Selasa, 08 Oktober 2019

Teknologi Pengelolaan Ternak Sapi



Info Pertanian Online - Keberhasilan pemeliharaan sapi dipengaruhi beberapa hal diantaranya pemilihan sapi bakalan yang digunakan yaitu peranakan  Ongole  (lokal)  atau  sapi  bangsa lain dengan ciri-ciri yaitu ternak siap berproduksi minimal umur 3 tahun dengan bobot badan minimal 250 kg. bentuk tubuh ideal, kerangka besar/kuat, kesehatan ternak cukup baik, dan bebas penyakit. Perbaikan manajemen pemeliharaan dapat meningkatkan kualitas sapi Bali. Penampilan reproduksi sapi Bali  yang  dipelihara  secara  intensif  adalah umur  sapi  Bali  mengalami  berahi  pertama718,57 ± 12,65 hari, umur pertama melahirkan 1.104,51 ± 23,82 hari, calving interval 350,46 ± 27,98 hari, dan angka konsepsi sebesar 1,65 ± 0,87 (Siswanto et al., 2013).

Pengelolaan sapi secara intensif dengan memperhatikan aspek pakan (konsentrat dan jerami padi fermentasi), manajemen kandang kolektif, dan kesehatan hewan mampu meningkatkan average daily gain (ADG) 0,89 kg/ekor/hari selama periode penggemukan sapi, lebih tinggi daripada pola petani  yang  hanya  0,29  kg/ekor/hari.  ADG yang dihasilkan meningkat sekitar 0,6 kg/ekor/hari (67,42%), sehingga mampu menghasilkan ADG 0,29-0,89 kg/hari atau 87- 267   kg/ekor/tahun.  

Kegiatan  penggemukan sapi tidak hanya untuk pencapaian nilai ADG yang  tinggi  saja,  namun  bagaimana  ternak sapi  dapat  memanfaatkan jerami  padi  yang selama ini belum optimal, sehingga dapat menekan  biaya  produksi  dan  ramah lingkungan (Basuni et al., 2010b). Penanganan kesehatan ternak sangat penting untuk mengendalikan parasit, kesehatan reproduksi, dan  kesehatan  secara  umum.  Ternak  sapi perlu diberi obat cacing dan vitamin B- kompleks di awal pemeliharaan. Sapi yang terkena serangan cacing memiliki bobot tubuh yang sangat kurang, sehingga tidak berproduksi secara optimal.

Bioteknologi reproduksi berpengaruh terhadap 4 faktor utama yang menentukan perubahan genetik, yakni: 

  1. Intensitas seleksi,
  2. Laju reproduksi, 
  3. Tersedianya teknologi yang efisien dan secara sosial dapat diterima,  dan  
  4. Kondisi  keuangan  yang cukup tersedia. Manipulasi genetik merupakan satu-satunya bioteknologi yang dapat memenuhi pembentukan variasi genetik pada spsesies diantara keragaman mutasi alam, dengan meningkatkan jumlah yang akan diseleksi   atau   menghasilkan  spesies   baru yang belum ada sebelumnya.


Teknologi transfer embrio memungkinkan dapat dilakukannya perpaduan antara peningkatan akurasi dan intensitas seleksi pada tingkat inbreeding  yang  akan  mengurangi  interval antar generasi. Produksi embrio, cloning, dan teknologi transfer embryo merupakan metode baru dalam menentukan peningkatan mutu genetik pada sapi (Lubis, 2000). Menurut Mariyono dan Romjali (2007), produktivitas ternak dipengaruhi oleh faktor lingkungan sampai 70% dan faktor genetik hanya sekitar 30%.

Di antara faktor lingkungan tersebut, aspek pakan mempunyai pengaruh paling besar sekitar 60%. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun potensi genetik ternak tinggi, namun apabila pemberian pakan tidak memenuhi persyaratan kuantitas dan kualitas, maka produksi yang tinggi tidak akan tercapai. Kontribusi usaha tanaman padi dalam pengelolaan pakan  ternak  sapi  yaitu  limbah pertanian berupa jerami padi baik yang difermentasi  maupun  tidak.   Namun  jerami yang  tidak  difermentasi  tidak  dapat  dicerna oleh ternak dengan baik karena mengandung lignin dan hemiselulosa, seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya.

Menurut Prihartini  et  al.  (2009),  biodegradasi  lignin pada jerami bertujuan untuk menghilangkan lignin, meningkatkan kecernaan selulosa dan jumlah  protein,  sehingga  meningkatkan kualitas jerami sebagai pakan ternak. Prihartini et al. (2007), menemukan isolat bakteri TLiD dan BOpR mampu mendegradasi lignin dan organochlorin (lignolitik) dan spesifik tumbuh baik pada jerami padi. Fermentasi jerami padi dengan isolat TLiD dan BOpR dapat menurunkan kandungan lignin jerami padi sampai 100% pada fermentasi hari ke-7 dan meningkatkan protein kasar (PK) jerami padi.

Efisiensi    degradasi    isolat    tinggi    dimana degradasi lignin lebih tinggi dibandingkan selulosa. Menurut  Basuni  et  al.  (2010a),  sapi dipelihara di kandang kelompok, pakan berupa jerami  padi  fermentasi  dan  konsentrat diberikan 3% dari bobot badan. Ternak diberi pakan 2 kali/hari yaitu pagi dan siang hari. Pertambahan bobot badan dihitung dengan cara mengurangi bobot badan akhir  dengan bobot badan awal dibagi dengan jumlah hari antara kedua bobot badan.

Pengamatan terhadap pertambahan bobot hidup sapi juga dilakukan terhadap sapi bakalan yang dipelihara untuk digemukkan dan selanjutnya dijual, sehingga petani memperoleh keuntungan dari kelebihan pertambahan berat badan serta harga yang lebih tinggi pada sapi yang berat. Penimbangan dilakukan setiap bulan sekali untuk  mengetahui pertambahan bobot   badan,   tinggi   badan   dan   lingkar dadanya.

Pengembangan  sistem  usahatani SIPT perlu dilakukan melalui pendekatan kelompok. Cara ini dapat memudahkan pemerintah  dalam  memberikan  penyuluhan dan pelatihan selain mengintensifkan komunikasi di antara anggota kelompok maupun antara anggota kelompok dengan pemerintah (Basuni et al., 2010a). Penelitian komponen peternakan telah banyak dilakukan mulai sistem kandang, pemberian pakan, sistem  perkawinan,  dan  manajemen kesehatan ternak.

Bunch (2001), menyatakan bahwa jumlah komponen teknologi yang diperkenalkan perlu dibatasi sesuai dengan keinginan petani. Sebagian besar petani mempelajari keutungan teknologi, tingkat kerumitan, dan mudah tidaknya teknologi diterapkan. Komponen teknologi berupa kandang kawin, kandang pejantan, dan kandang penyapihan bagi petani kecil dengan tingkat   pemahaman   yang   relatif   rendah, menilai bahwa komponen teknologi tersebut memberikan tugas tambahan dari kebiasaan yang dilakukan dan menambah biaya pengeluaran.

Pengembangan komponen teknologi tersebut akan lebih efisien apabila diterapkan melalui kandang kumpul, namun sangat tergantung sumberdaya yang dimiliki kelompok peternak seperti sumberdaya lahan untuk kandang.

Selasa, 24 September 2019

Budidaya Ternak Sapi Simental, teknik budidaya



Info Pertanian Online - Sapi Simmental adalah bangsa Bos taurus (Talib dan Siregar, 1999), Sapi ini merupakan hasil persilangan antara sapi Jerman yang besar dan berkembang biak lebih kecil pribumi ke Swiss. Sapi Simmental namanya berasal dari nama daerah di mana ternak pertama kali dibiakkan yaitu Lembah Simme yang terletak di Oberland Berner di Swiss.  Sementara itu di Jerman dan Austria sapi simental dikenal dengan nama Fleckvieh, dan di Perancis sebagai Pie Rouge. 

Sejak berkembang biak di swiss kini sapi simmental telah menyebar dan berkembang biak dengan baik di seluruh enam benua. Jumlah total diperkirakan antara 40 sampai 60 juta sapi Simmental di seluruh dunia, dengan lebih dari setengah di Eropa. Penyebarannya sendiri dilakukan secara bertahap sampai akhir 1960-an.

Catatan menunjukkan bahwa beberapa sapi simmental yang diekspor ke Italia pada awal 1400-an. Selama abad ke-19, sapi simmental dibagikan melalui sebagian besar dari Eropa Timur, Balkan dan Rusia, akhirnya mencapai Afrika Selatan pada tahun 1895. Guatemala mengimpor sapi Simmental pertama ke belahan bumi Barat pada tahun 1897, berikutnya Brasil tahun 1918 dan Argentina pada tahun 1922. Pada tahun 1976 juga dikirim ke Republik Cina.

Sapi Simmental termasuk sapi tipe pedaging dan tipe perah, terkadang juga dimanfaatkan tenaganya dalam dunia pertanian.

Sapi Simmental di kalangan peternak populer dengan nama Sapi Metal, dan sebagian peternak atau pedagang sapi kadang salah dengan menyebutnya sapi limousin, bahkan ada yang menyebut sapi Brahman. Sapi Simmental adalah Bangsa Bos taurus (Talib dan Siregar, 1999), Sapi Simmental namanya berasal dari nama daerah di mana ternak pertama kali dibiakkan yaitu Lembah Simme yang terletak di Oberland Berner di Swiss.  

Sementara itu di Jerman dan Austria sapi simental dikenal dengan nama Fleckvieh, dan di Perancis sebagai Pie Rouge.  sekarang berkembang lebih Cepat di Benua Eropa dan Amerika, warna bulu coklat kemerahan (merah bata), dibagian muka dan lutut kebawah Serta Ujung ekor ber warna putih, sapi jantan dewasanya Mampu mencapai bobot badan 1150 kg sedang Betina dewasanya 800 kg.

Selama abad ke-19, sapi simmental dibagikan melalui sebagian besar dari Eropa Timur, Balkan dan Rusia, akhirnya mencapai Afrika Selatan pada tahun 1895. Guatemala mengimpor sapi Simmental pertama ke belahan bumi Barat pada tahun 1897, berikutnya Brasil tahun 1918 dan Argentina pada tahun 1922. Pada tahun 1976 juga dikirim ke Republik Cina.

Teknik Budididaya Ternak Sapi Simental


Penyiapan Sarana dan Peralatan

Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.

Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak. Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat.

Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahan-bahan lainnya. Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5×2 m atau 2,5×2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8×2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5×1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).

Kandang untuk pemeliharaan sapi harus bersih dan tidak lembab. Pembuatan kandang harus memperhatikan beberapa persyaratan pokok yang meliputi konstruksi, letak, ukuran dan perlengkapan kandang.

Konstruksi dan letak kandang

Konstruksi kandang sapi seperti rumah kayu. Atap kandang berbentuk kuncup dan salah satu/kedua sisinya miring. Lantai kandang dibuat padat, lebih tinggi dari pada tanah sekelilingnya dan agak miring kearah selokan di luar kandang. Maksudnya adalah agar air yang tampak, termasuk kencing sapi mudah mengalir ke luar lantai kandang tetap kering.

Bahan konstruksi kandang adalah kayu gelondongan/papan yang berasal dari kayu yang kuat. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat, tetapi agak terbuka agar sirkulasi udara didalamnya lancar. Termasuk dalam rangkaian penyediaan pakan sapi adalah air minum yang bersih. Air minum diberikan secara ad libitum, artinya harus tersedia dan tidak boleh kehabisan setiap saat. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang. Pembuatan kandang sapi dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah/ladang.

 Ukuran Kandang

Sebelum membuat kandang sebaiknya diperhitungkan lebih dulu jumlah sapi yang akan dipelihara. Ukuran kandang untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5 x 2 m. Sedangkan untuk seekor sapi betina dewasa adalah 1,8 x 2 m dan untuk seekor anak sapi cukup 1,5×1 m.

Perlengkapan Kandang

Termasuk dalam perlengkapan kandang adalah tempat pakan dan minum, yang sebaiknya dibuat di luar kandang, tetapi masih dibawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak/ tercampur kotoran. Tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi dari pada permukaan lantai.

Dengan demikian kotoran dan air kencing tidak tercampur didalamnya. Perlengkapan lain yang perlu disediakan adalah sapu, sikat, sekop, sabit, dan tempat untuk memandikan sapi. Semua peralatan tersebut adalah untuk membersihkan kandang agar sapi terhindar dari gangguan penyakit sekaligus bisa dipakai untuk memandikan sapi.

Pembibitan Ternak Sapi Simental

Syarat ternak yang harus diperhatikan adalah:
  • Mempunyai tanda telinga, artinya pedet tersebut telah terdaftar dan lengkap silsilahnya.
  • Matanya tampak cerah dan bersih.
  • Tidak terdapat tanda-tanda sering butuh, terganggu pernafasannya serta dari hidung tidak keluar lendir.
  • Kukunya tidak terasa panas bila diraba.
  • Tidak terlihat adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya.
  • Tidak terdapat adanya tanda-tanda mencret pada bagian ekor dan dubur.
  • Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit dan kerontokan bulu.
  • Pusarnya bersih dan kering, bila masih lunak dan tidak berbulu menandakan bahwa pedet masih berumur kurang lebih dua hari.


Untuk menghasilkan daging, pilihlah tipe sapi yang cocok yaitu jenis sapi Bali, sapi Brahman, sapi PO, dan sapi yang cocok serta banyak dijumpai di daerah setempat. Ciri-ciri sapi potong tipe pedaging adalah sebagai berikut:

a.      tubuh dalam, besar, berbentuk persegi empat/bola.
b.     kualitas dagingnya maksimum dan mudah dipasarkan.
c.      laju pertumbuhannya relatif cepat.
d.     efisiensi bahannya tinggi.

Pemeliharaan Ternak Sapi Simental

Pemeliharaan sapi potong mencakup penyediaan pakan (ransum) dan pengelolaan kandang. Fungsi kandang dalam pemeliharaan sapi adalah :

a.      Melindungi sapi dari hujan dan panas matahari.
b.     Mempermudah perawatan dan pemantauan.
c.      Menjaga keamanan dan kesehatan sapi.

Pakan merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan dan pembangkit tenaga. Makin baik mutu dan jumlah pakan yang diberikan, makin besar tenaga yang ditimbulkan dan masih besar pula energi yang tersimpan dalam bentuk daging.

a.      Sanitasi dan Tindakan Preventif

Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas.

b.     Pemberian Pakan

Pada umumnya, setiap sapi membutuhkan makanan berupa hijauan. Sapi dalam masa pertumbuhan, sedang menyusui, dan supaya tidak jenuh memerlukan pakan yang memadai dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Pemberian pakan dapat dilakukan dengan 3 cara: yaitu penggembalaan (Pasture fattening), kereman (dry lot faatening) dan kombinasi cara pertama dan kedua.

Penggembalaan dilakukan dengan melepas sapi-sapi di padang rumput, yang biasanya dilakukan di daerah yang mempunyai tempat penggembalaan cukup luas, dan memerlukan waktu sekitar 5-7 jam per hari. Dengan cara ini, maka tidak memerlukan ransum tambahan pakan penguat karena sapi telah memakan bermacam-macam jenis rumput.

Pakan dapat diberikan dengan cara dijatah/disuguhkan yang yang dikenal dengan istilah kereman. Sapi yang dikandangkan dan pakan diperoleh dari ladang, sawah/tempat lain. Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10% dari berat badannya dan juga pakan tambahan 1% – 2% dari berat badan. Ransum tambahan berupa dedak halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek, ampas tahu. yang diberikan dengan cara dicampurkan dalam rumput ditempat pakan.

Selain itu, dapat ditambah mineral sebagai penguat berupa garam dapur, kapus. Pakan sapi dalam bentuk campuran dengan jumlah dan perbandingan tertentu ini dikenal dengan istilah ransum. Pemberian pakan sapi yang terbaik adalah kombinasi antara penggembalaan dan keraman. Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi menjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam hijauan segar adalah rumput-rumputan, kacang-kacangan (legu minosa) dan tanaman hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput raja (king grass), daun turi, daun lamtoro.

Hijauan segar dapat diawetkan menjadi silase. Secara singkat pembuatan silase ini dapat dijelaskan sebagai berikut: hijauan yang akan dibuat silase ditutup rapat, sehingga terjadi proses fermentasi. Hasil dari proses inilah yang disebut silase. Contoh-contoh silase yang telah memasyarakat antara lain silase jagung, silase rumput, silase jerami padi, dll.


c.      Pemeliharaan Kandang

Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2 minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar. Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap.
Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.

Jenis-Jenis Penyakit Ternak Sapi Simental

Beragam faktor dapat mempengaruhi kesehatan sapi. Namun diantara beragam faktor tersebut, lingkungan dan penularan merupakan faktor yang paling banyak membuat ternak / sapi terserang penyakit. Mencegah lebih baik daripada mengobati, itulah yang harus kita garis bawahi. Untuk faktor lingkungan, layak kita perhatikan keadaan kelembaban kandang, kebersihan lantainya, posisi ventilasi dan aliran udara, apakah sinar matahari pagi masuk dengan baik ke dalam kandang atau tidak.

Lengah pada salah satu hal diatas, maka potensi keuntungan kita juga akan berkurang karena pengobatan sapi tidak semudah yang kita bayangkan, apalagi jika terlambat sapi bisa mati. Untuk mencegah semua kemungkinan tadi, kontrol yang ketat dan pengecekan setiap hari diperlukan. Oke, sobat ternak sapi, setelah memahami segala pencegahan dan diagnosa ringan tersebut, kita masuk pada pembahasan penyakit yang umum menyerang sapi secara mendetail.

Jenis - jenis penyakit yang rawan terjadi pada sapi saat proses penggemukan dan ternak kami jabarkan satu demi satu untuk memudahkan pembaca dalam memahami penyakit dan bakteri yang menyerang. Diantaranya kami pilih beberapa yang sering menjadi kendala. Informasi ini kami dapatkan dari berbagai sumber (dokter hewan, rekan peternak dan jurnal ilmiah). Selain penjabaran penyakit dan gejalanya, kami juga memberikan cara pengobatan dan pencegahannya, semoga dapat membantu sobat ternak yang sedang mengalami kendala tersebut.

a.      Penyakit Anthrax Pada Sapi dan Pengobatannya

Penyakit antrax adalah jenis penyakit yang sangat berbahaya dan dapat menular pada manusia. Biasanya kategori penyakit seperti ini disebut zoonosis. Nama lain dari antrax adalah radang limpa. Biasanya disebabkan oleh bakteri yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan minuman yang mengandung bakteri basillus anthracis. Selain melalui makanan yang tidak bersih tersebut, bakteri antrax bisa masuk ke dalam tubuh sapi lewat tanah yang tercemar bakteri dan masuk melalui pernafasan dan luka pada sapi.

Bakteri antrax adalah bakteri yang daya tahannya luar biasa, disinfektan dan panas terkadang tidak mampu melawan bakteri ini. Penyebarannya juga sangat cepat apabila sapi tersebut kurang makan dan kelelahan. Apalagi saat musim panas. Bila sapi sudah terkena antrax, sebaiknya kita tidak mendekat dan harus berhati - hati dalam penanganannya. Bakteri dapat menular pada manusia melalui luka, pernafasan (jika menghirup bulu sapi yang terserang).

Ciri dan Gejala antrax pada sapi umunya adalah sebagai berikut :
  • Sapi demam, lemah dan mudah jatuh/ambruk
  • Radang pada bagian limpa dan akhirnya sapi menjadi diare
  • Banyak pendarahan di beberapa bagian tubuh, biasanya berwarna hitam (pada lubang hidung dan mulut, pori - pori dan pada lubang anus sapi)
  • Nafas tersengah - sengah
  • Pembengkakan pada bagian bawah perut
  • Bila sudah akut, sapi akan mati mendadak


Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Antrax pada sapi :
  • Vaksinasi spora avirulen secara berkala tiap tahun pada sapi yang belum terkena
  • Pengecekan, pembersihan dan karantina jika pada suatu daerah sudah terkena antrax
  • Jangan memberi makan sapi dengan akarnya, biasanya hijauan. Berikan rumputnya saja
  • Jangan sering - sering kontak fisik dengan ternak jika tidak benar - benar darurat
  • Jika sapi sudah terkena, berikan antibiotik dengan spektrum luas seperti Penisilin G, Oxytetracyclin, Streptomycin
  • Hewan yang sudah mati jangan dibedah, jangan memegang langsung bagian luka. Langsung kubur saja bila perlu bakar bangkainya.


b.     Penyakit Scabies Pada Sapi dan Pengobatannya

Skabies biasa disebut kudis atau bulug/budug. Scabies juga merupakan penyakit zoonoisis dan dapat menular pada manusia. Biasanya disebabkan oleh alat dan kandang yang kotor. Kotoran tersebut terkadang mengandung tungau sarcoptes scabei. Ternak yang sehat biasanya tertular jika sudah terjadi kontak langsung dengan ternak/sapi yang terkena skabies. Biasanya hewan yang terserang skabies terkesan seperti hewan yang gatal - gatal.

Ciri dan Gejala Scabies pada sapi umumnya adalah :
  • Sapi sering menggigit bagian tubuhnya
  • Terkadang menggosok - gosokkan badannya pada kandang (seperti menggaruk - garuk)
  • Bulu rontok dan nanah mulau muncul pada bagian tubuh
  • Karena ini adalah penyakit kulit sapi, akan timbul kerak berwarna abu - abu pada bagian tubuh sapi dan kulit terkesan kaku


Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Skabies Pada Sapi :
  • Kandang usahakan berjauhan dengan rumah tinggal
  • Aliran udara dan sanitasi kandang usahakan bagus
  • Usahakan kandang sapi kering dan selalu bersih
  • Hewan yang terdiagnosa skabies harus dipisahkan dan dikarantina
  • Pengobatan yang aman biasanya dengan pemberian minyak kelapa dicampur dengan kapur barus kemudian gosokkan pada kulit yang terkena.
  • Serbuk belerang, dicampur dengan kunyit dan minyak kelapa yang sudah dipanaskan, gosokkan pada kulit sapi. Bisa juga digosok dengan air tembakau.
  • Sapi yang mati setelah terkena skabies tetap dapat dikonsumsi, hanya saja buang bagian yang terkena tungau. Sebaiknya berkonsultasi dulu dengan dokter hewan.

c.      Penyakit Cacingan pada Sapi dan Pengobatannya


Disebut pula helminthiasis. Penyakit cacingan merupakan penyakit yang paling sering menyerang ternak yang dipelihara secara tradisional. Dan tergolong penyakit yang mudah ditangani tergantung dengan banyak/sedikit-nya cacing dalam tubuh, jenis cacing yang menyerang (cacing hati, cacing pita, cacing gilig/nematoda)dan penanganan. Jenis cacing yang menyerang sapi sebenarnya sangat banyak jenisnya.  Proses pengobatan biasanya dilakukan dengan melumpuhkan cacing sehingga cacing yang mati tersebut akan ikut keluar melalui kotoran sapi.

 Ciri dan Gejala umum yang tampak saat sapi terserang cacingan :

  • Sapi tidak nafsu makan
  • Sapi terlihat kurus dari hari ke hari
  • Susah buang air besar / tidak teratur
  • Diare berkepanjangan dan mencret
  • Gerakan melemah dan mata sayu
  • Nafas terengah - engah
  • Hidung dan mulut mulai kering

Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Cacingan Pada Ternak :
  • Usahakan kandang tidak sering lembab
  • Jangan terlalu sering menggembalakan sapi karena kita tidak bisa mengontrol kebersihan rumput yang dikonsumsi oleh sapi
  • Sisa pakan di kandang jangan dibiarkan terlalu lama, segera buang atau olah menjadi pupuk tanaman
  • Berikan obat cacing secara rutin dan berkala (biasanya dua bulan sekali)
  • Obat yang biasanya digunakan oleh dokter hewan adalah dalam jenis benzimidazol, Imidathiazol dan Avermectin (konsultasi dengan dokter hewan sebelum menggunakan)
  • Pengobatan tradisional dengan pemberian daun / buah nanas. Terutama untuk melumpuhkan cacing nematoda. Untuk cacing lainnya, bisa diberikan bawang putih karena sangat efektif dan tidak terdapat efek samping.

d.     Penyakit Ingusan Pada Sapi dan Pengobatannya

Penyakit ingusan biasa disebut MCF (MALIGNANT CATHARRAL FEVER). Penyakit ini ditularkan melalui virus Gamma Herpesvirinae dan penularan virus dari ternak jenis domba. Biasanya menyerang sapi yang sering digembalakan bercampur dengan ternak lain seperti domba dan kambing.
Biasanya domba yang sudah terserang tidak menunjukkan gejala apapun, tetapi meninggalkan virus tersebut melalui bekas pakan yang telah dikunyah dan dimuntahkan kembali. Sapi yang memakan bekas makanan tersebut akan dapat terkena penyakit ingusan.

Ciri dan Gejala Ingusan pada sapi biasanya adalah :
  • Timbul cairan pada bagian hidung dan mata ternak, lama kelamaan akan berubah dari encer menjadi lebih kental
  • Ternak mulai terlihat meneteskan air liur
  • Bagian moncong kering dan terkadang keluar nanah
  • Ternak terdengar sulit bernafas dan gemetar
  • Bagian mata terlihat keruh dan cenderung memutih
  • Jika sudah parah kulit ternak seperti terkelupas
  • Sapi berjalan sempoyongan dan lemah, jaringan tubuh rusak dan sapi terlihat kurus
  • Jika dibiarkan maka sapi akan lumpuh total dan mati

Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Ingusan pada Sapi :
  • Jangan sering menggembalakan sapi bersamaan dengan domba atau kambing
  • Jauhkan kandang sapi dari kandang domba yang baru datang dan belum divaksinasi
  • Kontrol kebersihan pakan yang akan dikonsumsi oleh sapi
  • Jaga kebersihan dan sanitasi kandang
  • Pisahkan dan karantina sapi yang terserang
  • Usaha yang bisa kita lakukan adalah dengan pencegahan infeksi dengan antibiotik sehingga gejala tidak meluas
  • Penyakit ini belum ada obat yang mampu menghilangkan secara keseluruhan, namun dapat hilang sendiri jika penanganan kita cepat dan sapi dipelihara dengan baik
  • Usahakan penanganan secara langsung setelah terlihat gejala ringan, biasanya 4 hari setelah terserang sapi akan semakin memburuk
  • Konsultasikan pada dokter hewan terkait pemakaian obat. Ingat, obati secara langsung setelah terlihat gejala ingusan, jangan terlambat.
  • Ternak yang mati tetap dapat dipotong dan dikonsumsi, namun bagian yang terinfeksi harus dibuang.

e.      Penyakit Ngorok Pada Sapi dan Pengobatannya

Biasa disebut Septichaemia Epizootic (SE) dalam istilah kedokteran. Disebabkan oleh kuman yang bernama Pastuerella multocida serotipe 6B dan Pastuerella multocida serotipe 6E. Biasanya menjangkit pada sapi yang kelelahan / letih. Cenderung menyerang sapi pekerja maupun sapi potong yang stress akibat terlalu banyak aktifitas dan kandang yang lembab atau kurang bersih.
Pakan yang buruk kualitasnya juga merupakan sarana penularan kuman ini. Penularan antar ternak biasanya melalui air liur, urine, makanan dan tanah yang terkontaminasi. Kondisi lingkungan yang dingin juga merupakan sarana untuk kuman tersebut berkembang.

Ciri dan Gejala Ngorok pada Sapi adalah :
  • Sapi sulit bernafas dan gemetar
  • Keluar air liur terus menerus
  • Suhu tubuh naik sampai 40 derajat celcius
  • Busung bagian kepala sampai leher bawah
  • Radang paru - paru, terlihat pada bagian dada karena sapi kurus
  • Selaput lendir me-merah

Pencegahan dan Pengobatan Sapi Ngorok :
  1. Karantina dan pemeriksaan sapi yang baru datang
  2. Vaksinasi rutin ternak dengan oil adjuvant tiap tahun
  3. Kandang selalu bersih dan diberi disinfektan
  4. Pengobatan yang umum dipakai adalah antibiotik Oxytetracyclin dan Streptomycin, pemakaiannya wajib konsultasi pada yang berpengalaman
  5. Karena yang terserang adalah bagian paru - paru, maka jika akan dipotong dan dikonsumsi kita buang bagian paru - paru nya
  6. Bangkai dan bagian yang terkontaminasi hendaknya dikubur atau dibakar

f.      Penyakit Demam Pada Sapi dan Pengobatannya

Demam ini umum disebut demam 3 hari. Istilah kedokterannya adalah Bovine Ephemeral Fever (BEF). Penyebab demam BEF ini adalah gigitan lalat Cullicoides sp dan nyamuk Culex Sp. Penyakit ini tergolong mudah diatasi dan tidak menular terutama bagi manusia.

Ciri dan Gejala Demam pada Sapi (BEF) adalah :

  • Sapi terlihat lemah dan lesu
  • Sapi demam tinggi dan terkesan pincang
  • Susah bergerak dan berdiri
  • Sesak dan gemetaran
  • Timbul cairan pada bagian hidung dan mata ternak
  • Nafsu makan menurun
  • Jika menjadi penyakit sapi perah, produksi susu akan menurun

Pencegahan dan Pengobatan demam pada sapi :

  • Lingkungan yang bersih
  • Penggunaan insektisida pada kandang
  • Berikan obat penurun panas dan usahakan sapi banyak minum air
  • Obat tradisional bagi BEF adalah pemberian gula merah dan garam dapur dan diminumkan pada sapi.
  • Tetap konsultasi pada dokter hewan untuk lebih baiknya.
  • Daging boleh dipotong dan dikonsumsi


g.     Penyakit Sapi Mubeng dan Pengobatannya

Penyakit sapi mubeng juga sering sekali menyerang sapi. Nama lain dari penyakit ini adalah penyakit surra. Cara kerja penyakit ini adalah dengan berkembangnya parasit dalam darah dan menurunkan kadar glukosa-nya. Sehingga kondisi tubuh sapi menjadi menurun, kurang nafsu makan, stress dan mudah letih. Penularanan parasit ini disebabkan oleh gigitan lalat haematophagus dan lyperosia dan aneka jenis kutu. Penyakit surra sering menyerang sapi pada musim hujan dimana kondisi kekebalan sapi sering turun dan melemah . Beberapa kasus bahkan dapat menewaskan ternak, terutama kerbau.

Ciri dan Gejala Sapi Mubeng adalah :

  • Gerakan sapi menjadi tidak aturan (sempoyongan, jalan berputar putar/mubeng) jika sudah parah sering kejang - kejang
  • Selput lendir menguning
  • Tidak nafsu makan dan bulu rontok
  • Demam dan cepat lelah

Pencegahan dan pengobatan Penyakit Sapi Mubeng :
  • Penyemprotan insektisida di kandang ternak (biasanya sejenis asuntol) untuk mencegah datangnya serangga penghisap darah.
  • Hindarkan kandang sapi dari tempat yang rawan menjadi sarang serangga (parit dan tempat lembab)
  • Sisa - sisa pakan ternak jangan sampai membusuk di kandang
  • Bila sapi luka, jangan sampai dibiarkan infeksi dan menjadi makanan bagi lalat
  • Karantina sapi yang sakit dan berikan obat berupa atocyl maupun artosol, namun dalam penggunaannya hendaknya melalui konsultasi dengan dokter hewan setempat


h.     Penyakit Sapi Kembung dan Pengobatannya

Seringkali saya mendengar keluhan peternak yang sapi-nya terkena penyakit kembung, dalam bahasa kedokteran biasa disebut bloat. Penyakit sapi kembung disebabkan oleh macetnya saluran gas dalam tubuh sapi, akibatnya pencernaan tidak lancar dan bagian perut rumen membesar. Ini dapat dilihat dari bagian perut sapi sebelah kiri, apabila sapi kembung pasti akan terlihat membesar. Penyebab utama sapi terserang kembung adalah rumput - rumputan yang basah, kurang berserat. Oleh karenanya seleksi hijauan mutlak diperlukan. Dan berikan prosentase hijauan jenis leguiminose maksimal lima puluh persen.

Ciri dan Gejala Sapi Kembung / Bloat :
  • Perut bagian kiri membesar karena gas tidak dapat keluar
  • Pernafasan terganggu karena organ pernafasan ditekan oleh membesarnya rumen
  • Gerakan kurang lincah dan sering terjatuh
  • Dalam kondisi parah, hewan bisa lumpuh dan mati

Pencegahan dan Pengobatan Kembung Pada Sapi :
  • Jangan biasa memberikan pakan rumput yang masih basah, terutama di pagi hari
  • Kurangi prosentase pemberian leguminose hijauan
  • Jerami kering berikan di pagi hari sebelum memakan hijauan jenis lain
  • Usahakan ternak banyak bergerak sehingga mengurangi gas pada lambung
  • Cara pengobatan yang biasa diberikan adalah anti bloat yang mengandung dimethicone dan minyak nabati yang berasal dari kacang tanah. Minyak nabati bisa disuntikkan pada sapi yang terkena bloat
  • Konsultasikan pada dokter hewan untuk penggunaan obat yang tepat

i.       Penyakit Kuku Busuk Pada Sapi dan Pengobatannya

Seperti namanya, penyakit kutu busuk berkembang di bagian kuku sapi. Sering disebut sebagai penyakit Foot Rot (Pembusukan kaki/kuku). Kuman fusiformis masuk ke dalam celah kuku sapi dan berkembang disana, bahkan daya tahan kuman tersebut semakin lama jika berada di dalam kuku sapi. Penyebab masuknya kuman ini adalah dimana kuku sapi terluka akibat hantaman benda keras di tempat yang kotor dan akhirnya kuman masuk dan berkembang pesat. Jika dibiarkan, kuman ini akan berkembang menjadi penyakit yang melumpuhkan sel - sel di telapak kaki sapi hingga sapi tidak dapat berjalan.

Ciri dan Gejala Kuku Busuk pada Sapi :
  • Celah kuku dan tumit terlihat membengkak
  • Keluar cairan kuning dan berbau busuk pada bagian kuku
  • Mengelupasnya selaput pada bagian kuku diakibatkan matinya jaringan sel pada bagian tersebut
  • Sapi terlihat pincang saat bergerak dan kesakitan

Pencegahan dan Pengobatan Kuku Busuk pada Sapi :
  • Jaga kebersihan kandang sehingga bakteri dan kuman sulit berkembang disana
  • Sering periksa kebersihan kuku sapi
  • Jika sudah terserang, segera rendam kaki yang terserang dengan larutan formalin sebanyak 10%
  • Untuk pengobatan dengan suntik, usahakan kaki sapi tetap kering dan disuntikkan larutan sulfat beserta antibiotik sesuai saran dokter hewan

5.     Panen

a.      Hasil Utama : Hasil utama dari budidaya sapi potong adalah dagingnya
b.     Hasil Tambahan : Selain daging yang menjadi hasil budidaya, kulit dan kotorannya juga sebagai hasil tambahan dari budidaya sapi potong.

6.     Pascapanen

a.      Stoving

Ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan sapi agar diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu:
·       Ternak sapi harus diistirahatkan sebelum pemotongan
·       Ternak sapi harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat mencemari daging.
·       Pemotongan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang diderita ternak diusahakan sekecil mungkin dan darah harus keluar secara tuntas.
·       Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah dan jenis mikroorganisme pencemar seminimal mungkin.
b.     Pengulitan
Pengulitan pada sapi yang telah disembelih dapat dilakukan dengan menggunakan pisau tumpul atau kikir agar kulit tidak rusak. Kulit sapi dibersihkan dari daging, lemak, noda darah atau kotoran yang menempel. Jika sudah bersih, dengan alat perentang yang dibuat dari kayu, kulit sapi dijemur dalam keadaan terbentang. Posisi yang paling baik untuk penjemuran dengan sinar matahari adalah dalam posisi sudut 45 derajat.
c.      Pengeluaran Jeroan
Setelah sapi dikuliti, isi perut (visceral) atau yang sering disebut dengan jeroan dikeluarkan dengan cara menyayat karkas (daging) pada bagian perut sapi.

 Kesimpulan

Sapi Simmental di kalangan peternak populer dengan nama Sapi Metal, dan sebagian peternak atau pedagang sapi kadang salah dengan menyebutnya sapi limousin, bahkan ada yang menyebut sapi Brahman. dalam teknik budidaya sapi simental ada beberapa poin yang harus kita perhatikan seperti Penyiapan Sarana dan Peralatan, Pembibitan, Pemeliharaan, Jenis-Jenis Penyakit, Panen, Pascapanen


DAFTAR PUSTAKA

  1. Abbas Siregar Djarijah. 1996, Usaha Ternak Sapi, Kanisius, Yogyakarta.
  2. Yusni Bandini. 1997, Sapi Bali, Penebar Swadaya, Jakarta.
  3. Teuku Nusyirwan Jacoeb dan Sayid Munandar. 1991, Petunjuk Teknis Pemeliharaan Sapi Potong, Direktorat Bina Produksi Peternaka
  4. Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta Undang Santosa. 1995, Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi, Penebar Swadaya,
  5. Jakarta.
  6. Lokakarya Nasional Manajemen Industri Peternakan. 24 Januari 1994,Program Magister Manajemen UGM, Yogyakarta.
  7. Kohl, RL. and J.N. Uhl. 1986, Marketing of Agricultural Products, 5 th ed, Macmillan Publishing Co, New York.

Minggu, 22 September 2019

Pengaruh Iklim Terhadap Peternakan Ayam



Info Pertanian Online - Pengaruh Iklim Terhadap Peternakan Ayam - Perubahan iklim global merupakan salah satu tantangan bagi manusia sebagai penghuni bumi. Manusia dapat memberikan  pengaruh  negatif atau positif terhadap kelestarian alam, tergantung pada aktivitasnya. Hal ini setara dengan pernyataan  Adhi (2010) yang menyatakan bahwa meningkatnya gas rumah kaca disebabkan oleh kegiatan manusia dalam memproduksi gas rumah kaca (GRK) lebih besar dari kemampuan lingkungan dalam memperbaiki dirinya. Secara alami, GRK dapat didaur ulang oleh lingkungan sehingga jumlahnya seimbang. 

Oleh adanya kegiatan manusia,GRK yang dihasilkan melebihi kemampuan lingkungan untuk mendaur ulang sehingga GRK terkumpul di atmosfir. Peningkatan emisi gas CO2, CH4 dan N2O di atmosfir menyebabkan berbagai masalah antara lain terjadinya perubahan sifat iklim yang berdampak pada perubahan cuaca.

Tahun 2006, Perserikatan  Bangsa-Bangsa mengeluarkan laporan berjudul Livestock’s Long Shadow yang disusul pada tahun 2008 dengan judulnya Kick the Habit. Pada kedua laporan masing-masing setebal 400-an dan 200-an halaman tersebut dikatakan bahwa industri peternakan menyumbang 18% GRK berupa karbondioksida (CO2), metana (CH4), dan dinitro oksida (N2O), jauh lebih besar dari sumbangan gas rumah kaca (karbondioksida) dari seluruh moda transportasi di dunia yang hanya 13,5%. Selain itu, perubahan tanah yang berhubungan dengan peternakan menambah 2,4 triliun ton CO2 ke udara setiap tahun. Sementara itu, penggunaan lahan dunia sangat tidak proporsional yaitu 15 juta km2 lahan pertanian untuk pangan sedangkan 30 juta km2 lahan untuk penggembalaan ternak (Fao, 2011).


Pemanasan Global Secara Umum


Pemanasan global adalah proses naiknya suhu rata-rata atmosfer, laut serta daratan bumi. Meningkatnya suhu tersebut menyebabkan bumi yang kita diami ini terasa lebih panas, dan saat siang hari kita merasakan panas yang berlebihan. Kenaikan suhu bumi ini dimungkinkan diakibatkan oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca akibat dari ulah dan aktivitas manusia itu sendiri. Dengan adanya global warming banyak sekali kerusakan yang dapat ditimbulkan, bukan hanya satu namun bisa mencapai seluruh struktur yang berada di bumi itu sendiri.

Selama abad terakhir, temperatur dunia telah meningkat sebesar 0,7 ° C. Variasi hujan turun dalam waktu dan ruang telah mengalami perubahan yang luas dan tingkat air laut naik sekitar 25 cm. Kenaikan suhu telah mempengaruhi sistem perkembangan makhluk hidup di bumi. Perubahan ini telah diamati dalam distribusi spesies, ukuran populasi, musim reproduksi dan migrasi hewan dan parasit kejadian yang lebih tinggi dan penyakit dalam sistem hutan (Watson, 2008). 

Beberapa contoh dapat diberikan, antara lain suhu rata-rata, sebagai akibat dari pemanasan global, diperkirakan akan meningkat sebesar 2,1°C in 2050 dengan penurunan tajam dari curah hujan dan peningkatan variabilitas iklim (GTZ, 2007). Wilayah selatan akan terkena kenaikan tertinggi suhu rata-rata dan akan menurun pada musim kemarau. Ketersediaan air akan menurun sebesar 28 % pada tahun 2030 hasil pertanian dihasilkan oleh lahan kering dan akan menurun sebesar 50 % pada tahun 2050. Daging sapi, produksi kambing dan domba akan sangat dipengaruhi terutama di pusat dan selatan dan kehilangan 80% dapat direkam selama tahun-tahun kekeringan.

1.     Teori Karbondioksida – Teori Efek Rumah Kaca


Karbondioksida merupakan salah satu gas yang menyusun atmosfer. Gas ini memiliki keistimewaan sifatnya sebagai penyaring energi radiasi, baik yang datang dari bumi maupun dari matahari. Energi radiasi dari kedua sumber tersebut dipancarkan dan menjalar dalam wujud gelombang yang tersusun dari berbagai panjang gelombang.

Kehadiran gas-gas dari atmosfer berperan penting sebagai penyaring terhadap beberbagai panjang gelombang ad:energi radiasi; sehingga energi radiasi yang paling banyak masuk dan sampai di bumi adalah energi radiasi dengan panjang gelombang  0,3 s.d 0,7  yang disebut sebagai gelombang sinar tampak. Energi radiasi dari bumi memiliki panjang gelombang >0,7 u. Energi dari matahari, selanjutnya, dikenal sebagai energi radiasi gelombang pendek, sedangkan yang datang dari bumi disebut sabagai energi radiasi gelombang panjang.

Gas CO2 memiliki sifat tembus oleh energi radiasi gelombang pendek asal matahari, akan tetapi menyerap energi radiasi gelombang panjang yang berasal dari bumi, dan di saat lain  memancarkan kembali energi yang diserap tersebut ke arah bumi;fenomena ini dikenal sebagai “green house effect” atau efek rumah kaca. Sebelum revolusi industri, konsentrasi CO2 di atmosfer diperkirakan 280 ppmv ( part per million volume ); hasil pengukuran pada tahun 1994, konsentrasi tersebut telah mencapai 360 ppmv ( peningkatan 1,3 kali ); konsentrasi ini akan terus meningkat mencapai 500 ppmv pada tahun 2050, dan 700 ppmv pada tahun 2100 ( IPCC,2001,dalam Rahardja, D.P. 2010.).

Sementara kehadiran CO2 telah banyak menyita perhatian, terdapat gas-gas pengisi atmosfer lain dengan konsentrasi yang lebih kecil tetapi memiliki potensi yang lebih tinggi sebagai gas rumah kaca, yaitu gas methan (CH4), nitrogen oksida (NO2), cholorofluorocarbon-11 dan 12  (CFC-11 DAN CFC-12. Publikasi IPCC (1990 dan 1992) pada tabel 1.1 mengungkapkan potensi gas-gas rumah kaca tersebut. Sebagai konsekuensi dari meningkatnya gas-gas efek rumah kaca tersebut di atmosfer adalah peningkatan suhu  global rata-rata, dan oleh karenanya fenomena ini dikanel pula sebagai “global warming”. Publikasi (moss,dkk,2000,dalam Rahardja, D.P. 2010.) memperkirakan bahwa sampai dengan tahun 2030, suhu global akan meningkat 0,5- 2,5°C.

Peningkatan konsentrasi gas-gas efek rumah kaca tersebut sangat  berkaitan dengan berbagai aktivitas yang dilakukan oleh manusia. Perihal yang menarik adalah bahwa aktivitas di bidang pertanian- termasuk peternakan memberikan kontribusi yang besar.

2.     Wilayah Tropis

Wilayah tropis adalah wilayah di antara 23,5°LU sampai 23,5°LS. Tetapi, batas daerah tropis bukan berupa garis lurus.  Indonesia merupakan salah satu negara beriklim tropis. Selain itu wilayah-wilayah yang lainnya  di belahan bumi barat, negara-negara yang termasuk  negara dengan iklim tropis adalah Meksiko, Amerika tengah, dan bagian atas amerika selatan, termasuk Kolombia, Ekuador, Peru, Bolivia, Venezuela, Guyana, utara Chile, Argentina, Paraguay, Dan Brasil. Salah satu ciri iklim tropis adalah terdapat dua musim utama sepanjang tahun, yakni musim hujan dan musim kemarau. Matahari bersinar  sepanjang tahunnya. Oleh karena itu, intensitas matahari cukup besar di daerah ini. Wilayah-wilayah di atas merupakan wilayah yang akan berdampak terparah apabila pemanasan global terjadi.

Dampak Pemanasan Global di Sektor Peternakan

Pengaruh pemanasan global terhadap produktivitas ternak dapat berdampak langsung dan tidak langsung. Pengaruh langsung meliputi : perubahan suhu tubuh yang mengakibatkan perubahan suhu darah yang memasuki daerah hipotalamus; dan juga perubahan suhu tubuh menyebabkan perubahan aktivitas metabolisme, produksi susu menurun dan timbulnya beberapa penyakit. Sedangkan pengaruh tidak langsung adalah perubahan nafsu makan atau konsumsi pakan, sehingga ketersediaan zat-zat pakan organik dan anorganik untuk produktivitas ternak berkurang dan proses fisiologi dalam tubuh.



Pengaruh Iklim Global Pada Ayam

Produktivitas ayam yang optimum dapat dicapai pada kondisi thermoneutral zone, yaitu suhu lingkungan yang nyaman. Suhu lingkungan yang nyaman bagi ayam buras belum diketahui, namun diperkirakan berada pada kisaran suhu 18 hingga 25 °C. Ayam pada suhu lingkungan yang tinggi (25-31 °C) menunjukkan penurunan produktivitas, yaitu produksi dan berat telur yang rendah, serta pertumbuhan yang lambat . Penurunan produksi telur pada suhu lingkungan tinggi dapat mencapai 25% bila dibandingkan dengan yang dipelihara pada suhu nyaman . Berat badan ayam buras umur 8 minggu juga berbeda, yaitu 257 g/ekor pada suhu tinggi, sedangkan pada lingkungan nyaman dapat mencapai berat 427 g/ekor. Penurunan produktivitas tersebut terutama disebabkan oleh penurunan jumlah konsumsi pakan, maupun perubahan kondisi fisiologis ayam.

Upaya meningkatkan produktivitas ayam di daerah suhu lingkungan tinggi antara lain melalui seleksi dan perkawinan silang, manipulasi lingkungan mikro, perbaikan tatalaksana pemeliharaan dan manipulasi pakan. Manipulasi kualitas pakan adalah metode yang paling murah, mudah dilakukan dan umumnya bertujuan meningkatkan jumlah konsumsi zat gizi . Metode ini berupa penambahan vitamin C, mineral phosphor atau pemberian sodium bikarbonat dalam ransum . Disarankan jumlah penambahan vitamin C sebanyak 200-600 mg/kg ransum pada fase produksi telur dan sebanyak 100-200 mg/kg ransum pada fase pertumbuhan.

Dalam kisaran suhu lingkungan optimum, ayam dapat menggunakan pakan lebih efisien, karena ayam tidak mengeluarkan energi untuk mengatasi suhu lingkungan yang tidak normal. Pada suhu lingkunganyang lebih - tinggi, ayam berusaha menjaga suhu tubuhnya dengan cara menyeimbangkan produksi panas dengan hilangnya panas, menggunakan bantuanalat-alat fisik dan mengubah-ubah sifat insulatif bulu .

Untuk mengatasi pengaruh iklim yang tidak dapat dikontrol, maka salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan manipulasi iklim mikro melalui rasionalisasi perkandangan. Menurut Austic dan Nesheim (1990), dalam pembuatannya kandang harus ditinjau dari tiga sudut pandang:

  1. Sebagai problem biologi
  2. Sebagai problem teknik dan
  3. Sebagai problem ekonomi. Artinya,

Peternak harus mengetahui kondisi suhu, kelembaban dan pergerakan udara yang ideal untuk produksi telur dan laju pertumbuhan yang maksimum. Demikian juga konstruksi kandang yang baik agar kondisi di atas dapat dikontrol pada suatu flock dengan jumlah ayam tertentu, batas maksimum atau minimum masing-masing faktor tanpa mempengaruhi produksi secara berarti, serta biaya konstruksi kandang haruslah dalam batas kewajaran (Austic dan Nesheim, 1990).

Dari segi konstruksi, menurut Abbas (1992) manipulasi perbaikan kandang haruslah memperhatikan lokasi, lebar kandang, bahan dan sistem atap yang digunakan, tipe dan susunan cage, penyinaran dan ventilasi dalam kandang. Lebar kandang hendaknya 4-8 m dengan bagian samping yang terbuka dan panjang dapat disesuaikan. Pembatasan lebar 4-8 m dimaksudkan agar aerasi dan pertukaran udara dalam kandang menjadi lancar. Kandang yang terlalu lebar akan menyebabkan pertukaran O2, CO2 dan amoniak (yang tidak boleh lebih dari 25 ppm) akan menjadi sukar.

Banyak penyusunan cage dalam kandang tidak boleh melebihi tiga tingkat, karena menyebabkan aerasi akan menjadi jelek. Alasan efisiensi penggunaan ruang kandang tidaklah tepat (Abbas, 1992).Sistem ventilasi harus sangat diperhatikan sekali. Hal ini penting, agar aliran udara bertambah selama periode panas. Dengan bertambah cepatnya udara dalam kandang, suhu dalam kandang menjadi berkurang. Jika pergerakan aliran udara sedikit (60 feet/menit atau lebih), suhu kandang adalah 90ºF dan ayam akan merasakan panas sebesar itu pula. Tetapi bila aliran udara 300 feet/menit, maka ayam akan merasakan panas hanya sebesar 67ºF. Sebaiknya fan ventilasi disediakan dalam kandang (Bokhari, 1993).

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah atap kandang hendaklah dibuat dengan sistem monitor, sebab panas dalam kandang dapat keluar melalui monitornya. Sehubungan dengan daya refleksi, bahan kandang hendaklah menggunakan bahan-bahan yang mampu memantulkan panas sebanyak mungkin. Untuk itu cat/pengapuran putih serta digunakannya atap asbes, genteng atau rumbia lebih baik  dari pada atap seng yang sekarang ini banyak digunakan oleh peternak (Abbas, 1992)

Selain manipulasi iklim mikro, dapat juga dilakukan  perbaikan manajemen  pada saat lonjakan suhu tinggi.  Penyesuaian dan perbaikan manajemen pada suhu lingkungan tinggi juga perlu mendapat perhatian, terutama menyangkut program vaksinasi , debeaking, litter, pemungutan telur, perbaikan kualitas air minum dengan selalu menyediakan air yang segar, pembuangan kotoran agar kadar amoniak tidak naik dan penambahan Ca dan P ekstra.


Kesimpulan


Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pemanasan global berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap produktivitas ternak. Pengaruh langsung meliputi; menurunnya produksi susu, timbulnya sumber-sumber penyakit, dan perubahan aktivitas metabolisme pada ternak. Sedangkan pengaruh tidak langsung meliputi perubahan nafsu makan atau konsumsi pakan sehingga berakibat kepada produktivitas ternak berkurang.

Dalam kisaran suhu lingkungan optimum, ayam dapat menggunakan pakan lebih efisien, karena ayam tidak mengeluarkan energi untuk mengatasi suhu lingkungan yang tidak normal. Untuk mengatasi pengaruh iklim yang tidak dapat dikontrol, maka salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan manipulasi iklim mikro melalui rasionalisasi perkandangan. Menurut Austic dan Nesheim (1990), dalam pembuatannya kandang harus ditinjau dari tiga sudut pandang sebagai problem biologi, sebagai problem teknik dan, sebagai problem ekonomi.

Selain manipulasi iklim mikro, dapat juga dilakukan  perbaikan manajemen  pada saat lonjakan suhu tinggi.  Penyesuaian dan perbaikan manajemen pada suhu lingkungan tinggi juga perlu mendapat perhatian, terutama menyangkut program vaksinasi , debeaking, litter, pemungutan telur, perbaikan kualitas air minum dengan selalu menyediakan air yang segar, pembuangan kotoran agar kadar amoniak tidak naik dan penambahan Ca dan P ekstra.

 Sumber : http://kuantannet.blogspot.com/2016/12/makalah-pengaruh-iklim-terhadap.html

Jumat, 20 September 2019

Pengolahan Jerami Dan Dedak untuk Pakan Sapi



Limbah pertanian (by-product) olahan memiliki kandungan protein 12% lebih tinggi daripada  kandungan  protein  rumput  sekitar 9%. Palatabilitas pakan olahan lebih baik karena   mengandung   molase   dan   pikuten (mineral komersial) (Sariubang, 2010). Limbah pertanian dapat diolah menjadi pupuk organik, pakan ternak, dan dedak sebagai berikut:

1.     Pengolahan Jerami Sebagai Pupuk.

Pembakaran jerami akan mengurangi unsur hara yang terkandung di dalamnya, sedangkan penelantaran jerami di lahan garapan meskipun unsur hara yang dikandungnya relatif masih tersedia, namun memerlukan waktu untuk cepat diikat oleh partikel tanah, sehingga proses penyuburan kembali   tanah   membutuhkan   waktu   yang cukup lama. Menurut Abdulrachman et al. (2013), pembuatan kompos jerami dapat dilakukan dengan dua cara:

1.    Ditumpuk dan dibalikkan, dan
2.    Ditumpuk dengan ventilasi tanpa dibalikkan, untuk mempercepat proses dekomposisi menggunakan dekomposer. 

Beberapa dekomposer komersial yang digunakan mengandung beberapa macam mikroba, misalnya M-Dec mengandung Trichoderma harzianum, Aspergillus sp., dan Trametes sp. Orgadec mengandung Trichoderma pseudokoningi, dan Cytophaga sp.EM-4 mengandung bakteri fotosintesis, asam  laktat,  Actinomycetes, ragi,  dan  jamur fermentasi.

Probion adalah bahan pakan aditif ternak yang dapat digunakan secara langsung sebagai bahan campuran pakan konsentrat atau meningkatkan kualitas jerami padi melalui proses fermentasi. Probion merupakan konsorsia mikroba dari rumen ternak ruminansia yang diperkaya dengan mineral esensial untuk pertumbuhan mikroba tersebut (Haryanto, 2012). Kompos yang telah matang ditandai dengan temperatur yang sudah konstan 40-50 oC, remah, dan berwarna coklat kehitaman. Kompos yang didapat sejumlah ± 500 kg dengan kualitas C-organik >12%, C/N ratio  15-25%, kadar air  40-50%, dan  warna coklat muda kehitaman.

2.     Pengolahan Jerami Sebagai Pakan Ternak Sapi

Potensi  limbah  pertanian  berupa jerami sangat berlimpah, namun belum dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. Kendala utama dari pemanfaatan jerami sebagai pakan ternak adalah kandungan serat kasar tinggi dan protein serta kecernaan yang rendah. Penggunaan jerami secara langsung atau sebagai pakan tunggal tidak dapat memenuhi pasokan nutrisi yang dibutuhkan ternak (Yunilas, 2009). Nilai gizi jerami dapat ditingkatkan melalui fermentasi probiotik dan hampir menyamai kualitas rumput gajah.

Jerami yang sudah difermentasikan harus disimpan   di   tempat   kering   agar   mutunya terjaga (Ibrahim et al., 2000). Jerami sebagai pakan ternak dapat mengefisienkan tenaga kerja untuk mencari rumput. Bahkan telah dilakukan penelitian dan pengkajian pemberian limbah pertanian jerami untuk ternak dengan menambahkan mikroba dan urea (Ibrahim et al., 2000). Menurut Haryanto et al. (2002), setiap   hektar   sawah   menghasilkan   jerami segar 12-15 ton/ha/musim dan setelah melalui proses fermentasi menghasilkan 5-8 ton/ha yang dapat digunakan untuk pakan 2-3 ekor sapi/tahun. Menurut Haryanto (2004), produksi jerami padi tersebut dapat memenuhi kebutuhan pakan ternak sebanyak 1.196.432 ekor/musim.

Menurut Syamsu (2006), komposisi nutrisi  jerami  padi  yang  telah  difermentasi dengan menggunakan starter mikroba (starbio) sebanyak 0,06% dari berat jerami padi, secara umum memperlihatkan peningkatan kualitas dibanding jerami padi yang tidak difermentasi. Kadar    protein    kasar    jerami    padi    yang difermentasi   mengalami   peningkatan   dari 4,23% menjadi 8,14% dan diikuti dengan penurunan kadar serat kasar.

Hal ini menunjukkan indikasi bahwa starter mikroba merupakan mikroba proteolitik yang menghasilkan enzim protease yang dapat merombak protein menjadi polipeptida yang selanjutnya menjadi peptide sederhana. Penggunaan   starter   mikroba   menurunkan kadar dinding sel jerami padi dari 73,41% menjadi 66,14%. Selama fermentasi terjadi pemutusan ikatan lignoselulosa dan hemiselulosa jerami padi.

Mikroba lignolitik dalam starter mikroba membantu perombakan ikatan lignoselulosa, sehingga selulosa dan lignin dapat terlepas dari ikatan tersebut oleh enzim lignase. Fenomena ini terlihat dengan menurunnya kandungan selulosa dan lignin jerami padi yang difermentasi. Lignin merupakan benteng pelindung fisik yang menghambat daya cerna enzim terhadap jaringan tanaman dan lignin berikatan erat dengan hemiselulosa. Di lain pihak dengan menurunnya kadar  dinding sel  menunjukkan telah terjadi pemecahan selulosa dinding sel sehingga pakan akan menjadi lebih mudah dicerna oleh ternak.

Hasil fermentasi jerami mampu meningkatkan kadar gizi yang dikandungnya sehingga diharapkan berdampak terhadap pertambahan  bobot  hidup  ternak.  Menurut Suyasa et al. (2004), sapi-sapi yang diberikan pakan tambahan seperti jerami dan probiotik mampu memberikan pertambahan bobot hidup 0,56-0,68  kg/ekor/hari lebih  tinggi dibandingkan cara petani. Untuk jerami fermentasi memiliki peluang sebagai pengganti rumput yang selama ini dimanfaatkan sebagai pakan utama ternak khususnya sapi, karena ke depan nampaknya lahan akan semakin sulit sedangkan di sisi lain ternak semakin dibutuhkan.

3.     Pemanfaatan Dedak sebagai Pakan Ternak

Dedak merupakan hasil sampingan proses penggilingan padi menjadi beras yang terdiri dari lapisan aleuron dan sebagian kecil endosperma, pericarp, pegmen, dan germ (Tangendjaja, 1988). Dedak dihasilkan sebanyak 8-10% dari berat padi yang digiling, sehingga ketersediannya cukup melimpah. Menurut Udiyono (1987), dedak padi secara kimiawi mengandung bahan kering 88,30%; serat kasar 15,30%; abu 9,90%, protein kasar 10,10%,   lemak   kasar   4,90%,   dan   BETN 48,10%.

Dedak  merupakan  sumber karbohidrat yang mudah tersedia dan sangat efektif dalam memperbaiki kualitas fermentasi dan jerami padi (Bolsen et al., 1996). Pemberian dedak dan probiotik bioplas pada induk bunting sapi lokal DAS Katingan dapat meningkatkan bobot badan induk sapi sekitar 0,5   kg/ekor/hari   dan   dapat   meningkatkan bobot lahir anak sekitar 10,5 kg dibandingkan kontrol 8,9 kg.

Konsumsi pakan meningkat sekitar 5,2 kg. Selain itu, pemberian dedak dan probiotik bioplas pada induk sapi lokal DAS Katingan dapat estrus kembali setelah 62 hari setelah melahirkan dibandingkan dengan kontrol sekitar 85 hari setelah melahirkan (Salfina, 2012).

Rabu, 17 Juli 2019

Usaha beternak ayam arab di lampung sumatera




Ayam arab merupakan keturunan dari ayam brakel kriel-silver dari Belgia. Disebut ayam arab karena dua hal: pejantannya memiliki daya seksual yang tinggi dan keberadaannya di Indonesia melalui telurnya yang dibawa oleh orang yang menunaikan ibadah haji dari Mekah. Wikipedia

Dengan melihat tren peningkatan kesadaran masyarakat akan kandungan gizi disetiap makanan yang mereka konsumsi, berdampak positif terhadap peningkatan permintaan telur ayam kampung. Peternak berusaha untuk meraup peluang tersebut namun terkendala oleh tingkat produktifitas ayam kampung yang selama ini mereka budidayakan yang rata-rata hanya memiliki produktifitas 30%.

Namun, Peternak ayam kampung kini bisa sedikit bernafas lega karena
telah hadir Ayam Kampung Arab yang telah terbukti memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai ayam kampung petelur. Produktifitas Ayam Kampung Arab boleh dibilang cukup tinggi jika dibandingkan ayam kampung biasa.

Produksi telur ayam arab rata-rata 50 sampai 60 % sedangkan ayam kampung biasa hanya mencapai 30% saja. Pada puncak produksi ayam kampung arab mampu berproduksi hingga 85%. Meski masih lebih rendah dibandingkan ayam petelur leghorn, namun peluang bisnis ayam arab petelur sangat baik, karena harga telur ayam kampung arab setara dengan ayam kampung biasa.

Keunggulan ayam kampung arab dibandingkan ayam leghorn adalah pada ukuran tubuh yang lebih kecil, ini akan berakibat pada konsumsi pakan yang lebih sedikit.

- Pola Pemeliharaan Ayam Arab Petelur
Pada budidaya ayam kampung arab, ada berbagai macam bentuk pola budidaya. Cara tradisional adalah dengan mengumbar ayam arab petelur dan bebas berkeliaran. Cara kedua adalah dengan model kandang terbatas, pola pemeliharaan ini bisa lebih terkontrol dibandingkan cara pertama. Ayam kampung arab petelur ditempatkan pada kandang batere tanpa pejantan, satu ayam satu kandang.

Kunci utama dari produktivitas ayam arab ini adalah pada masalah pakan. Kebutuhan gizi harus tercukupi, makanan ayam kampung arab boleh dibilang mudah, cukup dengan bekatul, jagung giling dan konsentrat petelur.

- Analisa Usaha Ternak Ayam Arab
Untuk memulai usaha ternak ayam kampung arab, anda dapat memulai dengan jumlah yang disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan. Analisis sederhana usaha ternak ayam arab dengan jumlah pemeliharaan 1000 ekor adalah sebagai berikut:

I. Biaya Investasi
- Bangunan dan Kandang Rp. 35.000.000, bisa dipakai 7 periode. Satu periode produktif ayam arab rata-rata 2 tahun.

- Investasi Ayam Arab Mulai Produksi Rp. 55.000 x 1000 = Rp.55.000.000
Total Investasi = Rp 90.000.000,-

- Setelah masa produksi ayam arab afkir masih bisa dijual sebagai ayam pedaging.

II. Biaya Pemeliharaan Harian Ayam kampung Arab
- Pakan Harian 85 gram x 1000 x Rp.6,5/gr = Rp.552.500
- Obat-obatan Rp.10 x 1000 = Rp.10.000
- Tenaga Kerja Rp.25.000
Total Biaya Harian Rp. 587.500

III. Pendapatan Harian Telur Ayam Arab
- Pendapatan telur : rata2 = 1.000e x 54% = 540 butir / hari.

IV. Perhitungan BEP Ternak Ayam Arab
Untuk menghitung nilai BEP atau nilai impas ternak ayam arab per harinya, maka harga jual telur ayam arab adalah sebagai berikut:
- Harga Jual Telur Minimal = Total Biaya Harian / Jumlah Produksi Telur Per hari
Rp. 587.500 / 540 butir = Rp. 1.087,-

Di pasaran harga telur ayam arab/ayam kampung lebih tinggi dari harga tersebut yang bisa mencapai Rp.1800 s/d Rp.2.000,-/butir. Untuk menghitung BEP dari keseluruhan biaya yang dikeluarkan, silahkan dihitung sesuai dengan harga telur di daerah masing-masing.

Bila menggunakan harga telur Rp.1.800,- saja, maka dapat diperoleh perhitungan
- Modal Harian = Rp.587.500,-
- Omzet Telur Harian = Rp.1.800,- x 540 butir = Rp.972.000,-
- Keuntungan Harian = Rp.972.000 - Rp.587.500,-  = Rp. 384.500,-/hari

Berarti dalam sebulan dapat diperoleh Laba sebesar = Rp.384.500,- x 30 hari = Rp.11.535.000,-

BEP = Rp.90.000.000,- : Rp.11.535.000 = 7,8 bulan = digenapkan 8 bulan

Berarti, hanya dalam waktu kurang dari setahun (8 bulan), peternak sudah bisa balik modal. Sehingga dibulan-bulan berikutnya, peternak dapat menuai keuntungan hingga Ayam Kampung Arab afkir atau kurang produktif lagi (produktif sekitar : 1,5 s/d 2 tahun) selanjutnya dapat dijual sebagai ayam kampung pedaging.

Peternak juga masih mendapatkan keuntungan berupa fasilitas kandang yang dapat dipakai hingga 6 periode pemakaian kedepan. Menarik bukan?

atau dengan modal yang lebih kecil bisa juga,
caranya dengan membeli DOC ayam arab lalu memeliharanya sampai umur 5 bulan (usia bertelur).
harga DOC ayam arab di lampung berkisar 9000/ekor.
untuk menyiasati biaya kandang, ayam arab juga bisa bertelur pada kandang biasa (kandang ngampar atau hanya dipagar keliling)

Jumat, 28 September 2018

Cara budidaya lele di lampung



Ikan lele tidak hanya masif di budidayakan di Pulau Jawa saja, kini sudah semakin banyak budidayanya di Sumatera salah satunyadi daerah Lampung. Budidaya lele di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu dan Pugung, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung terus berkembang. Bahkan produksi lele dari kedua kecamatan tersebut mampu menguasai pasar lokal dan juga dikirim ke berbagai daerah di Sumatera Selatan (Sumsel).
 
Karena itu para pembudidaya lele di daerah ini terus memacu produksi agar mampu memenuhi kebutuhan pasar. Apalagi belakangan harga jual lele stabil pada angka Rp15.500 hingga Rp16 ribu per kg sehingga pembudidaya bergairah menjalankan budidaya. Seperti yang dilakukan Hera Setiawan, pembudidaya lele dari Pekon (Desa-red) Rantau Tijang, Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus. Saat ini Hera membudidayakan lele di 19 unit kolam tanah pada dua lokasi. Rata-rata Hera membesarkan lele selama 2 bulan untuk mencapai ukuran 6 hingga 7 ekor per kg.
 
Berdasarkan pengalaman Hera yang sudah terjun ke sektor budidaya ikan air tawar sejak tahun 1990-an silam, budidaya lele yang paling menguntungkan, meski harganya fluktuatif. Selain lama per siklusnya lebih pendek, juga pasarnya terbuka lebar seiring maraknya warung-warung pecel lele di berbagai kota, baik di Provinsi Lampung maupun Sumsel.
 
Untuk pasar Lampung, ukuran lele yang laku adalah 6 hingga 7 ekor per kg. Sementara untuk pasar Sumsel, terutama Palembang, masih laku lele ukuran lebih besar untuk dibuat ikan asap. Untuk mendapatkan lele sebesar itu, umumnya dibesarkan selama 2 bulan dengan sortir satu kali yakni pada usia sebulan.
 
Selain memasarkan lele dari kolamnya, Hera juga menampung lele dari pembudidaya lele di desa-desa sekitarnya. Lele dipasarkan ke Kota Bandarlampung, Belitang dan Palembang. Namun belakangan pemasaran lele ke Palembang agak dikurangi Hera karena kurang lancarnya pembayaran dari mitranya di "kota empek-empek" tersebut.
 
Sementara pemasaran ke Kota Bandarlampung tetap berlanjut. Di kota ini, Hera sudah memiliki pembeli tetap. Saat ini sekitar 5 hingga 6 ton/minggu lele dari Kecamatan Pugung dikirim ke Kota Bandarlampung."Jadi kendala pemasaran lele bukan karena lele kurang laku melainkan karena pembayaran dari pedagang penampung alias tukang bakul yang kurang lancar," akunya.
 
 
Teknis Budidaya
Benih lele yang dibudidayakan Hera adalah dari jenis sangkuriang. Sebetulnya dari citarasa, jenis sangkuriang bukan yang paling gurih, tapi karena ukuran badan ikan lebih panjang maka lebih disukai pemilik rumah makan dan warung pecel lele. "Jika lele goreng ditaruh di dalam piring maka kepala dan ekornya melewati piring sehingga kelihatannya lebih besar. Padahal sebetulnya tidak besar juga. Ini yang disukai konsumen," ungkap suami Shinta Anggunsari ini.
 
Selain itu, pedagang juga menyukai memasarkan lele sangkuriang karena penyusutannya paling kecil karena dagingnya lebih padat dibandingkan dengan varietas lainnya.Benih lele dibeli Hera dari pembibit lokal di Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran dan dari pabrikan. Sebetulnya dari masing-masing pabrikan memasarkan bibit lele, tapi Hera lebih condong berpatokan pada varietasnya. Karena itu ia tetap konsisten membudidayakan benih Sangkuriang. Benih yang ditebar berukuran 3-5 cm dan 4-6 cm yang dibelinya seharga Rp15 ribu per gelas yang berisi 70-80 per ekor.
 
Tentunya benih berkualitas akan mempengaruhi aspek pertumbuhan ikan ini. Selain benih, faktor lain yang memberikan pengaruh signifikan pada pertumbuhan adalah pola pemberian pakan. Untuk mempercepat pertumbuhan lele, Hera menggunakan pakan dari pabrikan 0 hari hingga panen.
 
"Bisa saja sebetulnya pada bulan kedua, kita kombinasikan antara pakan pabrikan dengan pakan buatan sendiri. Tapi setelah diuji coba ternyata pakan kombinasi tersebut justru merugikan karena pertumbuhan ikan jadi melambat dan SR (Survival Rate) rendah. Padahal selain memacu produksi, kita juga mengejar waktu," ujar Hera ketika menerima Trobos Aqua di rumahnya yang di depannya terdapat kios pakan dan obat-obatan ikan, baru-baru ini.

Sumber tulisan : http://www.trobos.com/detail-berita/2018/02/15/15/9888/prospek-budidaya-lele-di-lampung

Cara penentasan telur bebek/itik menggunakan mesin tetas

Bebek atau Itik adalah nama umum untuk beberapa spesies burung dalam famili Anatidae. Bebek umumnya adalah burung akuatik yang sebagian besar berukuran lebih kecil dibandingkan kerabatnya, angsa dan angsa berleher pendek, dan dapat ditemukan pada perairan air tawar maupun air laut. 



Berikut cara dan tips bagaimana menetaskan telur itik atau bebek. Sebenarnya tata cara penetasan telur itik hampir sama dengan tata cara penetasan telur ayam. Perbedaan yang mencolok hanyalah  masalah waktu atau lama hari penetasan. Telur itik membutuhkan waktu sekitar 28 hari sedangkan telur ayam hanya butuh waktu sekitar 21 hari.Berikut akan kami sajikan pengetahuan kami perihal tata cara penetasan telur itik meskipun kami bukanlah yang terbaik dalam hal ini. Mudah-mudahan yang kami berikan ini membawa manfaat bagi kita semua. Aamiin.Persiapan telur.

  1. Memilih atau menyeleksi telur tetas sesuai dengan kriteria telur tetas yang baik
  2. Telur yang kulitnya terlalu kotor perlu dibersihkan, akan tetapi perlu ke hati-hatian dalam membersihkan kulit telur jangan sampai lapisan kulit ikut hilang
  3. Pisahkan telur retak, kerabang tebal/tipis

Persiapan mesin tetas

  • Fumigasi mesin tetas telah dilakukan satu hari sebelum mesin dipakai meskipun mesin tersebut baru dibeli. caranya adalah dengan menggunakan KMNO4 dan formalin. Masukkan wadah pada mesin tetas. Tuang KMNO4 pada wadah setelah itu campur dengan formalin. Setelah itu tutup mesin tetas dan lubang ventilasi. Fumigasi berlangsung selama 30 menit atau 1 jam. Telur jangan dimasukkan dulu. Takaran untuk formalin 2 kali lipat dari KMNO4
  • Hubungkan mesin tetas dengan catu daya listrik dan tunggu sampai suhu mencapai kestabilan pada suhu 37-38°C. Pemanasan mesin tetas dilakukan minimal 3 jam sebelum telur dimasukkan ke dalam mesin tetas
  • Cek dengan seksama cara kerja thermostat, pitingan lampu dan yang lainnya
  • Sediakan cadangan bola lampu (dop) atau lampu templok (minyak tanah)
Setelah segala sesuatunya telah siap maka saatlah kita masuk ke tahap proses penetasan telur yang sebenarnya.  Adapun urutan kerja selama proses penetasan telur itik adalah sebagai berikut :

Hari ke-1

  • Masukkan telur ke dalam mesin tetas dengan posisi miring atau tegak (bagian tumpul di atas). Telur bisa langsung begitu saja dimasukkan ke dalam mesin atau melalui proses prewarming terlebih dahulu yaitu dibilas secra merata dengan air hangat.
  • Ventilasi ditutup rapat
  • Kontrol suhu antara (37,8-38,8°C)

Hari ke-2

  • Ventilasi dibiarkan tertutup sampai hari ke-3
  • Kontrol suhu antara (37,8-38,8°C)

Hari ke-3

  • Pembalikan telur harian bisa dimulai pada hari ini atau masuk hari hari ke-4. Disarankan pembalikan telur minimal 3x dalam sehari-semalam (jika memungkinkan dipakai rentang waktu setiap 8 jam. Misalkan pagi pukul 05.00, siang pukul 13.00, dan malam pukul 21.00.
  • Bersamaan dengan itu bisa dilakukan peneropongan telur kalau sudah memungkinkan karena ketelitian seseorang berbeda-beda. Telur yang berembrio ditandakan dengan bintik hitam seperti mata yang ikut bergoyang ketika telur digerakkan dan disekitarnya ada serabut-serabut kecil. Kalau telur tidak menandakan tersebut dikeluarkan saja dam masih layak untuk dikonsumsi. Peneropongan telur dilaukan ditempat yang gelap argar bayangan telur nampak lebih jelas.
  • Kontrol suhu antara (37,8-38,8°C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.

Hari ke-4

  • Pembalikan telur harian sesuai jadwal hari ke-3
  • Lubang ventilasi mulai dibuka ¼ bagian
  • Kontrol suhu antara (37,8-38,8°C)

Hari ke-5

  • Pembalikan telur harian
  • Ventilasi dibuka ½ bagian
  • Kontrol suhu antara (37.8-38,8°C)

Hari ke-6

  • Pembalikan telur harian
  • Ventilasi dibuka ¾ bagian
  • Kontrol suhu antara (37,8-38,8°C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.

Hari ke-7

  • Pembalikan telur harian
  • Lakukan peneropongan telur untuk mengetahui perkembangan embrio (hidup atau mati). Embrio mati mati ditandakan dengan bercak darah atau lapisan darah pada salah satu sisi kerabang telur sedang embrio yang berkembang serabut yang menyerupai sarang laba-laba semakin jelas
  • Ventilasi dibuka seluruhnya

Hari ke-8 sampai ke-13

  • Pembalikan telur harian
  • Kontrol suhu antara (37,8-38,8°C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.

Hari ke-14

  • Pembalikan telur harian
  • Lakukan peneropongan telur untuk mengetahui embrio yang tetap hidup atau sudah mati. Telr fertile membentuk gambaran mulai gelap dengan rongga udara yang terlihat jelas

Hari ke 15 sampai ke-20

  • Pembalikan telur harian
  • Kontrol suhu antara (37,8-38,8°C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.

Hari ke-21

  • Pembalikan telur harian
  • Lakukan peneropongan telur untuk mengetahui embrio yang tetap hidup dan mati. Embrio mati ditandakan dengan bocornya lapisan rongga udara sehingga telur terlihat hitam semua
  • Kontrol suhu antara (37,8-38,8°C) dan tambahkan air ke dalam bak

Hari ke-22 sampai ke-25

  • Pembalikan telur harian
  • Kontrol suhu antara  (37,8-38,8°C) dan tambahkan air ke dalam bak

Hari ke-26 sampai ke-27

  • Pembalikan telur dihentikan
  • Kontrol kelembaban, lakukan penyemprotan jika diperlukan (dengan semburan yang paling halus)
  • Biasanya ada telur yang sudah mulai menetas di malam hari

Hari ke-28

  • Telur-telur sudah banyak yang menetas
  • Keluarkan cangkang telur dari rak agar space atau ruangan lebih longgar
  • Keluarkan anak itik yang baru menetas setelah bulunya setengah kering atau kering seluruhnya
  • Proses menetas biasanya berlangsung hingga hari ke-29
  • Dan setelah semuanya selesai mesin tetas bisa dibersihkan dan difumigasi kembali untuk persiapan proses penetasan berikutnya.               
  • Catatan tambahan : hendaklah melakukan pendinginan telur minimal 2 kali sehari karena kalau melihat prilaku unggas yang mengerami telurnya maka dia akan meninggalkan telur untuk berenang beberapa saat kemudian masuk ke tempat pengeraman kembali dan begitu seterusnya dan kalau diperhatikan hal tersebut kadang dilakukan setiap hari.