunakan, yaitu benih kentang yang digunakan untuk pembibitan dan benih kentang yang digunakan untuk tanaman dewasa. Pilih benih kentang yang sesuai dengan tujuan Anda.

  4. Tanam benih: Benih kentang dapat ditanam langsung di tanah atau ditanam dalam pot terlebih dahulu sebelum ditransplantasikan ke tanah. Jika Anda memilih untuk menanam benih langsung di tanah, pastikan Anda menanam benih kentang pada jarak sekitar 20-30 cm satu sama lain dan sekitar 15 cm dalam tanah.

  5. Perlakuan harian: Setelah menanam, pastikan Anda memberikan air yang cukup dan memelihara tanaman dari serangan hama atau penyakit. Jangan lupa untuk membersihkan tanah dari gulma secara teratur.

  6. Panen: Kentang dapat dipanen setelah sekitar 2-3 bulan setelah tanam. Pastikan Anda menunggu hingga tanaman kentang mencapai ukuran yang cukup sebelum memanennya. Anda dapat mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memanen dengan melihat daun tanaman yang mulai layu atau mengering.

Menanam kentang di halaman rumah dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan dan menguntungkan.

Minggu, 29 September 2019

Cara budidaya ubi jalar

Cara budidaya ubi jalar

Ubi jalar atau ketela rambat diduga berasal dari Benua Amerika. Para ahli botani dan pertanian memperkirakan daerah asal tanaman ubi jalar adalah Selandia Baru, Polinesia, dan Amerika bagian tengah. Ubi jalar muulai menyebar keseluruh dunia, terutama negara-negara beriklim tropika, diperkirakan pada abad ke- 16. Penyebaran ubi jalar pertama kali terjadi ke spanyol melalui Tahiti, kepulauan Guam, Fiji, dan Selandia Baru.

Pada tahun 1960-amn penanaman ubi jalar sudah meluas hampir di semua provinsi di Indonesia. Daerah sentra produksi ubi jalar pada mulanya terpusat di Pulau Jawa, terutama Kabupaten Bogor, Garut, Bandung, Kuningan, Serang, Sukabumi, Purwakarta dll.

Pengertian Ubi Jalar

Dalam sistematika ( taksonomi ) tumbuhan, tanaman ubu jalar diklasifikasikan sebagai berikut :
  1. Kingdom    : Plantae
  2. Divisi          : Spermatophyta
  3. Subdivisi    : Angiospermae
  4. Kelas          : Dicotyledone
  5. Ordo           : Convolvulales
  6. Famili         : Convolvulaceae
  7. Genus         : Ipomea
  8. Spesies       : ipomea batatas L. Sin. Batatas edulis Choisy.

            Ubi jalar atau ketela rambat (Ipomoea batatas L.) adalah sejenis tanaman budidaya. Bagian yang dimanfaatkan adalah akarnya yang membentuk umbi dengan kadar gizi (karbohidrat) yang tinggi. Di Afrika, umbi ubi jalar menjadi salah satu sumber makanan pokok yang penting. Di Asia, selain dimanfaatkan umbinya, daun muda ubi jalar juga dibuat sayuran. Terdapat pula ubi jalar yang dijadikan tanaman hias karena keindahan daunnya.       

            Ubi jalar berasal dari Amerika Selatan tropis dan, yang masih diperdebatkan, Papua. Kalangan yang tidak menyetujui asal muasal ubi jalar dari Papua berpendapat bahwa orang Indian telah berlayar menuju ke barat melalui Samudra Pasifik dan membantu menyebarkan ubi jalar ke Asia. Proposal ini banyak ditentang karena bertentangan dengan fakta-fakta klimatologi dan antropologi.

            Ubi jalar dapat dibudidayakan melalui stolon/batang rambatnya. cara menanamnya cukup mudah, dengan mencangkul lahan yang mau ditanami sehingga stolon/batang rambat ubi jalar mudah dimasukkan dalam tanah. pemeliharaannya cukup mudah. ubi jalar akan tumbuh baik bila lahan terkena matahari langsung, pemeliharaan dari gulma untuk menghindari persaingan unsur hara disekitar tanaman. pemberian pupuk UREA atau Organik akan menambah hasil panen yang lebih bagus. Panen ubi jalar yaitu dengan mencangkuli sekitar tanaman,ini untuk mempermudah ubi rusak karena terkena cangkul atau alat pertanian. Tanaman ubi jalar termasuk tumbuhan semusim yang memiliki susunan tubuh utama terdiri dari batang, ubi, daun, bunga, buah.

1.     Batang

Batang tanaman berbentuk bulat, tidak berkayu, berbuku-buku, dan tipe pertumbuhan tegak atau merambat. Panjang batang tanaman merambat antara 2m-3m dan pada tipe tegak antara 1m-2m.ukuran batang dibedakan menjadi 3 macam yaiti : besar, sedang, dan kecil. Warna batang biasanya hijau tua sampai keungu-unguan.

2.     Ubi

Bentuk ubi biasanya bulat sampai lonjong dengan permukaan rata sampai tidak rata. Bentuk ubi yang ideal adalah lonjong agak panjang dengan berat antara 200g - 250g per ubi. Kulit ubi biasanya berwarna putih, kuning, ungu kemerah-merahan, struktur kulit ubi antara tipis sampai dengan tebal dan biasanya bergetah.

3.     Daun

Daun berbentuk bulat sampai lonjong dengan tepi rata atau berlekuk dangkal sampai berlekuk dalam, sedangkan bagian ujung daun meruncing. Helaian daun berukuran lebar, menyatu mirip bentuk jantung, namun ada pula yang bersifat menjari. Daun biasanya berwarna hijau tua atau hijau kekuning-kuningan.

4.     Bunga

Bunga ubi jalar berbentuk mirip “ terompet “ tersusun dari lima helai daun mahkota, lima helai daun bunga, dan satu tangkai putik. Mahkota bunga berwarna putih atau putih keungu-unguan. Bunga ubi jalar mekar pada pagi hari mulai pukul 04.00-11.00.bila terjadi penyerbukan buatan, bunga akan membentuk buah.

5.     Buah

Buah ubi jalar berbentuk bulat berkotak tiga, berkulit keras, dan berbiji.



Syarat Tumbuh Tanaman Ubi Jalar

1.     Keadaan Iklim

Tanaman ubi jalar dapat beradaptasi terhadap lingkungan tumbuh karena daerah penyebaran terletak pada 30º Lintang Utara dan 30º Lintang Selatan. Di Indonesia yang beriklim tropik, tanaman ubi jalar cocok ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 500 m dpl. Daerah yang paling ideal untuk mengembangkan ubi jalar adalah daerah bersuhu antara 21ºC - 27ºC, yang mendapat sinar matahari 11 – 12 jam/hari, berkelembapan udara ( RH ) 50% - 60%, dengan curahy hujan 750 mm – 1.500 mm per tahun.

2.     Keadaan tanah

Hampir setiap jenis tanah pertanian cocok untuk membudidayakan ubi jalar. Jenis tanah yang paling baik adalah pasir berlempung, gembur, banyak mengandung bahan organik, aerasi serta drainasenya baik, dan mempunyai derajat keasaman tanah (pH ) 5,5-7,5.


2.3  Teknik Budidaya Dan Pengolahan

1.     Penyiapan bibit

Tata cara penyiapan bibit ubi jalar
  1. Tentukan tanaman yang sudah berumur 2bln atau lebih, keadaan pertumbuhannya sehat dan normal
  2. Potong batang tanaman untuk dijadikan setek batang sepanjang 20cm-25cm dengan menggunakan pisau yang tajam, dan dilakukan pada pagi hari
  3. Kumpulkan setek pada suatu tempat kemudian buang sebagian daunnya untuk mengurangi penguapan yang berlebihan
  4. Ikat bahan tanaman  ( bibit ) rata-rata 100 setek/ikatan lalu simpan ditempat yang teduh selama 1-7 hari dengan tidak bertumpuk

2.     Penyiapan lahan

Penyiapan lahan bagi ubi jalar sebaiknya dilakukan pada saat tanah tidak terlalu basah atau tidak terlalu kering agar strukturnya tidak rusak, lengket ataukeras. Penyiapan lahan dapat dilakukan sebagai berikut :
  1. Tanah diolah terlebih dahulu hingga gembur, kemudian dibiarkan selama ±1 minggu. Tahap berikutnya tanah dibentuk guludan-guludan.
  2. Tanah langsung diolah bersama an dengan pembuatan guludan-guludan.
  3. Ukuran guludan disesuaikan dengan keadaan tanah. Pada tanah yang ringan  ( pasir mengandung liat ) ukuran guludan adalah lebar bawah ± 60cm, tinggi 30cm-40cm, dan jarak antara guludan 70cm-100c

3.     Penanaman

Tahap-tahap penanaman ubi jalar yaitu :
  1. Buat larikan-larikan dangkal arah memanjang disepanjang puncak guludan dengan cangkul sedalam 10cm, atau buat lubang dengan tugal, jarak antar lubang 25cm-30cm.
  2. Buat larikan atau lubang dengan tugal sejauh 7cm-10cm dikiri dan kanan lubang tanam untuk tempat pupuk
  3. Tanamkan bibit ubi jalar kedalam lubang hingga pangkal batang terbenam tanah ½ - ⅔ bagian, kemudian padatkan tanah dekat pangkal stek.
  4. Masukkan pupuk dasar berupa urea ⅓ bagian + TSP seluruh bagian + KCL ⅓ bagian dari dosis anjuran kedalam lubang kemudian tutup dengan tanag tipis-tipis.

4.     Pemulsaan

Pemberian mulsa jerami pada pertanaman ubi jalar dapat meningkatkan hasil ubi jalar, selain itu untuk menekan pertumbuhan gulma, menjaga kelembapan dan kesuburan tanah.

5.     Pemeliharaan tanaman

  1. Pengairan dilakukan selama 15-30 menit hingga tanah cukup basah, kemudian airnya dialirkan kesaluran pembuangan, pengairan dilakukan secara kontinu hingga tanaman berumur 1-2 bln. Pada periode pembentukkan dan perkembangan ubi, yaitu umur 2-3 minggu sebelum panen, pengairan dikurangi atau dihentikan. Waktu pengairan yang paling baik adalah pagi dan sore hari.
  2. Penyulaman dilakukan apabila ada bibit yang mati dengan cara mencabut bibit yang mati kemudian di ganti dengan bibit yang baru
  3. Pemupukan susulan dilakukan pada saat umur tanaman 45 hari setelah tanam
  4. Penyiangan dan pembumbunan dilakukan pada saat umur tanaman 1 bln setelah tanam kemudian diulang pada saat tanaman berumur 2 bln setelah tanam. Penyiangan dan pembumbunan dilakukan dengan cara membersikan gulma dengan cangkul, lalu gemburkan tanah disekitar guludan kemudian lakukan pengairan hingga tanah cukup basah.
  5. Pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan dengan cara kultur teknis diantaranya mengatur waktu tanam yang tepat,sanitasi kebun, dan pola pergiliran tanaman.

6.     Panen dan Pascapanen

a.     Panen

Tanaman ubi jalar dapat dipanen bila ubi-ubinya sudah tua. Kriteria ubi jalar matang fisiologis, antara lain, ialah bila kandungan tepungnya sudah maksimum ditandai dengan kadar serat yang rendah dan bila direbus rasanya enak serta tidak berair.
Penentuan waktu panen didasarkan atas umur tanaman. Jenis atau varietas ubi jalar berumur pendek dipanen pada umur 3-3,5 bln, sedangkan varietas berumur panjang sewaktu berumur 4,5-5 bln. Tata cara panen ubi jalar melalui tahap-tahap sebagai berikut :

  • Tentukan pertanaman ubi jalar yang telah siap dipanen
  • Potong batang ubi jalar dengan menggunakan parang atau sabit, kemudian batang-batangnya disingkirkan keluar petakan sambil dikumpulkan
  • Galilah guludan dengan cangkul hingga terkuak ubi-ubinya
  • Ambil dan kumpulkan ubi jalar di suatu tempat pengumpulan hasil
  • Bersihkan ubi dari tanah atau kotoran dan akar yang masih menempel
  • Lakukan seleksi dan sortasi ubi berdasarkan ukuran besar dan kecil ubi secarah terpisah dan warna kulit ubi yang seragam
  • Masukkan ubi kedalam wadah atau karung goni, lalu angkat ketempat penampungan hasil.


b.     Pascapanen

Penanganan pascapanen ubi jalar biasanya ditujukan untuk mempertahankan daya simpan. Penyimpanan ubi jalar yang paling baik dilakukan dalam pasir atau abu. Tata cara penyimpanan ubi jalar dalam pasir atau abu adalah sebagai berikut :
  • Angin-anginkan ubi yang baru dipanen di tempat yang berlantai kering selama 2-3 hari
  • Siapkan tempat penyimpanan berupa ruangan khusus atau gudang yang kering, sejuk, dan peredaran udaranya baik.
  • Tumpukkan ubi di lantai gudang, kemudian timbun dengan pasir kering atau abu setebal 20cm-30cm hingga permukaan ubi tertutup.

Pemasaran Atau Penjualan

            Setelah ubi jalar diolah dan di kemas menjadi sebuah produk, saatnya untuk dipasarkan atau dijual. Dalam pemasaran, kita dapat membidik kalangan-kalangan anak-anak, remaja, dan orang tua yang ada di lingkungan sekolah dan asrama SMA Lokon St. Nikolaus, Tomohon, untuk dapat membeli produk yang telah siswa hasilkan

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat kami ambil dari isi makalah ini ialah melalui makalah ini kami dapat lebih mengenal lagi cara penanaman atau budidaya serta manfaat dari tanaman ubi jalar. Melalui makalah ini, semoga kami dapat melakukan atau melaksanakan praktek penanaman ubi jalar, sehingga kami juga dapat membantu membudidayakan tanaman ubi jalar.

Kami juga dapat menyimpulkan bahwa ubi jalar itu sangat penting dan bermanfaat bagi kehidupan. Ubi jalar sangat penting dalam rantai makanan dan dalam penyediaan vitamin bagi tubuh. Ubi jalar mempunyai banyak kandungan bergizi yang sangat berguna bagi tubuh makhluk hidup yang dapat memmberikan energi yang besar bagi tubuh. Oleh karena itu, kita semua harus selalu membudidayakannya dan melestarikannya, kita dapat memulainya dengan cara yang sederhana seperti menanam beberapa tanaman ubi jalar agar tanaman ubi jalar dapat terus di konsumsi.

Sumber :
http://kuantannet.blogspot.com/2016/12/makalah-budidaya-ubi-jalar.html

Sabtu, 28 September 2019

Pengaruh Iklim Dan Cuaca Terhadap Hama Dan Penyakit Pada Tanaman Tebu



Info Pertanian Online - Tebu (Saccharum officinarum Linn) adalah tanaman untuk bahan baku gula. Tanaman ini hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Tanaman ini termasuk jenis rumput-rumputan. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih 1 tahun. Di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatera.

Bentuk fisik tanaman tebu dicirikan oleh terdapatnya bulu-bulu dan duri sekitar pelepah dan helai daun. Banyaknya bulu dan duri beragam tergantung varietas. Jika disentuh akan menyebabkan rasa gatal. Kondisi ini kadang menjadi salah satu penyebab kurang berminatnya petani berbudidaya tebu jika masih ada alternatif tanaman lain. Tinggi tanaman bervariasi tergantung daya dukung lingkungan dan varietas, antara 2,5-4 meter dengan diameter batang antara 2-4 cm.

Tebu merupakan tumbuhan monokotil dari famili rumput-rumputan (Gramineae), Batang tanaman tebu memiliki memiliki anakan tunas dari pangkal batang yang membentuk rumpun. Tanaman ini memerlukan waktu musim tanam sepanjang 11- 12 bulan. Tanaman ini berasal dari daerah tropis basah sebagai tanaman liar.

Tabel 2 Klasifikasi Tanaman Tebu
Divisio
Spermatophyta
Subdivisio
Angiospermae
Kelas
Monocotyledoneae
Ordo
Graminalis
Familia
Gramineae
Genus
Saccharum
Spesies
Saccharum officinarum

Syarat Tumbuh Tanaman Tebu

a.        Kesesuaian Iklim

Tanaman tebu dapat tumbuh di daerah beriklim panas dan sedang (daerah tropik dan subtropik) dengan daerah penyebaran yang sangat luas yaitu antara 35o LS dan 39o LU. Unsur – unsur iklim yang penting bagi pertumbuhan tanaman tebu adalah curah hujan, sinar matahari, angin, suhu, dan kelembaban udara.

b.      Curah Hujan

Tanaman tebu banyak membutuhkan air selama masa pertumbuhan vegetatifnya, namun menghendaki keadaan kering menjelang berakhirnya masa petumbuhan vegetatif agar proses pemasakan (pembentukan gula) dapat berlangsung dengan baik. Berdasarkan kebutuhan air pada setiap fase pertumbuhannya, maka secara ideal curah hujan yang diperlukan adalah 200 mm per bulan selama 5 – 6 bulan berturutan, 2 bulan transisi dengan curah hujan 125 mm per bulan, dan 4 – 5 bulan berturutan dengan curah hujan kurang dari 75 mm tiap bulannya. Daerah dataran rendah dengan curah hujan tahunan 1.500 – 3.000 mm dengan penyebaran hujan yang sesuai dengan pertumbuhan dan kemasakan tebu merupakan daerah yang sesuai untuk pengembangan tanaman tebu.

c.     Sinar Matahari

Radiasi sinar matahari sangat diperlukan oleh tanaman tebu untuk pertumbuhan dan terutama untuk proses fotosintesis yang menghasilkan gula. Jumlah curah hujan dan penyebarannya di suatu daerah akan menentukan besarnya intensitas radiasi sinar matahari. Cuaca berawan pada siang maupun malam hari bisa menghambat pembentukan gula. Pada siang hari, cuaca berawan menghambat proses fotosintesis, sedangkan pada malam hari menyebabkan naiknya suhu yang bisa mengurangi akumulasi gula karena meningkatnya proses pernafasan.

d.     Angin

 Angin dengan kecepatan kurang dari 10 km/jam adalah baik bagi pertumbuhan tebu karena dapat menurunkan suhu dan kadar CO2 di sekitar tajuk tebu sehingga fotosintesis tetap berlangsung dengan baik. Kecepatan angin yang lebih dari 10 km/jam disertai hujan lebat, bisa menyebabkan robohnya tanaman tebu yang sudah tinggi.

e.      Suhu

Suhu sangat menentukan kecepatan pertumbuhan tanaman tebu, sebab suhu terutama mempengaruhi pertumbuhan menebal dan memanjang tanaman ini. Suhu siang hari yang hangat atau panas dan suhu malam hari yang rendah diperlukan untuk proses penimbunan sukrosa pada batang tebu. Suhu optimal untuk pertumbuhan tebu berkisar antara 24 – 30 oC, beda suhu musiman tidak lebih dari 6o, dan beda suhu siang dan malam hari tidak lebih dari 100.

f.      Kelembaban Udara

Kelembaban udara tidak banyak berpengaruh pada pertumbuhan tebu asalkan kadar air cukup tersedia di dalam tanah, optimumnya < 80%.

g.     Kesesuaian Lahan

Tanah merupakan faktor fisik yang terpenting bagi pertumbuhan tebu. Tanaman tebu dapat tumbuh dalam berbagai jenis tanah, namun tanah yang baik untuk pertumbuhan tebu adalah tanah yang dapat menjamin kecukupan air yang optimal. Tanah yang baik untuk tebu adalah tanah dengan solum dalam (>60 cm), lempung, baik yang berpasir dan lempung liat.
Derajat keasaman (pH) tanah yang paling sesuai untuk pertumbuhan tebu berkisar antara 5,5 – 7,0. Tanah dengan pH di bawah 5,5 kurang baik bagi tanaman tebu karena dengan keadaan lingkungan tersebut sistem perakaran tidak dapat menyerap air maupun unsur hara dengan baik, sedangkan tanah dengan pH tinggi (di atas 7,0) sering mengalami kekurangan unsur P karena mengendap sebagai kapur fosfat, dan tanaman tebu akan mengalami “chlorosis” daunnya karena unsur Fe yang diperlukan untuk pembentukan daun tidak cukup tersedia. Tanaman tebu sangat tidak menghendaki tanah dengan kandungan Cl tinggi.
Daur kehidupan tanaman tebu melalui 5 fase, yaitu :

1.          Perkecambahan  

Dimulai dengan pembentukan taji pendek dan akar stek pada umur 1 minggu dan diakhiri pada fase kecambah pada umur 5 minggu.

2.           Pertunasan

Dimulai dari umur 5 minggu sampai 3,5 bulan.

3.          Pemanjangan Batang

Dimulai dari umur 3,5 bulan sampai 9 bulan.

4.          Kemasakan

Merupakan fase yang terjadi setelah pertumbuhan vegetatif menurun dan sebelum batang tebu mati. Pada fase ini gula di dalam batang tebu mulai terbentuk hingga titik optimal hingga berangsur-angsur menurun. Fase ini disebut juga fase penimbunan rendemen gula.

5.          Kematian

Tujuh varietas tebu unggul harapan yang diperkenalkan dinas perkebunan dapat dipakai sebagai alternatif pendamping mengungguli varietas lama yang masih dipertahankan yaitu PS 84-16029, PS 86-17079, PS 86-8680, PS 89-19137, PS 89-22513, PS 90-13156 dan PS90-9704

Hama Dan Penyakit Tanaman Tebu Serta Cara Pengendaliannya


Kesehatan tanaman menetukan pertumbuhan tanaman.  Tanaman tebu yang terinfeksi organisme pengganggu dapat berupa hama, penyakit dan gulma dapat dipastikan tidak akan tumbuh notmal.  Kesehatan penyakit diperhatikan sejak awal, dimulai dari penyediaan bahan tanaman sampai akhir menjelang panen.  Bahan tanaman merupakan sarana awal sering terjadinya infeksi organisme terutama penyakit dan larva hama.  Bahan tanaman yang terserang penyakit kalau tanaman tidak mengalami kematian lebih awal, penyakit tersebut akan terbawa  selama fase pertumbuhannya yang dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak normal.  Oleh karena itu, dalam pemilihan bibit sering dilakukan tahap sortasi, seleksi dan inspeksi kesehatan tanaman.

Tindakan penyehatan tanaman sering dilakuan melalui sanitasi kebun sebagai misal dengan melakukan pemeliharaan tanaman pada petak kebun dengan baik dan benar.  Salah satu faktor penghambat produksi gula adalah adanya serangan hama. Penyakit dan gulma. Upaya yang tepat pada perlindungan atau proteksi tanaman dapat menyelamatkan produksi gula kurang lebih 20 persen.
Beberapa macam hama yang sering dijumpai pada tanaman tebu adalah penggerek pucuk, penggerek batang, kutu bulu putih, tikus, uret dan babi hutan. Uret dan kutu bulu putih merupakan hama utama bagi tanaman tebu di lahan kering.

Penggerek pucuk. Hama ini berupa ulat yang menyerang pucuk tanaman sehingga mematikan titik tumbuh. Usaha pemberantasannya menggunakan insektisida carbofuran yang dapat diberikan dengan cara suntikan atau taburan.

Penggerek batang. Hama berupa ulat ini merusak ruas-ruas batang tebu sehingga pada serangan yang parah dapat merobohkan tanaman. Usaha pengendaliannya dapat dilakukan secara hayati dengan menggunakan parasit karawai Trichograma spp., dan parasit lalat Diatraeophaga striatalis.

Kutu bulu putih. Pada daun-daun yang mulai nampak ada kutu bulu putih segera dipangkas, dimasukkan ke dalam kantong plastic untuk dimusnahkan atau dibakar. Pada serangan yang sudah luas, pemberantasannya dapat menggunakan parasit Encarsia flavosculetan atau menggunakan insektisida sistemik misalnya formation 825 gr/ha atau dimetoat 1000 gr/ha.

Uret. Hama ini menyerang akar dan pangkal tanaman tebu. Tanaman yang terserang menampakkan gejala kelayuan daun. Pemberantasan uret dengan insektisida disarankan menggunakan carbofuran  3 persen sebanyak 50 kg/ha. Penggunaan insektisida yang mengandung senyawa BHC hanya diperbolehkan pada lahan yang tidak ditanami tanaman pangan. Disamping cara kimiawi, pengendalian hama uret dapat dilakukan secara mekanis dengan cara mengumpulkan uret dan imagonya. Penangkapan imago harus dilakukan sebelum imago sempat kawin. Berdasarkan siklus kehidupan uret, penangkapan imago dapat dilaksanakan pada bulan Oktober hingga Desember.

Di daerah dengan serangan hama uret kuat, dianjurkan penggunaan insektida yang berformulasi ”slow release”, antara lain dursban 14 S sebanyak 28 kg/ ha yang diberikan di dasar juringan sebelum tebu ditanam. Insektisida ini mampu mengendalikan uret selama tiga tahun tanpa merusak perakaran tebunya.

Tikus. Serangan tikus di daerah-daerah tertentu terjadi hampir setiap tahun, sehingga kemungkinan kerugian sangat besar. Pada daerah-daerah yang berbatasan dengan sawah perlu adanya kerjasama dengan petani padi untuk mengamati adanya serangan tikus pada tanaman padi. Segera setelah panen, dilakukan gropyokan dan pengasapan pada lubang-lubang persembunyian maupun pemasangan umpan beracun.

Beberapa penyakit yang biasa menyerang tanaman tebu antara lain penyakit mosaik, penyakit pembuluh, luka api (smut), blendok dan pokahbung.
Penyakit mosaik. Penyebab penyakit ini adalah virus mosaic. Tanda-tanda penyakit ini yaitu pada daun terdapat gambaran mosaik berupa garis-garis dan noda-noda berwarna hijau muda sampai kuning. Cara pencegahan yang telah dilakukan selama ini adalah dengan menggunakan bibit terseleksi yang berasal dari tanaman sehat dan dari varietas tebu yang tahan terhadap penyakit mosaik seperti Ps 56, F 154, F 156 atau M 442-51.

Penyakit pembuluh. Penyebab penyakit ini adalah bakteri Clavibacter xylisubsp xyli. Tanaman yang terserang menampakkan gejala pertumbuhan yang kurang sempurna terutama tanaman keprasan tampak kerdil. Gejala yang khas yaitu terlihat warna jingga kemerah-merahan pada berkas-berkas pembuluh batang tebu menjelang masaknya tebu. Cara pencegahan penyakit ini antara lain dengan melakukan deinfeksi alat pemotong tebu dengan lisol 20%, penanaman dengan menggunakan bibit sehat yang diperoleh dengan perawatan air panas terhadap bibit tebu pada suhu 50°C selama 2-3 jam.

Penyakit luka api (smut). Penyebabnya adalah Ustilago scitaminea Syd. Gejala penyakit ini timbulnya cambuk hitam pada pucuk tebu. Pencegahannya dengan menanam bibit yang sehat dan varietas yang resisten, bibit  didesinfeksi dengan 0,5 gr b.a./triadimefon.

Penyakit blendok. Tanda-tanda serangan penyakit yang disebabkan oleh sejenis bakteri ini yaitu apabila batang dibelah tanpak pembuluh-pembuluh berwarna kuning tua sampai merah tua. Usaha pencegahannya dengan deinfeksi pisau pemotong menggunakan lisol.

Penyakit pokahbung. Penyakit ini disebabkan oleh sejenis jamur dan terutama timbul di musim hujan. Tanda-tanda penyakit ini adalah pada daun muda terlihat memutih (chlorosis). Pada serangan yang parah, pusuk tanaman menjadi busuk, pembuluh tanaman menjadi tidak normal bentuknya (bengkok dan luka). Pemberantasan untuk tanaman yang telah terserang dengan cara disemprot bubur Bordo 1 % seminggu sekali.

Gangguan gulma dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar karena bisa menyebabkan penurunan bobot tebu. Pengendalian gulam disamping dengan cara manual ataupun kimiawi menggunakan herbisida, dapat pula dilakukan secara kultur teknis dengan menciptakan kondisi lingkungan yang dapat menekan pertumbuhan gulma atau dengan cara mekanis dengan pembajakan dan penggaruan. Keempat cara tersebut dalam pelaksanaannya dapat dilakukan secara terpadu. Usaha pengendalian gulma akan dapat memberikan hasil yang baik apabila pelaksanaannya tepat waktu, cara, alat maupun dosis dan jenis herbisida yang digunakan.


Kesimpulan
Faktor Iklim Sangat Berpengaruh Terhadap Perkembangan Hama Dan Penyakit Pada Tanaman Tebu. Beberapa Indikator Pendukungnya Adalah Curah Hujan, Sinar Matahari, Angin, Suhu Dan Sebagainya. Hama Dan Penyakit Yang Berkembang Diantaranya Adalah Penggerek Pucuk, Penggerek Batang, Kutu Bulu Putih ,Penyakit Mosaik, Penyakit Pembuluh, Penyakit Luka Ap,I  Penyakit Pokahbun.

Sumber : 
http://kuantannet.blogspot.com/2016/12/makalahpengaruh-iklim-dan-cuaca.html

Jumat, 27 September 2019

Cntoh Makalah Perladangan dan Pekarangan



Pekarangan adalah sebuah sistem taman hutan tropis di tempat-tempat tinggal yang berkembang di Indonesia, terutama Jawa. Pekarangan telah ada sejak beberapa milenium SM, namun catatan pertama dari pekarangan ditemukan dalam sebuah babad Jawa dari tahun 860 M. Wikipedia

BAB IPENDAHULUAN


1.1    Latar Belakang

Indonesia merupakan negara sangat luas dan merupakan negara maritim terluas di dunia, jumlah pulau Indonesia sebanyak 13.466 pulau dan luas lahan di Indonesia adalah 1.910.931,32 km2 yang terdiri dari yang terbentang dari sabang hingga merauke. Dari jumlah luasan tersebut yang menjadi lahan produktif bagi sektor pertanian adalah sekitar 7,75 juta hektar dari keseluruhan luas lahan di Indonesia. Jumlah ini tentu saja tidak cukup luas dibandigkan dengan luasan lahan produktif yang dimiliki dan juga jumlah penduduk yang mencapai 250 juta jiwa di tambaha lagi dengan peningkatan konversi lahan pertanian dari tahun ke tahun mencapai 80.000 hektar per tahunnya menjadi lahan yang non pertanian.
Jumlah produksi dari produk–produk pertanian semakin menurun, di karenakan alih fungsi lahan pertanian disatu sisi pertumbuhan penduduk terus meningkat, praktis hal ini akan berpengaruh terhadap jumlah permintaan pasar terhadap produk–produk pertanian. Beberapa upaya yang telah di lakukan oleh pemerintah adalah diantaranya dengan pembukaan lahan baru untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, sebagai upaya mendukung terhadap program pemerintah, sebenarnya banyak lahan tidur yang tidak termanfaatkan di daerah kota seperti pemanfaatan lahan di pekarangan rumah termasuk diantara lahan tidur yang masih belum termanfaatkan di karenakan kehidupan dan mobilitas dari penduduk kota sangat tinggi sehingga penduduk kota masih kurang sadar untuk memanfaatkan lahan di pekarangan di bandingkan dengan penduduk desa di karenakan mobilitas penduduk desa tidak terlalu tinggi di bandingkan di kota.


1.2    Rumusan Masalah

1.     Apa defenisi perladangan ?
2.     Apa defenisi pekarangan ?

1.3    Tujuan Makalah

1.     Untuk memenuhi tugas yang diberikan dosen pada mata kuliah agroekosistem.
2.     Untuk mengetahui defenisi perladangan cera luas.
3.     Untuk mengetahui defenisi dari pekarangan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


Perladangan masih merupakan cara hidup penting bagi sebagian masyarakat miskin dan terpencil di pedesaan. Transformasi perladangan sebagaimana yang terjadi di Sumatra, baik ke arah positif atau negatif, terjadi juga di daerah lain. Kiranya, akan lebih bermakna bilamana proses transisi pola perladangan secara gradual dan sistem agroforestry yang terbentuk dalam proses evolusi tersebut dibiarkan berjalan sesuai dengan harapan masyarakat lokal.

FAO (Food Agriculture Organisation) melihat peladang ini sebagai suatu bencana International yang perlu segera mendapat perhatian. Hal ini terbukti dengan diterbitkannya buku L ‘agriculture nomade pada tahun 1956 oleh G. Tondeur yang membicarakan masalah perladangan di Congo dan Afrika Barat, kemudian 1957 diterbitkan buku yang kedua, Hanunoo agriculture di daerah Philiphina oleh H.C. Conklin. FAO memberikan perhatian besar terhadapa persoalan ini dan telah mengambil inisiatif untuk menggalakkan studi tentang obyek ini melalui cabang kehutanan dan Industri Kehutannannya.

Tujuan FAO mengatasi perladangan adalah untuk mempropagandakan metode-metode pertanian-pertanian modern yang diharapkan dapat memperbaiki kualitas produksi yang berguna dan hasil-hasil hewan yang dapat diperoleh dari tanah-tanah yang tersedia. Keperluan utama didaerah tropik basah adalah intensifikasi pertanian dan penambahan hasil persatuan luas. Peralihan dari pertanian tradisional ke pertanian yang telah berkembang dengan baik seringkali amat sukar untuk dicapai, dan penggunaan metode-metode yang intensif di dalam keadaan ini seringkali berakhir dengan kegagalan.

Teknik-teknik perladangan sama saja dimana-dimana yakni penebangan dan pembakaran vegetasi berkayu diikuti dengan penanaman selama satu, dua, atau tiga tahun, kemudian tanah ditinggalkan dan kembali menjadi hutan atau tutupan belukar selama periode yang panjang. Selain kesamaan ini, perladangan mempunyai perbedaan-perbedaan dalam hal tipe dan kehidupan daripada peladangnya sendiri. Kemudian para peladang sangat berbeda dari satu tempat ketempat lain dimana perladangan tersebut tidak selalu mengarah ke kehidupan nomadik.

Di Indonesia, banyak dijumpai perladangan berpindah-pindah karena merupakan kebiasaan yang sudah menjadi adat, sudah menjadi way of life dari penduduk yang bersangkutan. Pandangan ini didasarkan pada pengamatan mereka, bahwa perladangan berpindah-pindah itu dilakukan oleh orang berabad-abad lamanya tanpa sesuatu perubahan yang berarti.

Tetapi menurut Soedarwono, Dosen Fakultas Kehutanan UGM, penyebab adanya perladangan berpindah di Indonesia bukan karena adatnya sudah begitu. Perladangan berpindah, sesuatu bentuk pertanian yang resultante dari pengaruh alam lingkungan yang memaksa manusia bertindak menyesuaikan diri.

Lahan adalah suatu lingkungan fisik terdiri atas tanah, iklim, relief, hidrologi, vegetasi, dan benda-benda yang ada di atasnya yang selanjutnya semua faktor-faktor tersebut mempengaruhi penggunaan lahan. Termasuk di dalamnya juga hasil kegiatan manusia, baik masa lampau maupun sekarang (FAO. 1975, dalam Arsyad, 1989).

Penggunaan lahan (land use) dapat diartikan sebagai campur tangan manusia terhadap lahan, baik secara menetap maupun berkala untuk memenuhi kebutuhan hidup baik material maupun spiritual (Arsyad, 1989, Talkurputra, et.al.1996).

Penggunaan lahan dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan besar,yaitu penggunaan lahan pertanian dan penggunaan lahan bukan pertanian. Penggunaan lahan pertanian dibedakan secara garis besar ke dalam macam penggunaan lahan berdasarkan penyediaan air dan lahan yang diusahakan. Berdasarkan hal itu dikenal macam penggunaan lahan seperti sawah, tegalan, kebun, kebun campuran, lalang, perkebunan dan hutan. Penggunaan lahan bukan pertanian dapat dibedakan ke dalam penggunaan kota atau desa (pemukiman), industri, rekreasi dan sebagainya (Arsyad, 2000).

Hasil penelitian yang dilakukan Suharto (1994) tentang optimalisasi alokasi penggunaan lahan di DAS Solo Hulu, Jawa Tengah, ditinjau dari segi erosi,sedimentasi, dan debit menunjukkan erosi yang terbesar terjadi pada penggunan lahan tegalan buruk, Kemudian diikuti oleh lahan pekarangan, lahan tegalan baik, lahan hutan, dan yang paling rendah lahan sawah


BAB III
PEMBAHASAN


3.1  Defenisi Perladangan

A.    Pengertian Perladangan
Berladang merupakan kegiatan bercocok tanam oleh sekelompok masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, hal ini sangat erat kaitannya dengan tradisi budaya. ‘Perladangan bergilir’ atau biasa dikenal dengan ‘perladangan berpindah’, adalah istilah lain yang menggambarkan masa tanam dan masa bera yang berlangsung secara bergiliran. ‘Sistem tebas dan bakar’, mengacu pada konsep ladang bergilir, yang dalam proses penyiapan lahan diawali dengan cara ‘tebas dan bakar’. Namun demikian, cara ini seringkali dihubungkan dengan pengrusakan atau perambahan hutan karena dilakukan dalam skala luas oleh perkebunan besar atau petani pendatang.

Istilah seperti berladang, perladangan bergilir, sistem tebas bakar, mengacu pada deskripsi aktivitas perladangan. Secara teknis, istilah-istilah tersebut memiliki makna dan arti yang nyaris serupa, namun memberi langgam dan pola yang berbeda. Perubahan praktek perladangan baik secara bertahap maupun langsung dapat menjadi ‘solusi’ atau ‘masalah’, tergantung dari persepsi mana kita melihatnya. Seperti halnya dengan negara lain, dewasa ini, masalah ‘perladangan’ di Indonesia dipandang dari berbagai persepsi yang berbeda dan seringkali justru dianggap sebagai kegiatan yang melanggar hokum.

Perladangan berkembang menjadi tiga model, yaitu:

1.     ‘Agroforest’, dimana tanaman berkayu memiliki nilai yang sama bahkan bisa lebih tinggi daripada nilai tanaman pangan;
2.     Sistem pastura atau padang penggembalaan, dimana lahan didomestikasi untuk areal pakan ternak; atau
3.     Pertanian menetap sebagai bentuk intensifikasi pertanian. Misalnya penggunaan tanaman penutup tanah dari kelompok legum (kacang-kacangan) atau tanaman penyubur, penggunaan pupuk kandang yang dihasilkan dari padang penggembalaan, atau penggunaan pupuk kimia yang menggantikan fungsi masa bera sebagai unsur tambahan untuk mengembalikan kesuburan tanah. Sejumlah penelitian mengenai ‘perladangan’ difokuskan hanya pada fase tanam dan kesuburan tanah. Fase tanam diartikan sebagai fase penurunan kesuburan tanah, sebaliknya fase bera merupakan fase pemulihan kesuburan tanah.
langkah awal untuk memahami dinamika tersebut.
Sistem pertanian primitive subsistence farming hanya terdapat pada daerah-daerah dengan penduduk yang masih jarang sekali. Oleh karena mayoritas pembukaan lading dilakukan dengan cara membakar, selain menimbulkan kebakaran hutan dan polusi asap, kegiatan ini akan merusak lapisan humus. Walaupun demikian, keutnungannya terdapat penambahan unsur potash dalam tanah. Tanah hutan biasanya dibuka 3 atau 2 minggu sebelum musim penghujan.

B.    Masalah Perladangan dan Akibat yang Ditimbulkan
Pedidikan masyarakat hutan yang tergolong rendah dan sulitnya mencari mata pencaharian menyebabkan mereka memilih membuka ladang yang biayanya cukup murah dibandingkan dengan menanam atau menebang pohon karena pohon membutuhkan jangka tumbuh yang cukup panjang dan penjualan kayu terbilang sulit karena harus mempunyai izin penebangan. Perladangan liar  ini dapat merusak hutan karena jangka waktu rotasi perladangan yang dari waktu ke waktu semakin kecil menyebabkan tidak optimalnya regenerasi hutan.

Para ahli menyarankan bahwa regenerasi hutan sebaiknya dilakukan dalam periode 20 tahun. Selama peride tersebut, kondisi tanah secara alamiah dapat diperbaiki. Dengan kondisi sudah diregenerasi, tanah tersebut dapat dimanfaatkan lagi setelah masa regenerasi. Akan tetapi, sejalan dengan laju pertumbuhan penduduk yang semakin cepat, kebutuhan akan lahan garapan pun semakin mendesak. Tidak heran jika saat ini, periode regenerasi hutan dipersingkat menjadi 6 hingga 8 tahun bahkan kurang dari itu. Selain konsekuensi penurunan produktivitas tanah, perladangan liar juga mengakibatkan menurunnya luas hutan atau degradasi lahan hutan. Definisi degradasi agak bersifat subjektif  memiliki arti yang  berbeda tergantung pada suatu kelompok masyarakat. 

Rimbawan memiliki persepsi yang bervariasi terhadap arti degradasi. Sebagian mengatakan bahwa hutan yang  terdegradasi adalah hutan yang telah mengalami kerusakan sampai pada suatu  point/titik dimana penebangan kayu maupun non kayu pada periode yang akan datang  menjadi tertunda atau terhambat semuanya.  Sedangkan sebagian lainnya mendefinisikan hutan yang terdegradasi sebagai suatu keadaan dimana fungsi  ekologis, ekonomis dan sosial hutan tidak terpenuhi. Berkurangnya areal hutan diikuti pula dengan semakin gersangnya tanah, meluasnya populasi alang-alang, serta jenis rumput-rumputan lainnya yang sangat mudah terbakar di musim kemarau.

Masalah lainnya adalah masih banyak petani masih menerapkan sistem tebas bakar untuk membersihkan lahan di hutan meskipun pemerintah telah mencanangkan program ‘zero burning’ yaitu pembersihan lahan tanpa menggunakan api atau pembakaran. Dari sebuah studi yang dilakukan di Sumatera, dilaporkan bahwa keputusan petani untuk tetap melakukan proses pembakaran lahan disebabkan karena hal berikut:

1.      Merupakan cara yang paling efektif dan cepat dalam pembukaan lahan.
2.      Dapat menekan pertumbuhan gulma dan vegetasi liar lainnya, terutama pada siklus awal setelah penanaman tanaman pangan.
3.      Mengubah biomasa menjadi pupuk alami yang bermanfaat bagi tanaman dan tanah.
4.      Menggemburkan tanah, bibit tanaman menjadi cepat tumbuh.
5.      Merupakan cara yang efektif untuk membunuh hama dan pathogen.

Akibat sistem tebas bakar inilah maka terjadi ketidakseimbangan unsur hara karena hara mineral hilang selama masa pertanaman dan tidak dapat dipulihkan hanya dalam waktu yang singkat. Permasalahan mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi (REDD) di negara berkembang juga semakin hangat diperdebatkan sejak masyarakat global paham akan emisi dan perubahan iklim global. Tidak dapat dipungkiri bahwa 20% emisi gas rumah kaca global terjadi karena pola penggunaan lahan dan perubahan yang terjadi di beberapa wilayah tropis. Para peladang dianggap  sebagai penyebab degradasi hutan. Muncul juga kehawatiran penerapan REDD dapat membatasi ruang gerak masyarakat terhadap sumber daya yang mereka miliki.

Keterkaitan deforestasi, pembangunan dan kemiskinan sangat kompleks dan bersifat spesifik. Namun demikian, penggunaan api sebagai metoda pembersihan lahan disebut-sebut sebagai penyebab terjadin deforestasi. Meski demikian, pada kenyataannya perubahan penggunaan lahan tanpa menggunakan api dapat menyebabkan hilangnya persediaan karbon dalam jumlah besar. Larangan penggunaan api dapat berdampak serius pada kehidupan masyarakat. Selain itu perladangan berpindah dan kebakaran memiliki korelasi yang positif, karena musim berladang umumnya pada musim kemarau.  Hasil penelitian menunjukan bahwa pada setiap musim kemarau terjadi kebakaran dimana-mana karena dipicuh oleh aktivitas perladangan.

C.    Langkah-Langkah  Penanggulangan
Berkurangnya areal hutan diikuti pula dengan semakin gersangnya tanah, meluasnya populasi alang-alang, serta jenis rumput-rumputan lainnya yang sangat mudah terbakar di musim kemarau. Perladangan berpindah tanpa rotasi yang cukup dan melalui cara pembakaran lahan hutan akan mengakibatkan kerusakan keanekaragaman hayati serta sumberdaya tanah dan air (erosi, kesuburan tanah menurun, meningkatnya air permukaan, rusaknya habitat satwa, rusaknya habitat satwa, berubahnya ekosistem kawasan, pemadatan tanah), bencana lingkungan (banjir, longsor, kekeringan sumber air), perubahan iklim lokal (meningkatnya suhu, berkurangnya hujan, menurunnya kelembaban) serta pencemaran lingkungan.
   Bekas perladangan liar/areal terbuka ditandai dengan jenis-jenis vegetasi yang ada seperti alang-alang, sirih-sirihan, jenis Euphatorium dan Tremor. Salah satu salah bisa dilakukan untuk membuat lahan berpindah ini menjadi bisa layak kembali sebagai hutan adalah dengan merehabilitasi lahan tersebut dengan jenis pohon-pohon pionir setempat yang potensial untuk ditanam.

   Terdapat beberapa pendekatan untuk mengatasi degradasi dan mempercepat proses pemulihan ekosistem (recovery) :
a.      Pendekatan pertama adalah restorasi (restoration) yang didefinisikan sebagai upaya untuk memulihkan kembali (recreate) ekosistem hutan aslinya melalui penanaman dengan jenis tanaman asli yang ada pada kawasan atau lahan tersebutsebelumnya.
b.     Pendekatan kedua melalui rehabilitasi yang diartikan sebagai penanaman hutan dengan jenis asli dan jenis eksotik. Dalam hal ini tidak ada upaya untuk menrecreate ekosistem asli. Tujuannya hanyamengembalikan hutan pada kondisi stabil dan produktif. Oleh karena itu ekosistem hutan yang terbentuk adalah campuran termasuk jenis asli.
c.      Alternatif terakhir adalah reklamasi yang berarti penggunaan jenis-jenis eksotik untuk menstabilkan dan meningkatkan produktivitas ekosistem hutan.
Dalam hal ini tidak ada sama sekali upaya perbaikan biodeversitas asli dari suatu areal yang terdegradasi. Akan tetapi, masih ada kegiatan ladang berpindah yang mendukung keseimbangan ekosistem. Salah satu contoh kegiatan sistem perladangan berpindah yang tidak merusak hutan adalah yang dilakukan oleh orang dayak di kalimantan memberikan sebuah contoh terbaik di dunia tentang hubungan antara kebudayaan dengan alam, yang tampaknya melestarikan kedua belah pihak. Seperti pada sistem mereka dalam bercocok tanam dengan sistem rotasi panjang.

3.2  Pekarangan

A.    Pengertian Pekarangan
Menurut arti katanya, pekarangan berasal ari kata “karang” yang berarti halaman rumah (Poerwodarminto, 1976). Sedang secara luas, Terra (1948) memberikan batasan pengertian sebagai berikut:
“Pekarangan adalah tanah di sekitar perumahan, kebanyakan berpagar keliling, dan biasanya ditanami padat dengan beraneka macam tanaman semusim maupun tanaman tahunan untuk keperluan sendiri sehari-hari dan untuk diperdangkan. Pekarangan kebanyakan saling berdekaan, dan besama-sama membentuk kampung, dukuh, atau desa”.
Batasan pengertian ini, di dalam praktek masih terus dipergunakan sampai sekitar dua puluh tahun kemudian. Terbukti dari tulisan-tlisan Soeparma (1969), maupun Danoesastro (1973), masih juga menggunakan definisi tersebut. Baru setelah Soemarwoto (1975) yang melihatnya sebagai suatu ekosistem, berhasil memberikan definisi yang lebih lengkap dengan mengatakan bahwa:
“Pekarangan adalah sebidang tanah darat yang terletak langsung di sekitar rumah tinggal dan jelas batas-batasannya, ditanami dengan satu atau berbagai jenis tanaman dan masih mempunyai hubungan pemilikan dan/atau fungsional dengan rumah yang bersangkutan. Hubungan fungsional yang dimaksudkan di sini adalah meliputi hubungan sosial budaya, hubungan ekonomi, serta hubungan biofisika”. (Danoesastro, 1978).

B.    Dari Segi Sosial Budaya
Ditinjau dari segi sosial budaya, dewasa ini nampak ada kecenderungan bawa pekarangan dipandang tidak lebih jauh dari fungsi estetikanya saja. Pandangan seperti ini nampak pada beberapa anggota masyarakat pedesaan yang telah “maju”, terlebih pada masyarakat perkotaan. Yaitu, dengan memenuhi pekarangannya dengan tanaman hias dengan dikelilingi tembok atau pagar besi dengan gaya arsitektur “modern”.

Namun, bagi masyarakat pedesaan yang masih “murni”, justru masih banyak didapati pekarangan yang tidak berpagar sama sekali. Kalaupun berpagar, selalu ada bagian yang masih terbuka atau diberi pintu yang mudah dibuka oleh siapapun dengan maksud untuk tetap memberi keleluasaan bagi masyarakat umum untuk keluar masuk pekarangannya.

Nampaknya, bagi masyarakat desa, pekarangan juga mempunyai fungsi sebagai jalan umum antar tetangga, atar kampung, bahkan antar desa satu dengan yang lainnya.

Di samping itu, pada setiap pekarangan terdapat”pelataran” (Jawa) atau “buruan” (Sunda) yang dapat dipergunakan sebagai tempat bemain anak-anak sekampung. Adanya kolam tempat mandi atau sumur di dalam pekarangan, juga dapat  dipergunakan oleh orang-orang sekampung dengan bebas bahkan sekaligus merupakan tempat pertemuan mereka sebagai sarana komunikasi masa (Soemarwoto, 1978).

Jadi, bagi masyarakat desa yang asli, pekarangan bkanlah milik pribadi yang”eksklusif”, melainkan juga mempunai fungsi sosial budaya di mana anggota masyarakat (termasuk anak-anak) dapat bebas mempergunakannya untuk keperluan-keperluan yang bersifat sosial kebudayaan pula.

C.    Segi Ekonomi
Selain fungsi hubungan sosial budaya, pekarangan juga memiliki fungsi hubungan ekonomi yang tidak kecil artinya bagi masyarakat yang hidup di pedesaan. Dari hasil survey pemanfaatan pekarangan di Kalasan, disimpulkan oleh Danoesastro (1978), sedikitnya ada empat fungsi pokok yang dipunyai pekarangan, yaitu (Tabel 1): sebagai sumber bahan makanan, sebagai penhasil tanaman perdagangan, sebagai penghasl tanaman rempah-rempah atau obat-obatan, dan juga sumber bebagai macam kayu-kayuan (untuk kayu nakar, bahan bangunan, maupun bahan kerajinan).

Daftar berbagai macam tanaman di pekarangan petani di kelurahan Sampel, dikelompokkan menurut fungsina (Kecamatan Kalasan).


No
Golongan Tanaman
Macam Tanamannya
I
Sumber bahan makanan tambahan :
1.    Tanaman sayuran
2.    Buah-buahan
3.    Lain-lain

Ubikayu, ganyong, uwi, gembolo, tales,garut dll.
Mlinjo, koro, nangka, pete.
Pepaya, salak, mangga, jeruk, duku, jambu, pakel, mundu, dll.
II
Tanaman perdagangan
Kelapa, Cengkeh, Rambutan.
III
Rempah-rempah, obat-obatan.
Jahe, Laos, Kunir, Kencur, dll.
IV
Kayu-kayuan:
1.    Kayu bakar
2.    Bahan bangunan
3.    Bahan kerajinan

Munggur, Mahoni, Lmtoro.
Jati, Sono, Bambu, Wadang.
Bambu, Pandan, Dll.



Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebutlah, maka sampai pada kesimpulan bahwa bagi masyarakat pedesaan, pekarangan dapat dipandang sebagai “lumbung hidup” yang tiap tahun diperlukan untuk mengatasi paceklik, dan sekaligus juga merupakan “terugval basis” atau pangkalan induk yang sewaktu-waktu dapat dimabil manfaatnya apabila usahatani di sawah atau tegalan mengalami bencana atau kegagalan akibat serangan hama/penyakit, banjir, kekeringan dan bencana alam yang lain.

D.    Fungsi Hubungan Biofisika
Pada pandangan pertama, bagi orang “kota” yang baru pertama kali turun masuk desa, akan nampak olehnya sistem pekarangan yang ditanami secara acak-acakan dengan segala macam jenis tanaman dan sering pula menimbukan kesan “menjijikkan” karena adanya kotoran hewan ternak di sana sini. Namun, dalam penelitian menunjukkan, bahwa keadaan serupa itu adalah merupakan manifestasi kemanunggalan manusia dengan lingkungannya sebagaimana yang telah diajarkan nenek moyangnya.

Di daerah Sunda misalnya, tetapi terdapat pandangan ang oleh Hidding (1935) disebutkan:
“Manusia adalah bagian dalam dan dari satu kesatuan yang besar .Semua mempunai tempatna sendiri dari tidak ada sesuatu yang berdiri sendiri.

   Dalam teori kebatinan Jawa, disebutkan bahwa sesuatu yang ada dan yang hidup pada pokoknya satu dan tunggal. Bahkan, justru pola pengusahaan pekarangan seperti itulah ternyata, yang secara alamiah diakui sebagi persyaratan demi berlangsungnya proses daur ulang (recycling) secara natural (alami) yang paling efektif dan efisien, sehingga pada kehidupan masyarakat desa tidak mengenal zat buangan.

Apa yang menjadi zat buangan dari suatu proses, merupakan sumberdaya yang dipergunakan dalam proses berikutnya yang lain. Sebagai contoh, segala macam sampah dan kotoran ternak dikumpulkan menjadi kompos untuk  pupuk tanaman. Sisa dapur, sisa-sisa makanan, kotoran manusia dan ternak dibuang ke kolam untuk dimakan ikan. Ikan dan hasil tanaman (daun, bunga, atau buahnya) dimakan manusia, kotoran manusia dan sampah dibuang ke kolam atau untuk kompos, demikian seterusnya tanpa berhenti dan berulang-ulang.

Dengan demikian kalaupun dalam proses kemajuan peradaban manusia ada sesuatu yang perlu diperbaki seperti: pembuatan jamban
 Keluarga di atas kolam, sistem daur ulang yang tidak baik dan efisiensi harus tetap terjaga kelangsungannya.

E.     Dampak Modernisasi Yang Memprihatinkan
Tetapi sayang, berbaai fungsi dari pekarangan yang begitu kompleks dan mencakup banyak segi kehidupan manusia serta pelestarian lingkungan itu kan mengalami “erosi” yang memprihatinkan karena sering hanya dijadikan korban untuk memenuhi alasan “modernisasi”.

Proyek-proyek pembangunan industri dan prasarana lain di desa pinggiran sering kurang memperhitungkan bahwa, pembangunan kompleks perumahan karyawannya yang terlampau mewah dibandingkan dengan perumahan penhuni asli dan yang dipagar keliling rapat serta mewah pula itu merupakan isolasi bagi masyarakat penatang dengan lingkungannya yang bisa menimbulkan ketegangan sosial dan kriminalitas.

Lebih-lebih jika pembangunan itu sendiri membutuhkan tanah urug yang harus diambilkan dari tanah lapisan aas (top soil) pekarangan penduduk di sekitarnya. Penduduk asli tidak saja menjadi kehilangan “lumbung hidup” atau “pangkalan induknya” karena pekarangan dan tegalannya tidak produktif lagi, tetapi sekalgus kualitas lingkungannya menjadi rusak karena daur ualng idak lagi berlangsung lancar.

Pengaruh pembangunan yang kurang bijak, modernisasi perumahan yang mengganti  tanaman pekarangan menjadi tanaman hias dan agar hidup yang berubah menjadi tembol atau tulang besi, sebenarnya sangat disayangkan. Modernisasi memang harus tumbuh, tetapi bkan dengan merusak lingkungan hidup. Peningkatan kesejahteraan lahiriah memang salah satu tuntutan hidup, tetapi bukan dengan menciptakan masayarakat eksklusif yang mengisolir diri. Kurangnya halaman tempat bermain bagi anak-anak mungkin saja dapat dialihkan, tetapi keakraban anak-anak sekampung yang merenggang akan dapat berbalik menjadi iri dengki, dan dendam yang tersembuni. Itulah masalahnya.


BAB IVPENUTUP


4.1  Kesimpulan

Berladang merupakan kegiatan bercocok tanam oleh sekelompok masyarakat untuk memenuhi kebutuhan  hidupnya, hal ini sangat erat kaitannya dengan tradisi budaya. Pedidikan masyarakat hutan yang tergolong rendah dan sulitnya mencari mata pencaharian menyebabkan mereka memilih membuka ladang yang biayanya cukup murah  dibandingkan dengan menanam atau menebang pohon karena pohon membutuhkan jangka tumbuh yang cukup panjang dan penjualan kayu terbilang sulit karena harus mempunyai izin penebangan. Terdapat beberapa pendekatan untuk mengatasi degradasi dan mempercepat proses pemulihan ekosistem: Pendekatan pertama adalah restorasi, Pendekatan kedua melalui rehabilitasi dan Alternatif terakhir adalah reklamasi yang berarti penggunaan jenis-jenis eksotik untuk menstabilkan dan meningkatkan produktivitas ekosistem hutan.

Pekarangan adalah tanah di sekitar perumahan, kebanyakan berpagar keliling, dan biasanya ditanami padat dengan beraneka macam tanaman semusim maupun tanaman tahunan untuk keperluan sendiri sehari-hari dan untuk diperdangkan. Pekarangan kebanyakan saling berdekaan, dan besama-sama membentuk kampung, dukuh, atau desa”. Setelah itu Soemarwoto (1975) berhasil memberikan definisi yang lebih lengkap dengan mengatakan bahwa:

Pekarangan adalah sebidang tanah darat yang terletak langsung di sekitar rumah tinggal dan jelas batas-batasannya, ditanami dengan satu atau berbagai jenis tanaman dan masih mempunyai hubungan pemilikan dan/atau fungsional dengan rumah yang bersangkutan. Hubungan fungsional yang dimaksudkan di sini adalah meliputi hubungan sosial budaya, hubungan ekonomi, serta hubungan biofisika.

DAFTAR PUSTAKA

Godam64. 2009. Definisi/Pengertian Pertanian, Bentuk & Hasil Pertanian Petani - Ilmu Geografi. 2 April 2009.
Santoso, Urip. Dampak Perladangan Berpindah Bagi Kerusakan Ekosistem Hutan. http://uripsantoso.wordpress.com/2010/10/13/dampak-perladangan-berpindah-bagi-kerusakan-ekosistem-hutan/#more-1980.
Danoesastro, Haryono : “Tanaman Pekarangan dalam Usaha Meningkatkan Ketahanan Rakat Pedesaan”. Agro – Ekonomi. Hidding, K.A.H. : Gebruiken en Godsdients der Soendaneezen G. Kolff & Co. Hal. 24. Batavia. 1975.
Soemarwotto, O  : “Pegaruh Lingkungan Proyek Pembangunan”. Prisma, N.3 Juli 1975.
Terra, G.J.A. : Tuinbouw : Van Hall en C. Van de. Koppel : De Landbouw in de indische archpel.IIA, 1949. Terjemahan Haryono Danoesastro.