Sabtu, 28 September 2019

Pengaruh Iklim Dan Cuaca Terhadap Hama Dan Penyakit Pada Tanaman Tebu



Info Pertanian Online - Tebu (Saccharum officinarum Linn) adalah tanaman untuk bahan baku gula. Tanaman ini hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Tanaman ini termasuk jenis rumput-rumputan. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih 1 tahun. Di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatera.

Bentuk fisik tanaman tebu dicirikan oleh terdapatnya bulu-bulu dan duri sekitar pelepah dan helai daun. Banyaknya bulu dan duri beragam tergantung varietas. Jika disentuh akan menyebabkan rasa gatal. Kondisi ini kadang menjadi salah satu penyebab kurang berminatnya petani berbudidaya tebu jika masih ada alternatif tanaman lain. Tinggi tanaman bervariasi tergantung daya dukung lingkungan dan varietas, antara 2,5-4 meter dengan diameter batang antara 2-4 cm.

Tebu merupakan tumbuhan monokotil dari famili rumput-rumputan (Gramineae), Batang tanaman tebu memiliki memiliki anakan tunas dari pangkal batang yang membentuk rumpun. Tanaman ini memerlukan waktu musim tanam sepanjang 11- 12 bulan. Tanaman ini berasal dari daerah tropis basah sebagai tanaman liar.

Tabel 2 Klasifikasi Tanaman Tebu
Divisio
Spermatophyta
Subdivisio
Angiospermae
Kelas
Monocotyledoneae
Ordo
Graminalis
Familia
Gramineae
Genus
Saccharum
Spesies
Saccharum officinarum

Syarat Tumbuh Tanaman Tebu

a.        Kesesuaian Iklim

Tanaman tebu dapat tumbuh di daerah beriklim panas dan sedang (daerah tropik dan subtropik) dengan daerah penyebaran yang sangat luas yaitu antara 35o LS dan 39o LU. Unsur – unsur iklim yang penting bagi pertumbuhan tanaman tebu adalah curah hujan, sinar matahari, angin, suhu, dan kelembaban udara.

b.      Curah Hujan

Tanaman tebu banyak membutuhkan air selama masa pertumbuhan vegetatifnya, namun menghendaki keadaan kering menjelang berakhirnya masa petumbuhan vegetatif agar proses pemasakan (pembentukan gula) dapat berlangsung dengan baik. Berdasarkan kebutuhan air pada setiap fase pertumbuhannya, maka secara ideal curah hujan yang diperlukan adalah 200 mm per bulan selama 5 – 6 bulan berturutan, 2 bulan transisi dengan curah hujan 125 mm per bulan, dan 4 – 5 bulan berturutan dengan curah hujan kurang dari 75 mm tiap bulannya. Daerah dataran rendah dengan curah hujan tahunan 1.500 – 3.000 mm dengan penyebaran hujan yang sesuai dengan pertumbuhan dan kemasakan tebu merupakan daerah yang sesuai untuk pengembangan tanaman tebu.

c.     Sinar Matahari

Radiasi sinar matahari sangat diperlukan oleh tanaman tebu untuk pertumbuhan dan terutama untuk proses fotosintesis yang menghasilkan gula. Jumlah curah hujan dan penyebarannya di suatu daerah akan menentukan besarnya intensitas radiasi sinar matahari. Cuaca berawan pada siang maupun malam hari bisa menghambat pembentukan gula. Pada siang hari, cuaca berawan menghambat proses fotosintesis, sedangkan pada malam hari menyebabkan naiknya suhu yang bisa mengurangi akumulasi gula karena meningkatnya proses pernafasan.

d.     Angin

 Angin dengan kecepatan kurang dari 10 km/jam adalah baik bagi pertumbuhan tebu karena dapat menurunkan suhu dan kadar CO2 di sekitar tajuk tebu sehingga fotosintesis tetap berlangsung dengan baik. Kecepatan angin yang lebih dari 10 km/jam disertai hujan lebat, bisa menyebabkan robohnya tanaman tebu yang sudah tinggi.

e.      Suhu

Suhu sangat menentukan kecepatan pertumbuhan tanaman tebu, sebab suhu terutama mempengaruhi pertumbuhan menebal dan memanjang tanaman ini. Suhu siang hari yang hangat atau panas dan suhu malam hari yang rendah diperlukan untuk proses penimbunan sukrosa pada batang tebu. Suhu optimal untuk pertumbuhan tebu berkisar antara 24 – 30 oC, beda suhu musiman tidak lebih dari 6o, dan beda suhu siang dan malam hari tidak lebih dari 100.

f.      Kelembaban Udara

Kelembaban udara tidak banyak berpengaruh pada pertumbuhan tebu asalkan kadar air cukup tersedia di dalam tanah, optimumnya < 80%.

g.     Kesesuaian Lahan

Tanah merupakan faktor fisik yang terpenting bagi pertumbuhan tebu. Tanaman tebu dapat tumbuh dalam berbagai jenis tanah, namun tanah yang baik untuk pertumbuhan tebu adalah tanah yang dapat menjamin kecukupan air yang optimal. Tanah yang baik untuk tebu adalah tanah dengan solum dalam (>60 cm), lempung, baik yang berpasir dan lempung liat.
Derajat keasaman (pH) tanah yang paling sesuai untuk pertumbuhan tebu berkisar antara 5,5 – 7,0. Tanah dengan pH di bawah 5,5 kurang baik bagi tanaman tebu karena dengan keadaan lingkungan tersebut sistem perakaran tidak dapat menyerap air maupun unsur hara dengan baik, sedangkan tanah dengan pH tinggi (di atas 7,0) sering mengalami kekurangan unsur P karena mengendap sebagai kapur fosfat, dan tanaman tebu akan mengalami “chlorosis” daunnya karena unsur Fe yang diperlukan untuk pembentukan daun tidak cukup tersedia. Tanaman tebu sangat tidak menghendaki tanah dengan kandungan Cl tinggi.
Daur kehidupan tanaman tebu melalui 5 fase, yaitu :

1.          Perkecambahan  

Dimulai dengan pembentukan taji pendek dan akar stek pada umur 1 minggu dan diakhiri pada fase kecambah pada umur 5 minggu.

2.           Pertunasan

Dimulai dari umur 5 minggu sampai 3,5 bulan.

3.          Pemanjangan Batang

Dimulai dari umur 3,5 bulan sampai 9 bulan.

4.          Kemasakan

Merupakan fase yang terjadi setelah pertumbuhan vegetatif menurun dan sebelum batang tebu mati. Pada fase ini gula di dalam batang tebu mulai terbentuk hingga titik optimal hingga berangsur-angsur menurun. Fase ini disebut juga fase penimbunan rendemen gula.

5.          Kematian

Tujuh varietas tebu unggul harapan yang diperkenalkan dinas perkebunan dapat dipakai sebagai alternatif pendamping mengungguli varietas lama yang masih dipertahankan yaitu PS 84-16029, PS 86-17079, PS 86-8680, PS 89-19137, PS 89-22513, PS 90-13156 dan PS90-9704

Hama Dan Penyakit Tanaman Tebu Serta Cara Pengendaliannya


Kesehatan tanaman menetukan pertumbuhan tanaman.  Tanaman tebu yang terinfeksi organisme pengganggu dapat berupa hama, penyakit dan gulma dapat dipastikan tidak akan tumbuh notmal.  Kesehatan penyakit diperhatikan sejak awal, dimulai dari penyediaan bahan tanaman sampai akhir menjelang panen.  Bahan tanaman merupakan sarana awal sering terjadinya infeksi organisme terutama penyakit dan larva hama.  Bahan tanaman yang terserang penyakit kalau tanaman tidak mengalami kematian lebih awal, penyakit tersebut akan terbawa  selama fase pertumbuhannya yang dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak normal.  Oleh karena itu, dalam pemilihan bibit sering dilakukan tahap sortasi, seleksi dan inspeksi kesehatan tanaman.

Tindakan penyehatan tanaman sering dilakuan melalui sanitasi kebun sebagai misal dengan melakukan pemeliharaan tanaman pada petak kebun dengan baik dan benar.  Salah satu faktor penghambat produksi gula adalah adanya serangan hama. Penyakit dan gulma. Upaya yang tepat pada perlindungan atau proteksi tanaman dapat menyelamatkan produksi gula kurang lebih 20 persen.
Beberapa macam hama yang sering dijumpai pada tanaman tebu adalah penggerek pucuk, penggerek batang, kutu bulu putih, tikus, uret dan babi hutan. Uret dan kutu bulu putih merupakan hama utama bagi tanaman tebu di lahan kering.

Penggerek pucuk. Hama ini berupa ulat yang menyerang pucuk tanaman sehingga mematikan titik tumbuh. Usaha pemberantasannya menggunakan insektisida carbofuran yang dapat diberikan dengan cara suntikan atau taburan.

Penggerek batang. Hama berupa ulat ini merusak ruas-ruas batang tebu sehingga pada serangan yang parah dapat merobohkan tanaman. Usaha pengendaliannya dapat dilakukan secara hayati dengan menggunakan parasit karawai Trichograma spp., dan parasit lalat Diatraeophaga striatalis.

Kutu bulu putih. Pada daun-daun yang mulai nampak ada kutu bulu putih segera dipangkas, dimasukkan ke dalam kantong plastic untuk dimusnahkan atau dibakar. Pada serangan yang sudah luas, pemberantasannya dapat menggunakan parasit Encarsia flavosculetan atau menggunakan insektisida sistemik misalnya formation 825 gr/ha atau dimetoat 1000 gr/ha.

Uret. Hama ini menyerang akar dan pangkal tanaman tebu. Tanaman yang terserang menampakkan gejala kelayuan daun. Pemberantasan uret dengan insektisida disarankan menggunakan carbofuran  3 persen sebanyak 50 kg/ha. Penggunaan insektisida yang mengandung senyawa BHC hanya diperbolehkan pada lahan yang tidak ditanami tanaman pangan. Disamping cara kimiawi, pengendalian hama uret dapat dilakukan secara mekanis dengan cara mengumpulkan uret dan imagonya. Penangkapan imago harus dilakukan sebelum imago sempat kawin. Berdasarkan siklus kehidupan uret, penangkapan imago dapat dilaksanakan pada bulan Oktober hingga Desember.

Di daerah dengan serangan hama uret kuat, dianjurkan penggunaan insektida yang berformulasi ”slow release”, antara lain dursban 14 S sebanyak 28 kg/ ha yang diberikan di dasar juringan sebelum tebu ditanam. Insektisida ini mampu mengendalikan uret selama tiga tahun tanpa merusak perakaran tebunya.

Tikus. Serangan tikus di daerah-daerah tertentu terjadi hampir setiap tahun, sehingga kemungkinan kerugian sangat besar. Pada daerah-daerah yang berbatasan dengan sawah perlu adanya kerjasama dengan petani padi untuk mengamati adanya serangan tikus pada tanaman padi. Segera setelah panen, dilakukan gropyokan dan pengasapan pada lubang-lubang persembunyian maupun pemasangan umpan beracun.

Beberapa penyakit yang biasa menyerang tanaman tebu antara lain penyakit mosaik, penyakit pembuluh, luka api (smut), blendok dan pokahbung.
Penyakit mosaik. Penyebab penyakit ini adalah virus mosaic. Tanda-tanda penyakit ini yaitu pada daun terdapat gambaran mosaik berupa garis-garis dan noda-noda berwarna hijau muda sampai kuning. Cara pencegahan yang telah dilakukan selama ini adalah dengan menggunakan bibit terseleksi yang berasal dari tanaman sehat dan dari varietas tebu yang tahan terhadap penyakit mosaik seperti Ps 56, F 154, F 156 atau M 442-51.

Penyakit pembuluh. Penyebab penyakit ini adalah bakteri Clavibacter xylisubsp xyli. Tanaman yang terserang menampakkan gejala pertumbuhan yang kurang sempurna terutama tanaman keprasan tampak kerdil. Gejala yang khas yaitu terlihat warna jingga kemerah-merahan pada berkas-berkas pembuluh batang tebu menjelang masaknya tebu. Cara pencegahan penyakit ini antara lain dengan melakukan deinfeksi alat pemotong tebu dengan lisol 20%, penanaman dengan menggunakan bibit sehat yang diperoleh dengan perawatan air panas terhadap bibit tebu pada suhu 50°C selama 2-3 jam.

Penyakit luka api (smut). Penyebabnya adalah Ustilago scitaminea Syd. Gejala penyakit ini timbulnya cambuk hitam pada pucuk tebu. Pencegahannya dengan menanam bibit yang sehat dan varietas yang resisten, bibit  didesinfeksi dengan 0,5 gr b.a./triadimefon.

Penyakit blendok. Tanda-tanda serangan penyakit yang disebabkan oleh sejenis bakteri ini yaitu apabila batang dibelah tanpak pembuluh-pembuluh berwarna kuning tua sampai merah tua. Usaha pencegahannya dengan deinfeksi pisau pemotong menggunakan lisol.

Penyakit pokahbung. Penyakit ini disebabkan oleh sejenis jamur dan terutama timbul di musim hujan. Tanda-tanda penyakit ini adalah pada daun muda terlihat memutih (chlorosis). Pada serangan yang parah, pusuk tanaman menjadi busuk, pembuluh tanaman menjadi tidak normal bentuknya (bengkok dan luka). Pemberantasan untuk tanaman yang telah terserang dengan cara disemprot bubur Bordo 1 % seminggu sekali.

Gangguan gulma dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar karena bisa menyebabkan penurunan bobot tebu. Pengendalian gulam disamping dengan cara manual ataupun kimiawi menggunakan herbisida, dapat pula dilakukan secara kultur teknis dengan menciptakan kondisi lingkungan yang dapat menekan pertumbuhan gulma atau dengan cara mekanis dengan pembajakan dan penggaruan. Keempat cara tersebut dalam pelaksanaannya dapat dilakukan secara terpadu. Usaha pengendalian gulma akan dapat memberikan hasil yang baik apabila pelaksanaannya tepat waktu, cara, alat maupun dosis dan jenis herbisida yang digunakan.


Kesimpulan
Faktor Iklim Sangat Berpengaruh Terhadap Perkembangan Hama Dan Penyakit Pada Tanaman Tebu. Beberapa Indikator Pendukungnya Adalah Curah Hujan, Sinar Matahari, Angin, Suhu Dan Sebagainya. Hama Dan Penyakit Yang Berkembang Diantaranya Adalah Penggerek Pucuk, Penggerek Batang, Kutu Bulu Putih ,Penyakit Mosaik, Penyakit Pembuluh, Penyakit Luka Ap,I  Penyakit Pokahbun.

Sumber : 
http://kuantannet.blogspot.com/2016/12/makalahpengaruh-iklim-dan-cuaca.html

Rabu, 18 September 2019

Cara antisipasi penyakit blas



Info Pertanian Online - Akhir-akhir ini kita sering dihadapkan oleh adanya munculnya penyakit blast yang menyerang tanaman padi sawah, zaman dahulu penyakit ini tidak begitu banyak meyerang tanaman padi sawah yang berada di lahan pengairan teknis, karena penyakit ini awalnya muncul pada areal tanaman padi sawah yang berpengairan kurang baik, pada lahan tadah hujan.

Seiring adanya anomaly iklim penyakit blast menjadi penyakit yang menyerang tanaman padi sawah baik pada daerah tadah hujan, maupun pada lahan berpengairan tehnis. Pada serangan berat penyakit ini dapat menyebabkan gagal panen atau hasil panennya sangat sedikit, kwalitas berasnya jelek, butir patah, menir sangat banyak. 

Banyak petani yang kwalahan mengendalikan penyakit ini sehingga tindakan yang dilakukannya sering tidak tepat, dan kegiatan pengendaliannya sering membuahkan hasil yang tidak memuaskan, sehingga banyak petani yang hasil panennya sedikit dan gagal panen.

Penguasaan tehnis pengendalian ini patut harus dikuasai oleh seluruh petani yang melakukan budidaya tanaman padi.

Akibat penyakit blas


Penyakit blast dapat menginfeksi tanaman padi pada semua stadia pertumbuhan, gejala khas pada daun yaitu bercak berbentuk belah ketupat- lebar ditengah dan meruncing dikedua ujungnya. Ukuran bercak kira-kira 1-1,5 x 0,3-0,5 cm berkembang menjadi berwarna abu-abu pada bagian tengahnya. Bila infeksi terjadi pada ruas batang dan leher malai ( neck blast), akan merubah leher malai yang terinfeksi menjadi kehitam-hitaman dan patah, mirip gejala beluk akibat serangan penggerek batang.

Cara mengendalikan penyakit blas

  • Gunakan varietas tahan blast secara bergantian
  • Gunakan pupuk nitrogen sesuai anjuran
  • Upayakan waktu tanam yang tepat, agar waktu awal pembungaan tidak banyak embun dan hujan terus- menerus
  • Gunakan fungisida yang berbahan aktif metiltiofanat atau fostdifen dan kasugamisin
  • Perlakuan benih


Sumber : https://wibowopenyuluh.blogspot.com/2017/12/antisipasi-penyakit-blast.html

Selasa, 17 September 2019

Cara Mendeteksi Tanaman Kekurangan Unsur Hara Nitrogen ( N )



Info Pertanian Online - Kekurangan unsur hara dapat menyebabkan tanaman sakit pertumbuhan terhabat atau tidak normal hal ini tentu akan mengurangi produksi tanaman, kondisi seperti ini perlu kita hindari, unsur hara N , merupakan unsur hara makro yang banyak dibutuhan oleh tanaman, kebutuhannya dalam jumlah banyak, sehingga apabila tanaman ini mengalami kekurangan usur N, tanaman akan pertumbuhannya tidak normal, terhambat dan produksinya akan menurun / rendah.

Sebetulnya disetiap lahan unsur N, sudah ada namun kandungan N pada masing-masing lahan berbeda – beda, hal ini dipengaruhi oleh kondisi bahan organik yang ada baik dari sisa sisa tumbuhan maupun hewan yang ada. 

Maupun jenis tanaman yang tumbuh di tempat tersebut, banyak tanaman yang mampu memproduksi N dengan cara mengikat N dari udara, misalnya tanaman jenis kacang2-kacangan, pada umumnya tanah bekas tumbuhan kacang2an cenderung mempunyai kandungan N yang tinggi , sehingga pertumbuhannya akan lebih subur.

GEJALA KEKURANGAN UNSUR HARA

  1. Daun mengecil berwarna pucat samapai hijau kekuningan, jika kronis berkepanjangan kekurangan unsur N tanaman daunya akan berubah menjadi coklat kekuningan dan kering
  2. Tanaman kerdil dan produksi kurang serta memanjangnya akarnya tidak normal
  3. Daun- daun sebelah bawah tampak hangus dan mati sebelum waktunya, sementara itu ujung tanaman tetap hijau muda, kadang dikira kekurangan air
  4. Buah rontok sebelum waktunya
  5. Perkembangan bunga kurang akibatnya tidak terjadi buah
  6. Pada tanaman tembakau daunnya menjadi sempit dan panjang, seperti pita atau sabuk dengan tepi bergelombang atau berkerut. Selain itu tanaman menjadi kerdil dan kloris

TINDAKAN YG HARUS DILAKUKAN


Upaya yang harus dilakukan oleh petani, dalam rangka untuk mengatasi lahan kekurangan N, diantaranya adalah : segera melakukan pemupukan dengan Nitrogen dengan pemberian pupuk Kimia maupun organik , misalnya pupuk kimia yang mengandung unsur N urea, Za, maupun NPK, sedang bila menggunakan pupuk organik misanya dapat menggunakan pupuk kandang, pupuk kompos atau pupuk hijau ( misalnya orok-orok) atau menggunakan tanaman polong seperti kacang2an, turi, lamtoro dll. 

Yang perlu diperhatikan agar pemberian pupuk N dari pupk Kimia hendaknya faktor kelembaban tanah/air harus betul-betul diperhatikan agar pupuk yang ada tidak banyak yang hilang atau dapat terserap dengan baik, mengingat sifat pupuk N, mudah larut.

Sumber : https://wibowopenyuluh.blogspot.com/2017/12/mendeteksi-tanaman-kekurangan-unsur.html

Minggu, 15 September 2019

penyakit bulai pada jagung dan cara pengendaliannya



Penyakit bulai sering disebut oleh petani di Kabupaten Tegal  namanya penyakit Bolang, penyakit putih atau penyakit liyer, banyak menimbulkan kerusakan pada tanaman jagung, karena tanaman jagung yang sudah terserang mengakibatkan tanaman jagung tidak dapat menghasilkan buah, bahkan achir-achir ini serangan berat mengakibatkan tanaman sampai dengan puso, tanaman yang terserang daunnya akan nampak putih, lorek keputihan, sehingga tanaman tidak mampu melakukan kegiatan fotosintesa dengan sempurna.

Penyakit bulai adalah gejala dari serangan Oomycetes dari suku Sclerosporaceae, khususnya marga Peronosclerospora, yang ditemukan pada berbagai anggota rumput-rumputan. Jenis-jenis yang diketahui menyerang di Indonesia adalah P. maydis, P. philippinensis, dan P. sorghi. Wikipedia

Walaupun sekarang sudah banyak fungisida yang dapat digunakan untuk mencegah timbulnya penyakit bulai ini, tetapi kenyataan dilapangan hasilnya  masih belum memuaskan terutama pada daerah endemis, penyakit bulai akan muncul bila dilahan selalu ditanam secara terus menerus serangan penyakit ini lebih hebat.

Banyak varietas hybrida yang tahan terhadap penyakit bulai, tetapi akibat ulah petani yang tidak menggunakan sistem pergliran tanaman, pergiliran varietas, tanaman yang disukai petani yang dirasa memberikan produksi yang tinggi , ternyata juga akan berubah tidak tahan terhadap penyakit bulai walaupun semula tanaman jagung hybrida tersebut mempunyai sifat genetik tahan terhadap penyakit Bulai.

Penyebab penyakit ini adalah sclerospora maydis dan sclerospora philippinensis weston, penyakit ini umumnya banyak terdapat didataran rendah pada waktu udara lembab dan panas.

Gejala serangan

Daun yang terinfekasi menjadi bergaris putih sampai kekuningan, pada tingkatan achir daun menjadi kecoklatan dan kering. Akibat serangan penyakit ini pertumbuhan tanaman menjadi terhambat, tetapi bila serangannya muncul pada tanaman yang baru tumbuh tanaman achirnya daun menjadi putih achirnya akan mati, tanaman yang terserang dibagian sisi bawah daun kelihatan ada tepung putih yang berasal dari sisi conidia dan conidiophore.
Jika serangan lebih dari satu bulan tanaman masih bisa tetap tumbuh dan berbuah walaupun sudah terserang, namun tongkolnya tidak bisa besar, kelobot tidak bisa membungkus secara penuh, bijinya tidak penuh dan ompong.
  

Cara Pengendalian

  • ika musim hujan datang udara lembab dan serangan bulai banyak, tanaman yang terkena segera dicabut, kemudian disemprot dengan fungisida tembaga
  • Jangan menanam jagung dimusim hujan
  • Menanam varietas yang resisten, misalnya varietas sukmaraga, Palakka, Bima 3 Batimurung, Bima 6, semar 3, 5, 6, 7, 8 dll.
  • Gunakan seed treatmen benih dengan fungisida misalnya menggunakan Ridomil, Saromil dll
  • Gunakan pergiliran tanaman, pergiliran varietas
  • Gunakan jarak tanam yang lebar


Sumber : https://wibowopenyuluh.blogspot.com/2017/12/mengenal-penyakit-bulai-pada-jagung.html