Ikan lele tidak hanya masif di budidayakan di Pulau Jawa saja, kini
sudah semakin banyak budidayanya di Sumatera salah satunyadi daerah
Lampung. Budidaya lele di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu dan
Pugung, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung terus berkembang. Bahkan
produksi lele dari kedua kecamatan tersebut mampu menguasai pasar lokal
dan juga dikirim ke berbagai daerah di Sumatera Selatan (Sumsel).
Karena itu para pembudidaya lele di daerah ini terus memacu produksi
agar mampu memenuhi kebutuhan pasar. Apalagi belakangan harga jual lele
stabil pada angka Rp15.500 hingga Rp16 ribu per kg sehingga pembudidaya
bergairah menjalankan budidaya. Seperti yang dilakukan Hera Setiawan,
pembudidaya lele dari Pekon (Desa-red) Rantau Tijang, Kecamatan Pugung,
Kabupaten Tanggamus. Saat ini Hera membudidayakan lele di 19 unit kolam
tanah pada dua lokasi. Rata-rata Hera membesarkan lele selama 2 bulan
untuk mencapai ukuran 6 hingga 7 ekor per kg.
Berdasarkan pengalaman Hera yang sudah terjun ke sektor budidaya ikan
air tawar sejak tahun 1990-an silam, budidaya lele yang paling
menguntungkan, meski harganya fluktuatif. Selain lama per siklusnya
lebih pendek, juga pasarnya terbuka lebar seiring maraknya warung-warung
pecel lele di berbagai kota, baik di Provinsi Lampung maupun Sumsel.
Untuk pasar Lampung, ukuran lele yang laku adalah 6 hingga 7 ekor per
kg. Sementara untuk pasar Sumsel, terutama Palembang, masih laku lele
ukuran lebih besar untuk dibuat ikan asap. Untuk mendapatkan lele
sebesar itu, umumnya dibesarkan selama 2 bulan dengan sortir satu kali
yakni pada usia sebulan.
Selain memasarkan lele dari kolamnya, Hera juga menampung lele dari
pembudidaya lele di desa-desa sekitarnya. Lele dipasarkan ke Kota
Bandarlampung, Belitang dan Palembang. Namun belakangan pemasaran lele
ke Palembang agak dikurangi Hera karena kurang lancarnya pembayaran dari
mitranya di "kota empek-empek" tersebut.
Sementara pemasaran ke Kota Bandarlampung tetap berlanjut. Di kota ini,
Hera sudah memiliki pembeli tetap. Saat ini sekitar 5 hingga 6
ton/minggu lele dari Kecamatan Pugung dikirim ke Kota
Bandarlampung."Jadi kendala pemasaran lele bukan karena lele kurang laku
melainkan karena pembayaran dari pedagang penampung alias tukang bakul
yang kurang lancar," akunya.
Teknis Budidaya
Benih lele yang dibudidayakan Hera adalah dari jenis sangkuriang.
Sebetulnya dari citarasa, jenis sangkuriang bukan yang paling gurih,
tapi karena ukuran badan ikan lebih panjang maka lebih disukai pemilik
rumah makan dan warung pecel lele. "Jika lele goreng ditaruh di dalam
piring maka kepala dan ekornya melewati piring sehingga kelihatannya
lebih besar. Padahal sebetulnya tidak besar juga. Ini yang disukai
konsumen," ungkap suami Shinta Anggunsari ini.
Selain itu, pedagang juga menyukai memasarkan lele sangkuriang karena
penyusutannya paling kecil karena dagingnya lebih padat dibandingkan
dengan varietas lainnya.Benih lele dibeli Hera dari pembibit lokal di
Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran dan dari pabrikan. Sebetulnya dari
masing-masing pabrikan memasarkan bibit lele, tapi Hera lebih condong
berpatokan pada varietasnya. Karena itu ia tetap konsisten
membudidayakan benih Sangkuriang. Benih yang ditebar berukuran 3-5 cm
dan 4-6 cm yang dibelinya seharga Rp15 ribu per gelas yang berisi 70-80
per ekor.
Tentunya benih berkualitas akan mempengaruhi aspek pertumbuhan ikan
ini. Selain benih, faktor lain yang memberikan pengaruh signifikan pada
pertumbuhan adalah pola pemberian pakan. Untuk mempercepat pertumbuhan
lele, Hera menggunakan pakan dari pabrikan 0 hari hingga panen.
"Bisa saja sebetulnya pada bulan kedua, kita kombinasikan antara pakan
pabrikan dengan pakan buatan sendiri. Tapi setelah diuji coba ternyata
pakan kombinasi tersebut justru merugikan karena pertumbuhan ikan jadi
melambat dan SR (Survival Rate) rendah. Padahal selain memacu
produksi, kita juga mengejar waktu," ujar Hera ketika menerima Trobos
Aqua di rumahnya yang di depannya terdapat kios pakan dan obat-obatan
ikan, baru-baru ini.
Sumber tulisan : http://www.trobos.com/detail-berita/2018/02/15/15/9888/prospek-budidaya-lele-di-lampung
0 komentar
Posting Komentar