Senin, 30 September 2019

Cara pengawetan rumput gajah



Info Pertanian Online - Rumput gajah adalah rumput berukuran besar bernutrisi tinggi yang biasanya dipakai sebagai pakan ternak seperti sapi, kambing, gajah, dll. Rumput gajah banyak dibudidayakan di Afrika karena ketahanannya terhadap cuaca panas. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai elephant grass, naper grass, atau Uganda grass. Wikipedia

Pakan merupakan setiap  bahan yang dapat dimakan , disukai, dicerna dan tidak membahayakan bagi kesehatan ternak. Agar bahan dapat disebut dengan pakan maka harus memenuhi persyaratan tersebut.

Pakan  adalah bahan yang dapat dimakan, dicerna dan diserap baik secara keseluruhan atau sebagian dan tidak menimbulkan keracunan atau tidak mengganggu kesehatan ternak yang mengkonsumsinya ( Kamal, 1998 dalam Subekti, 2009). Sedangkan yang dimaksud dengn  ransum adalah campuran dari beberapa bahan pakan yang disusun untuk memenuhi kebutuhan ternak dalan waktu 24 jan sehingga zat gizi yang dikandungnya seimbang sesuai kebutuhan ternak  ( Indah dan Sobri, 2001 dalam Subekti, 2009). 

Bahan-bahan  pakan yang diberikan untuk ternak dapat dibedakan menjadi pakan asal tanaman  dan  pakan asal hewan. Bahan pakan asal hewan seperti tepung ikan, tepung tulang, tepung daging, tepung darah, tepung bulu dan tepung udang. Bahan-bahan asal tanaman seperti hijauan dan biji-bijian.

Bahan pakan asal hijauan dapat dibedakan menjadi  rumput dan leguminosa. Hijauan pakan atau disebut forage merupakan tanaman pakan yang berasal dari rumput dan kacang-kacangan yang diambil hijauannya sebagai bahan pakan (Purbajanti, 2012). 

Pakan hijauan tidak terjamin sepanjang tahun secara kuantitatif dan kualitatif, pada saatmusim hujan hijauan yang tersedia sangan melimpah sedangkan saat tiba musim kemarau atau panas hijauan pakan sangat sulit penyediaannya untuk memenuhi kebutuhan ternak terutama ternak ruminansia. 

Oleh karena itu perlu dilakukan pengolahan atau pengawetan hijauan agar supaya hijaua pakan selalu tersedia untuk memenuhi kebutuhan ternak tersebut. Tujuan utama dalam pengawetan  hijauan adalah untuk memelihara atau mempertahankan kualitas dan kuantitas nutrisi hijauan dengan meminimalkan kehilangan pada saat pemanenan dan penyimpanan (Rotzdan Muck, 1994 dalam Mansyur et al., 2007). Sedangkan keuntungandari  pengawetan hijauan adalah dapat dipertahankan kualitasnya atau komposisi nutriennya hingga berakhirnya masa penyimpanan (Sugiri et ai., 1981 dalam Subekti et al., 2013).

Pengolahan dan pengawetan bahan pakan dapat dilakukan dengan cara fisik atau mekanik, kimiawi, biologis dan kobinasinya. Perlakuan secara fisik dapat dilakukan dengan cara penjemuran, pencacah atau pemotongan, penggiling, penghancuran serta pembuatan pelet (Wahyono dan Hardiyanto, 2004). Perlakuan secara kimiawi dilakukan dengan cara menanbahkan bahan kimia seperti amoiasi. Amoniasi merupakan  salah satu perlakuan bahan pakan secara kimiawi yang   bersifat alkalis sehingga dapat melarutkan hemiselulosa dan memutuskan ikatan atara lignin dan selulosa atau emiselulosa (Klopfenstein, 1987 dalam Pprastyawan at al., 2012).  

Perlakuan secara biologis dapat dilskukan dengan cara fermentasi dengan menggunakan mikroba starter, proses fermentasi ini bermanfaat untuk menurunkan kadar serat kasar, meningkatkan kecernaan dan meningkatkan kadar protin bahan pakan (Tampoebolon, 1997 dalam Pprastyawan at al., 2012).  Dan perlakuan secara kombinasi dapat dilakukan dengan cara gabungan dari fisik-kimia, fisik-biologi dan atau biologi-kimia.

Kakteristik Rumput Gajah

Rumput gajah (pennicetum purureum) atau rumput napier  merupakan jenis hijauan pakan ternak yang mempunyai kualitas tinggi dan disukai oleh ternak (Rianto dan Purbowati, 2010). Karatteristik dari rumput ini yaitu tumbuh tinggi, kuat, perakaran dalam, berkembang dengan rhizome, batang dan daun bagian permukaan atas berbulu dan bunga berwarna kunig atau coklat. Rumput Gajah adalah salah satu jenis rumput unggul yang sekarang banyak ditanam oleh para peternak, rumput ini memiliki kandungan bahan kering (BK) 21%, protein kasar (PK) 9,6%, lemak kasar (LK) 1,9%, Total Digestible Nutrients(TDN) 52,4% (SIREGAR, 2003 dalam Rianto et al., 2007).

Proses Pembuatan Hay

            Hay merupakan hijauan berupa daunan jenis rumputan atau bijian yang sengaja dipanen menjelang berbunga yang dikeringkan baik dengan cara diangin-anginkan maupun dengan cara dikeringkan dengan panas matahari secara langsung. Hay merupakan  hijauan makanan ternak   yang sengaja dipotong dan dikeringkan agar bisa diberikan kepada ternak pada  kesempatan yang lain. Tujuan dari pembuatan hay ini yaitu hay adalah untuk mengurangi tingkat kandungan air dari hijauan hingga pada suatu level dimana menghambat aksi dari enzim-enzim baik yang dihasilkan oleh tanaman maupun mikrobial (Mc Donald et al., 2002 dalam Mansyur et al., 2007), untuk dapat menyediakan hijauan pakan untuk ternak pada saat-saat tertentu, seperti  dimasa paceklik atau musim kemarau, untuk dapat memanfaatkan hijauan pada saat pertumbuhan terbaik tetapi pada saat itu belum dimanfaatkan.

Sedangkan prinsip dari proses pembuatan hay ini adalah menurunkan kadar air menjadi 15-20%  dalam waktu yang singkat, baik dengan panas matahari ataupun panas buatan.  Menurut Yulianto dan Saparinto (2010) bahwa  proses pembuatan hay yaitu pertama menyiapkan hijauan pakan (rumput gajah) yang kemudian memotong- motongnya baik dengan cara manual dengan pisau atau sabit maupun dengan menggunakan mesin pencacah rumput dan dilakukan penimbangan untuk mengetahui kadar airnya, kemudian jemur hijauan dibawah sinar atahari selama  1-2 hari agar kadar air menjadi 20-25% dan perlu dilakukan penimbangan setiap 5 jam untuk mengetahui kadar airnya.

Jika pengeringan sudah merata selanjutnya hijauan diikat dan hay disimpan digudang. Ciri-ciri hay yang baik adalah warna hijau kekuningan, tidak banyak daun yang rusak, bentuk daun masih utuh atau jelas dan tidak kotor atau berjamur, serta tidak mudah patah bila batang dilipat dengan tangan (Subekti, 2009).

Hay Rumput Gajah

            Rumput gajah (pennicetum purureum) atau rumput napier  merupakan jenis hijauan pakan ternak yang mempunyai kualitas tinggi dan disukai oleh ternak (Rianto dan Purbowati, 2010). Pengawetan rumput gajah dengan pengeringn atau hay merupakan cara yang tepat, sehingga kualitas rumput gajah terjaga dan  dapat di berikan pada ternak untuk kebutuhannya sepanjang tahun. Menurut Rianto et al., (2006) bahwa hay rumput Gajah memiliki kandungan nutrisi Air 13,38%, Abu 15,98%, LK 3,38% PK 9,82% SK 23,88%. Energi 2.992 kcal/kg. Sedangkan menurut  Santoso Dan Hariadi (2008) BK 83,4%, BO 87,8%, PK 12,4%, NDF 70,0%, LK 1,9% dan NFC 3,4%.

            Menurut Wina (2008)  menyatakan bahwa penyebabkan penurunan kadar senyawa karotenoid yang sangat signifikan (83% hilang) selama proses pembuatan hay  karena senyawa karotenoid sangat labil dan mudah rusak radiasi oleh panas atau terekpos oleh sinar UV pada pengeringan hijauan di bawah sinar matahari. WILLIAM  et al.(1998) dalam  Wina (2008) melaporkan kandungan rata-rata β-karoten dalam hijauan segar, dan hijauan yang dibuat ”hay” masing-masing adalah 196 dan 36 mg/ kg bahan kering. Jadi hijauan segar yang dibuat menjadi hay akan menalani penurunan kadar β- karoten dan senyawa karotenoid.

Menurut Nista et al., (2007) bahwa Keuntungan atau kebaikan pembuatan hay yaitu kandungan vitamin D dalam hijauan lebih tinggi, sedangkan Kekurangan dari pembutan hay yaitu  proses pengeringan berlangsung lebih lama menyebahkan penurunan gizi relatif lebih besar, selama proses pengeringan ini sel-sel terus bernapas, menggunakan energi eperti gula dan karbohidrat yang menghasilkan CO2 dan  Karotin (pro-vitamin A) menurun.

Pembuatan Silase

Silase adalah pakan yang telah diawetkan dari bahan pakan berupa tanaman hijauan, limbah industri pertanian, serta bahan pakan alami lainya, dengan jumlah kadar / kandungan air pada tingkat tertentu. Pakan tersebut dimasukan dalam sebuah tempat yang tertutup rapat kedap udara, biasa disebut dengan silo, selama sekitar tiga minggu. Di dalam silo tersebut tersebut akan terjadi beberapa tahap proses an-aerob (proses tanpa udara/oksigen), dimana bakteri asam laktat akan mengkonsumsi zat gula yang terdapat pada bahan baku, sehingga terjadilah proses fermentasi.

Silase yang terbentuk karena proses fermentasi ini dapat di simpan untuk jangka waktu yang lama tanpa banyak mengurangi kandungan nutrisi dari bahan bakunya. Tujuan utama pembuatan silase adalah untuk memaksimumkan pengawetan kandungan nutrisi yang terdapat pada hijauan atau bahan pakan ternak lainnya, agar bisa di disimpan dalam kurun waktu yang lama, untuk kemudian di berikan sebagai pakan bagi ternak khususnya untuk mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau. Proses fermentasi yang tidak terkontrol akan mengakibatkan kandungan nutrisi pada bahan yang di awetkan menjadi berkurang jumlahnya. Diperlukan jenis zat tambahan agar kandungan nutrisi dalam silase tidak berkurang secara drastis, bahkan bisa memenuhi kebutuhan nutrisi ternak yang memakannya.

Syarat hijauan (tanaman) yang dibuat silase adalah segala jenis tumbuhan atau hijauan serta bijian yang di sukai oleh ternak, terutama yang mengandung banyak karbohidrat nya seperti : rumput, sorghum, jagung, biji-bijian kecil, tanaman tebu, tongkol gandum, tongkol jagung, pucuk tebu, batang nanas dan jerami padi. Sementara bahan tambahan dimaksudkan untuk meningkatkan dan mempertahankan kadar nutrisi yang terkandung pada bahan pakan silase.

Penambahan bahan additive ini bisa dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Pemberian bahan tambahan secara langsung dengan menggunakan, Natrium bisulfat, Sulfur oxida, Asam chlorida, Asam sulfat, Asam propionat. Pemberian bahan tambahan secara tidak langsung ialah dengan memberikan tambahan bahan-bahan yang mengandung karbohidrat yang siap diabsorpsi oleh mikroba, antara lain :

  1. Molase (melas) : 2,5 kg /100 kg hijauan.
  2. Onggok (tepung) : 2,5 kg/100 kg hijauan.
  3. Tepung jagung : 3,5 kg/100 kg hijauan.
  4. Dedak halus : 5,0 kg/100 kg hijauan.
  5. Ampas sagu : 7,0 kg/100 kg hijauan.
Prosedur Pembuatan Silase
Garis Besar
  • Hijauan dipotong-potong dahulu, ukuran 3-5 cm
  • Dimasukkan kedalam lubang galian (silo) beralas plastik
  • Tumpukan hijauan dipadatkan (diinjak-injak)
  • Tutup dengan plastik dan tanah


a.      Pencampuran

Hijauan dicampur bahan lain dahulu sebelum dipadatkan (bertujuan untuk mempercepat fermentasi, mencegah tumbuh jamur dan bakteri pembusuk, meningkatkan tekanan osmosis sel-sel hijauan. Bahan campuran dapat berupa: asam-asam organik (asam formiat, asam sulfat, asam klorida, asam propionat), molases/tetes, garam, dedak padi, menir/ onggok dengan dosis per ton hijauan sebagai berikut :
  1. Asam organik : 4- 6 kg
  2. Molases/tetes : 40 kg
  3. Garam : 30kg
  4. Dedak padi : 40kg
  5. Menir : 35kg
  6. Onggok : 30kg
Pemberian bahan tambahan tersebut harus dilakukan secara merata ke seluruh hijauan yang akan diproses. Apabila menggunakan molases/tetes lakukan secara bertahap dengan perbandingan 2 bagian pada tumpukan hijauan di lapisan bawah, 3 bagian pada lapisan tengah dan 5 bagian pada lapisan atas agar terjadi pencampuran yang merata.

b.     Pelayuan

Hijauan dilayukan dahulu selama 2 hari (kandungan bahan kering 40% - 50%.
Tata Cara Pembuatan Silase

a.     Penyiapan Silo

Siapkan silo yang bisa di tutup dan kedap udara, artinya udara tidak bisa masuk maupun keluar dari dan ke dalam wadah tersebut. Wadah tersebut juga harus kedap rembesan cairan. Untuk memenuhi kriteria ini maka bahan plastik merupakan jawaban yang terbaik termurah serta sangat fleksibel penggunaannya. Walaupun bahan dari metal, semen dll tetap baik untuk di gunakan.  

Ukuran di sesuaikan dengan kebutuhan dan pilihlah ukuran, bahan serta konstruksi yang sesuai dengan kebutuhan. Gentong plastik yang mempunyai tutup bisa di kunci dengan rapat, merupakan salah satu pilihan yang terbaik. Karena di samping ukurannya yang sedang sehingga mudah untuk di angkat manusia, kemudian dengan penambahan jumlah bisa memenuhi kebutuhan yang lebih banyak.

Jika ingin membuat dalam jumlah yang banyak sekali gus, maka cara yang termurah adalah dengan menggali tanah. Ukuran di sesuaikan dengan kebutuhan. Kemudian menggunakan kantung plastik yang di jual meteran, sehingga penutupannya bisa dilakukan dengan sangat rapat. Prinsip yang harus di perhatikan adalah, saat membuka dan memberikan silase pada ternak, maka silo tersebut akan kemasukan udara/oksigen yang bisa dan akan merusak silase yang telah jadi karena terjadinya proses aerobic.

Pembuatan dalam jumlah kecil dengan menggunakan silo yang banyak serta portable (seperti gentong plastik biru, atau kantong plastik), jauh lebih berdaya guna di banding dengan pembuatan dalam jumlah sangat besar dalam satu wadah/silo. Untuk itu ketahuilah jumlah kebutuhan ternak anda, lalu sesuaikan pembuatan silo, sehingga penggunaannya bisa sekali buka silo, isinya langsung habis di konsumsi sehingga tidak adalagi sisa yang harus di simpan.

Penyimpanan sisa silase ini, di samping sangat merepotkan juga sangat riskan terjadinya proses pembusukan karena terjadi nya eksposur tehadap oksigen yang akan mengaktivekan bakteri aerob 

b.     Penyiapan bahan baku silase serta penempatan pada silo
Bahan baku sebaiknya berasal dari tumbuhan atau bijian yang segar yang langsung di dapat dari pemanenan, jangan yang telah tersimpan lama. Penyiapan bahan baku silase sebagai berikut :

·       Ukuran pemotongan sebaiknya sekitar 5 cm.
·       Pemotongan dan pencacahan perlu di lakukan agar mudah di masukan dalam silo dan mengurangi terperangkapnya ruang udara di dalam silo serta memudahkan pemadatan. Jika hendak menggunakan bahan tambahan, maka taburkan bahan tambahan tersebut kemudian di aduk secara merata, sebelum di masukan dalam silo.
·       Masukan cacahan tersebut kedalam silo secara bertahap, lapis demi lapis. Saat memasukan bahan baku kedalam silo secara bertahap, lakukan penekanan atau pengepresan untuk setiap lapisan agar padat. Kenapa harus di padatkan, karena oksigen harus sebanyak mungkin di kurangi atau di hilangkan sama sekali dari ruang silo.
·       Lakukan penutupan dengan serapat mungkin sehingga tidak ada udara yang bisa masuk kedalam silo. Biarkan silo tertutup rapat serta di letakan pada ruang yang tidak terkena matahari atau kena hujan secara langsung, selama tiga minggu.
·       Setelah tiga minggu maka silase sudah siap di sajikan sebagai pakan ternak. Sedangkan untuk menilai kualitas hasil pembuatan silase ini bisa di lihat di Kriteria Silase yang baik, Silo yang tidak di buka dapat terus di simpan sampai jangka waktu yang sangat lama asalkan tidak kemasukan udara.
·       Pemberian pada ternak yang belum terbiasa makan silase, harus di berikan sedikit demi sedikit dicampur dengan hijauan yang biasa dimakan. Jika sudah terbiasa secara bertahap dapat seluruhnya diberi silase sesuai dengan kebutuhan.

Alur Proses yang terjadi pada Silase

Tahap-1, Saat pertama kali hijauan di panen, pada seluruh permukaan hijauan tersebut terdapat organisme aerobic, atau sering disebut sebagai bakteri aerobic, yaitu bakteri yang membutuhkan udara/oksigen. Sehingga pada saat pertamakali hijauan sebagai bahan pembuatan silase di masukan ke dalam silo, bakteri tersebut akan mengkonsumsi udara/oksigen yang terperangkap di dalam rang silo tersebut. Kejadian ini merupakan sesuatu yang tidak di inginkan untuk terjadi saat ensiling, karena pada saat yang sama bakteri aerobik tersebut juga akan mengkonsumsi karbohidrat yang sebetulnya di perlukan bagi bakteri lactic acid.

Walaupun kejadian ini nampak menguntungkan dalam mengurangi jumlah oksigen di dalam silo , sehingga menciptakan lingkungan anaerob seperti yang kita kehendaki dalam ensiling, namun kejadian tersebut juga menghasilkan air dan peningkatan suhu/panas. Peningkatan panas yang berlebihan akan mengurangi digestibility kandungan nutrisi, seperti misalnya protein. Proses perubahan kimiawi yang terjadi pada phase awal ini adalah terurainya protein tumbuhan, yang akan terurai menjadi amino acid, kemudian menjadi amonia dan amines. Lebih dari 50% protein yang terkandung di dalam bahan baku akan terurai.

Lama terjadinya proses dalam tahap ini tergantung pada kekedapan udara dalam silo, dalam kekedapan udara yang baik maka phase ini hanya akan bejalan beberapa jam saja. Dengan teknik penanganan yang kurang memadai maka phase ini akan berlangsung sampai beberapa hari bahkan beberapa minggu. Untuk itu maka tujuan utama yang harus di capai pada phase ensiling ini adalah, semaksimum mungkin di lakukan pencegahan masuknya udara/oksigen, sehingga keadaan anaerobic dapat secepatnya tercapai.

Kunci pada phase ini adalah :

  • Kematangan bahan
  • Kelembaban bahan
  • Panjangnya pemotongan yang akan menentukan kepadatan dalam silo.
  • Kecepatan memasukan bahan dalam silo
  • Kekedapan serta kerapatan silo
Tahap-2, Setelah oksigen habis di konsumsi bakteri aerobic, maka phase dua ini di mulai, disinilah proses fermentasi dimulai, dengan dimulainya tumbuh dan berkembangnya bakteri acetic – acid. Bakteri tersebut akan menyerap karbohidrat dan menghasilkan acetic acid sebagai hasil ahirnya. Pertumbuhan acetic acid ini sangat diharapkan, karena disamping bermanfaat untk ternak ruminansia juga menurunkan kadar pH yang sangat di perlukan pada phase berikutnya.

Penurunan kadar pH di dalam silo di bawah 5.0, perkembangan bakteri acetic acid akan menurun dan ahirnya berhenti Dan itu merupakan tanda berahirnya phase-2. Dalam fermentasi hijauan phase-2 ini berlangsung antara 24 s/d 72 jam. Makin menurunnya kadar pH akan merangsang pertumbuhan dan perkembangan bakteri anaerob lainnya yang memproduksi latic acid. Maka pada phase ini latic acid akan bertambah terus.

Tahap-3, Dengan bertambahnya jumlah bakteri pada phase 3, maka karbohidrat yang akan terurai menjadi latic acid juga makin bertambah. Latic acid ini sangat di butuhkan dan memegang peranan paling penting dalam proses fermentasi. Untuk pengawetan yang efisien, produksinya harus mencapai 60% dari total organic acid dalam silase. Saat silase di konsumsi oleh ternak, latic acid akan di manfaatkan sebagai sumber energi ternak tersebut.

Phase 3 ini adalah phase yang paling lama saat ensiling, proses ini berjalan terus sampai kadar pH dari bahan hijauan yang di pergunakan turun terus, hingga mencapai kadar yang bisa menghentikan pertumbuhan segala macam bakteri, dan hijauan atau bahan baku lainnya mulai terawetkan. Tidak akan ada lagi proses penguraian selama tidak ada udara/oksigen yang masuk atau di masukan.

Tahap-4, Pencapaian final kadar pH tergantung dari jenis bahan baku yang di awetkan, dan juga kondisi saat di masukan dalam silo. Hijauan pada umumnya akan mencapai kadar pH 4,5, jagung 4.0. Kadar pH saja tidaklah merupakan indikasi dari baik buruknya proses fermentasi ini. Hijauan yang mengandung kadar air di atas 70% akan mengalami proses yang berlainan pada phase 4 ini. Bukan bakteri yang memproduksi latic acid yang tumbuh dan berkembang, namun bakteri clostridia yang akan tumbuh dan berkembang. Bakteri anaerobic ini akan memproduksi butyric acid dan bukan latic acid, yang akan menyebabkan silase berasa asam. Kejadian ini berlangsung karena pH masih di atas 5.0.

Tahap-5, Phase ini merupakan phase pengangkatan silase dari tempatnya /silo. Proses pengangkatan ini sangatlah penting namun biasanya tidak pernah di perhatikan oleh para peternak yang kurang berpengalaman. Hasil riset mengatakan bahwa lebih dari 50% silase mengalami kerusakan atau pembusukan yang di sebabkan oleh bakteri aerobic, saat di keluarkan dari silo. Kerusakan terjadi hampir di seluruh permukaan silase yang terekspos oksigen, saat berada pada tempat penyimpanan atau pada tempat pakan ternak, setelah di keluarkan dari silo. Kecermatan kerapihan dan kecepatan penanganan silase setelah dikeluarkan dari silo yang kedap udara sangatlah perlu untuk di cermati, agar tidak terjadi pembusukan


Keuntungan

  1. Rumput Gajah atau pennisetum purpureum yaitu rumput memiliki nutrisi tinggi memiliki ukuran besar yang umumnya digunakan sebagai pakan ternak Rumput ini yaitu rumput raksasa, karena sangat besarnya jadi rumput ini disebut dengan rumput gajah. Tetapi apakah rumput ini bakal diberikan pada gajah? Tidak, rumput ini tiddak diberikan pada gajah melain untuk pakan ternak sebagaimana kerbau, sapi, kambing, serta lembu.
  2. Karakteristik morfologi rumput gajah yaitu tumbuh tegak lurus, merumpun lebat, tinggi tanaman bisa meraih 7 mtr., berbatang tidak tipis serta keras, daun panjang, serta berbunga.
  3. Kandungan zat gizi rumput gajah terbagi dalam 19, 9% bahan kering, 10,2 persen protein kasar, 1,6% lemak, 34,2% serat kasar, 11,7% abu, serta 42,3% bahan esktrak tanpa ada nitrogen. Hasil dari banyak penelitian memberikan bahwa rumput gajah mempunyai nutrisi yang komplit serta sesuai sama keperluan hewan ternak.
  4. Nutrisi paling utama dari daun rumput gajah yaitu kandungan nitrogen serta proteinnya. Selain itu dalam daun rumput gajah juga ada serat serta vitamin yang cukuptinggi. Pakan ternak dari rumput gajah umumnya datang dari daun muda, lantaran aspek daya cerna yang tambah baik yaitu sekitar 70 persen. Sementara pada daun tua, daya cernanya cuma tinggal 50 persen. Selain itu daun muda mempunyai kandungan air yang sangat banyak.
  5. Dalam pemberian konsumsi daun rumput gajah, umumnya peternak memberi daun basah atau berbentuk olahan pengawetan daun hingga jadi formula kering sebagaimana silase serta hay. Nutrisi dari hasil awetan kering ini tidak bakal jauh tidak sama dari nutrisi daun basahnya.
  6. Manfaat rumput gajah ini untuk penggemukan sapi, keperluan minimum sekitar 1,5-0,8 bahan kering dari bobot sapi yang digemukkan. Jadi, seekor sapi yang bakal digemukkan berbobot 200 kg bakal diberikan rumput gajah fresh yang memiliki kandungan 21% bahan kering. Dengan hal tersebut, keperluan minimum hijauan sapi yang bakal digemukkan itu yaitu 200×0,5/100x1kg= 1.0 kg bahan kering atau 4,8 kg bentuk fresh rumput gajah. Tetapi, karena senantiasa ada sisi yang tidak dikonsumsi (bekas batang), jadi pemberian dilebihi 5% dari keperluan, jadi kurang lebih rumput gajah fresh yang bakal diberikan pada sapi yang bakal digemukkan sejumlah 105/100 x 4, 8 kg = 5,05 kg.


DAFTAR RUJUKAN

Mansyur, Tidi Dhalika, U. Hidayat Tanuwiria Dan Harun Djuned. 2007. Proses Pengeringan Dalam Pembuatan Hay Rumput Signal (Brachiaria decumbens) Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner : 714-720.
Nista, D., Hesty Natalia dan A. Taufik. 2007. Teknologi Pengolahan Pakan. Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi Dwiguna dan Ayam, Sembawa.
Rianto, E dan E Purbowati. 2010. Panduan Lengkap Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.
Rianto, E., Deasy Anggalina, Sularno Dartosukarno dan Agung Purnomoadi. 2006. Pengaruh Metode Pemberian Pakan Terhadap Produktivitas Domba Ekor Tipis. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner : 361-365.
Rianto, E., Mariana Wulandari dan Retno Adiwinarti. 2007. Pemanfaatan Protein Pada Sapi Jantan Peranakan Ongole Dan Peranakan Friesian Holstein Yang Mendapatpakan Rumput Gajah, Ampas Tahu Dan Singkong. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner : 64-70.

Kamis, 26 September 2019

Memilih Benih Bawang Merah yang Baik



Bawang merah adalah salah satu bumbu masak utama dunia yang berasal dari Iran, Pakistan, dan pegunungan-pegunungan di sebelah utaranya, tetapi kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia, baik sub-tropis maupun tropis. Wikipedia

Bawang merah atau Allium Ascalonicum adalah sejenis tanaman hortikultura musiman yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Pemilihan bibit unggul merupakan hal yang sangat penting sebab bibit unggulan sangat menentukan hasil panen tanaman bawang merah itu sendiri. Bibit merupakan pangkal dari keberhasilan tanaman.

Bibit yang jelek, berkeriput, terlalu kecil, terlalu lemah akan sulit menghasilkan umbi yang diharapkan. Bawang merah diperbanyak dengan biji dan umbi, tetapi pada umumnya sampai saat ini diperbanyak dengan umbi. Kebutuhan bibit bawang merah menyerap 30-40 % dari biaya produksi.
Ketrampilan petani untuk memilih benih bawang merah harus betul-betul dikuasai agar kita dapat melakukan budidaya tanaman dengan baik.

SYARAT UMBI BAWANG MERAH YANG BAIK


Persyaratan Umbi Bawah Merah yang akan dijadikan bibit sebagai berikut :

1)        Ukuran umbi untuk bibit :
a.       Umbi bibit besar (diameter > 1,8 cm atau  > 10 gram/umbi) 
b.       Umbi bibit sedang (diameter 1,5-1,8 cm atau 5-10 gram/umbi)
2)        Secara umum kualitas umbi yang baik untuk bibit adalah yang berukuran sedang.  
3)        Tanaman yang akan digunakan untuk bibit adalah yang dipanen pada umur yang cukup tua di kebun (65-100 hari) tergantung pada varietas dan tinggi tempat bertanam.
4)        Tidak bercampur dengan varietas lain (murni).
5)        Umbi benih berwarna cerah dan kulit mengkilat .
6)        Umbi benih bernas, padat, tidak keropos dan tidak lunak.
7)        Penampilan umbi sehat tidak mengandung bibit hama dan penyakit. Ini berarti bibit dipungut dari tanaman bawang merah yang sehat.
8)        Tidak cacat luka atau sobek.
9)        Telah mengalami penyimpanan antara 3-4 bulan tergantung varietasnya dan tempat penyimpanannya, yang penting bibit telah mulai tumbuh, yakni apabila ujung umbi dipotong akan tampak tunasnya yang berwarna hijau.  Untuk umur simpan yang lebih muda benih tetap tumbuh namun pada pertumbuhan berikutnya akan lebih rendah hasilnya dibandingkan benih yang telah siap tanam (telah cukup umur simpannya).
10)   Bila umbi bibit terlalu besar, atau persediaan bibit tidak mencukupi, umbi tersebut dapat dibelah. Pembelahan harus dilakukan sedemikian rupa, hingga tiap belahan disertai dasar cakramnya (discus) dengan arah membujur. Tiap umbi dapat dibelah menjadi 2-4 bagian. Akan tetapi bibit belahan ini akan menghasilkan umbi yang lebih sedikit, hingga produksi lebih rendah dari pada bibit utuh.
Kebutuhan Benih 800 – 1300 kg/Ha.

CARA MENGETAHUI MASA DORMANSI

Benih bawang merah hendaknya harus sudah mengalami masa Dormansi , bila kurang masa dormansinya umbi tidak akan tumbuh dengan baik, minimal umbi bawang merah harus sudah mengalami penyimpana > 3 bulan ( Masa Dormansi ). Untuk mengecek apakah umbi bawang merah sudah melewati umur 3 bulan, caranya dapat dilakukan dengan cara memotong umbi sepertiga bagian, memotongnya jangan terlalu dalam sehingga tidak mengenai calon, titik tumbuh tanaman. Setelah itu baru kita buka, nanti kalau sudah lebih 3 bulan penyimpanan akan muncul calon tanaman.



Gambar tersebut nampak bakal tunas tanaman setelah kita kupas, akan kelihatan bakal tanaman , hal ini akan muncul bila umbi telah melewati masa dormansi

KESIMPULAN

Pemilihan bibit bawang merah, adalah kegiatan awal,  yang harus kita perhatikan adalah mengetahui masa dormansi / lama penyimpanan benih, hal ini akan menentukan tingkat keberhasilan tanaman  dilapangan

Sumber : https://wibowopenyuluh.blogspot.com/2017/12/memilih-benih-bawang-merah-yang-baik.html

Sabtu, 21 September 2019

cara tips penggunaan ZPT bagi tanaman



Info Pertanian Online - Hormon tumbuhan, atau fitohormon, adalah sekumpulan senyawa organik bukan hara, baik yang terbentuk secara alami maupun dibuat oleh manusia, yang dalam kadar sangat kecil mampu mendorong, menghambat, atau mengubah pertumbuhan, perkembangan, dan pergerakan tumbuhan. Wikipedia

Salah satu upaya agar tanaman cepat berbuah adalah merangsang dengan menggunakan zat perangsangtumbuh (ZPT). Dimasyarakat luas zat itu memiliki sebutan beragam, antara lain Zat Pengatur tumbuh, pengatur tumbuhan tanaman, perangsang tanaman, pengatur zat tumbuh, stimulant, hormon tumbuh, agrohormon. Dari ragam sebutan itu, istilah yang sering dipakai adalah Zat Perangsang Tumbuh.
ZPT berfungsi sebagai pengatur, perannya dapat mempengaruhi aktifitas jaringan berbagai organ maupun system organ tanaman. ZPT tidak memberi tambahan unsur hara, karena bukan pupuk. Tugasnya dalam jaringan tanaman adalah mengatur proses fisiologis seperti pembelahan dan pemanjangan sel, juga mengatur pertumbuhan akar, batang, daun, bunga dan buah.
ZPT alami (Hormon), murni dibuat oleh tanaman itu sendiri , namun dengan kemajuan tekhnologi pertanian, bisa dibuat tiruannya. Dengan mempelajari rumus kimia yang terkandung pada ZPT alami (Hormon). Hasil tiruan tersebut lazim disebut ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) Buatan. Kalau diaplikasikan pada tanaman, pengaruhnya sama persis seperti ZPT alami (hormon).
Aplikasi ZPT, selain berfungsi merangsang bunga keluar lebih cepat dan serempak, juga dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas buah. Pemberian ZPT mutlak harus di ikuti pemupukan dan pengairan intensif, itu diperlukan untuk mengimbangi laju pertumbuhan dan kebutuhan hara pada tanaman, kalau aplikasi ZPT tanpa diimbangi pemupukan dan pengairan yang sesuai justru dapat membuat tanaman sakit (kurang baik).
Aplikasi ZPT perlu mempertimbangkan kondisi tanaman bersangkutan, saat aplikasi paling tepat, ketika pertumbuhan tanaman telah mencapai maksimum dan sehat kondisinya. Aplikasi ZPT hanya boleh dalam dosis kecil, kalau diberikan dengan dosis tinggi justru kurang efektif, justru dapat menghambat khasiat hormon yang di inginkan.
Produk-produk merk dagang yang beredar di pasar yaitu :

1.   Altagro
Mengandung bahan aktif natrium orto nitrofenol, natrium para nitrofenol, natrium 2,4 di netrofenol, dan natrium 5 nitroguaiakol. ZPT tersebut berhasiat merangsang pertumbuhan akar tanaman, meningkatkan daya serap akar terhadap unsur hara, mempercepat pertumbuhan daun, keluarnya Bungan dan pembentukan buah. Juga meningkatkan jumlah dan bobot buah.

2.   Premix
Kebanyakan orang mengenal premix itu adalah bahan bakar, akan tetapi perusahaan Surya Cipta Perkasa mengeluarkan nama premix tersebut untuk ZPT yang didalamnya mengandung bahan aktif Naphtalena Acetat, Giberelat Acid, Chlorophyll Stimulant. ZPT ini merupakan plant additive yang tergolong dalam derivate Auksin dan Giberelin yang berperan aktif dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman, juga mengandung chlorropyll stimulant yang berfungsi untuk meningkatkan zat hijau daun, sehingga berhasiat mepercepat pertumbuhan tanaman, meningkatkan kualitas dan jumlah panen serta memulihkan kondisi tanaman akibat serangan hama dan penyakit.

3.   Dekamon
ZPT ini berhasiat merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru, mencegah kerontokan bunga dan buah memiliki bahan aktif 2.4 di notrofenol, natrium 5 nitroguaiakol, natrium orto nitrofenol, natrium para nitrofenol. Dan masih banyak ZPT yang lainnya.

            Ketika merangsang pembungaan dan pembuahan memakai ZPT, kondisi tanaman harus dipersiapkan agar tumbuh prima lebih dulu. Saat diaplikasi, umur tanaman sudah cukup dewasa (telah memasuki usia produktif), sehat, dan memiliki cadangan karbohidrat  tinggi. Kondisi prima tersebut sebenarnya tidak berdiri sendiri , banyak factor pendukung yang menunjang untuk mencapai kondisi tersebut. Antara lain ditunjang oleh keadaan lingkungan disekitar tanaman sperti udara, angin, air, sinar matahari, suhu, kelembapan, dan zat hara.
            Setelah kondisi prima terpenuhi, proses mempercepat tanaman berbuah dapat dilakukan dengan berbagai cara. Selain dirangsang dengan aplikasi ZPT, juga bisa dilakukan melalui rekayasa pemangkasan, pengaturan pengairan, dan pemupukan. Aplikasi ZPT sebaiknya dikerjakan sebagai upaya terkhir. Perlakuan aplikasi ZPT harus diimbangi dengan pemupukan dan pengairan yang intensif supaya aplikasi pemberian ZPT berjalan lancar pada tanaman tersebut.

Kamis, 19 September 2019

Pemanfaatan Gadung untuk pengendalian hama tikus



Info Pertanian Online - Tanaman Gadung banyak tumbuh di semak-semak, banyak ditanam oleh petani digunakan sebagai tanaman pagar,  dilahan hutan biasanya tumbuh liar, merambat pada tanaman tahunan/ tanaman keras, terkenal umbinya beracun, rasanya pahit dan punya duri yang sangat tajam.

Umbi gadung mengandung dioskorin salah satu alkaloid yang bersifat racun bagi serangga, ulat, cacing ( Nematoda) bahkan juga tikus. Dari kandungan kimia umbi Gadung dapat menimbulkan gangguan metabolisme ( anti makan, keracunan, bahkan manusia juga bisa keracunan akibat ini, istilah jawa mendem Gadung, keracunan berat yang berakibat orang tersebut tidak sadar. 

Jenis racun yang ada di Gadung dioscorin ( racun penyebab kejang), diosgenin ( antifertilitas) dan racun dioscin yang menyebabkan ganguan syaraf dan apabila makan akan akan terasa pusing dan muntah – muntah, selain itu umbi Gadung  ( Dioscorea Composita) juga mengandung saponin, amilum, CaC204, antidotum, besi , kalsium, lemak, garam fosfat, protein dan fitamin.

Komponen yang beracun yaitu zat sianida (HCN) yang merupakan bahan aktif dalam pengendalian tikus.

Manfaat racun gadung


Dapat digunakan untu racun membunuh serangga atau tikus, hal ini sangat ramah terhadap lingkungan, karena bahannya dipedesaan mudah didapat kami mengharapkan bahwa petani kita mampu membuat sendiri untuk pengendalian hama tikus. Hama tikus yang sudah terkenal hama yang cerdik dan ganas tidak semuanya racun tikus/ rodentisida sintetic / kimia dapat efektik untuk pengendalian hama ini.

cara membuat racun alami tikus dengan gadung


  • Bahan :  1kg umbi gadung, 10 kg bekatul, 1 ons tepung ikan, 1 buah kemiri.
  • Cara membuat : umbi gadung kita kupas kemudian kita parut , sehingga menjadi halus
  • Tambahkan 10 kg dedak padi / jagung, tepung ikan 1 ons dan 1 buah buah kemiri
  • Setelah menjadi adonan, campuran adonan buah gadung ditambah dengan dedak halus, tepung ikan dan kemiri , kita campur merata kita aduk-aduk hingga merata
  • Kemudian buat Pasta atau plet agar hama tikus lebih menyukai dan tidak banyak curiga umpan tersebut.


cara penggunaan racun gadung


Untuk mendapatkan hasil pengumpanan yang baik, kita surve tempat mana yang menjadi sarang tikus atau jalan-jalan tikus, kemudian pertama kita tempatkan makanan yang tidak beracun pada tempat yang menjadi jalan tikus, atau dekat sarang tikus, mana makanan yang banyak dimakan. Setelah itu kita evaluasi tempat mana yang paling bnyak dimakan. Kemudian tempat yang paling banyak dimakan kita ganti dengan racun yang telah kita buat. Biasanya cara pengumpanan seperti itu akan membuahkan hasil yang baik.

Sumber ; https://wibowopenyuluh.blogspot.com/2017/12/gadung-untuk-racun-tikus.html

Senin, 16 September 2019

Cara menanam pohon buah-buahan pada pot di rumah



Info Pertanian Online - Budidaya tanaman buah dalam pot, sangat dianjurkan karena dengan adanya kepemilikan lahan yang sempit, lahan pekarangan yang semakin sempit, kebutuhan akan konsumsi buah semakin meningkat. Ini mendorong kita untuk lebih meningkatkan akan budidaya tanaman buah dalam pot. 

Budidaya tanaman dalam pot dilingkungan rumah tangga tidak hanya sekedar  dapat meningkatkan kebutuhan gizi keluarga tetapi mempunyai unsur , pendidikan didalamnya. Rekayasa teknologi pelaksanaan Budidaya tanaman dalam Pot sangat kita harapkan, hal ini akan lebih mendorong para masyarakat akan kemauan untuk lebih meningkatkan kegiatan Budidaya tanaman buah dalam Pot.

Budidaya tanaman buah dalam Pot, pada hal teknologinya sangat sederhana, dan apabila dilaksanakan dengan baik terutama, dipelihara dengan baik akan sangat membuahkan hasil yang sangat memuaskan, ini merupakan peluang usaha, terutama terlebih bila dilakukan secara agribisnis juga dapat memberikan keuntungan yang cukup besar, karena dengan adanya sentuhan teknis akan menambah, keindahan hal ini yang akan meningkatkan nilai jual, pembeli tidak hanya menilai tanaman saja tapi menilai dari segi keindahan tanaman tersebut. Yang harganya tidak terbatas

Fungsi dan manfaat menanam pohon buah-buahan pada pot

  1. Secara teknis budidaya tanaman dalam Pot, dapat meningkatkan kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan secara maxsimal, walaupun dalam lahan yang sempit
  2. Ssecara Estetika : budidaya tanaman dalam pot dapat menambah keindahan , penataan ruangan baik didalam rumah maupun diluar rumah/ lahan pekarangan, membuat lingkungan kita nampak asri, nyaman
  3. Secara Paedagogies : budidaya tanaman dalam pot akan dapat digunakan sebagai media pendidikan dibidang pertanian, menumbuhkan minat keluarga untuk cinta , menekuni bidang pertanian
  4. Secara ekonomis : budidaya tanaman buah dalam Pot akan menambah pendapatan keluarga, dapat mencukupi kebutuhan gizi keluarga.


Bahan yang harus di siapkan menanam pohon buah-buahan pada pot


Untuk  melakukan budidaya tanaman buah dalam pot, sebelumnya kita dapat melakukan pengumpulan bahan, misalnya Jenis Pot: pot dapat dicarikan bahan yang sudah jadi misalnya pot plastik, drum bekas dan lain-lain, media tanam: dapat berasal dari tanah, pupuk kandang, arang sekam, cangkang padi , jenis tanaman yang akan kita tanam : diambilkan jenis tanaman yang kita sukai yang mempunyai keunggulan tertentu misalnya buahnya lebat, rasanya manis dll, punya nilai adaptasi lingkungan yang tinggi, tahan terhadap cuaca, suhu dll, sedangkan  alat lain seperti pisau, gunting pangkas, cetok dll, perlu kita siapkan sebelum budidaya tanaman buah dalam pot dimulai. Agar pada saat tanam dan pemeliharaan nanti dapat dilaksanakan dengan baik.

CARA MENANAM

Pot, yang telah kita pilih kita siapkan dengan cara mengecek lubang bawah pot sudah ada atau belum, bila belum kita harus melubangi sesuai dengan kebutuhan, pada prinsipnya agar pembuangan air siraman/ air hujan dapat terbuang dengan tuntas, kelembaban tanahnya dapat terjaga dengan baik. Kemudian kita isi 1/3 bagian pot yang ada dibawah kita isi dengan bahan pecahan bata merah/ genteng/ arang. Kemudian diatasnya kita isi campuran tanah, pasir, pupuk kandang / pupuk bokhashi, arang sekam.

Setelah itu masukkan campuran bahan tersebut kedalam pot sampai ketinggian 2/3 bagian. Selanjutnya kita dapat menanam tanaman buah yang telah kita pilih, tanaman yang kita tanam dapat berasal dari tanaman okulasi , cangkoan atau stek, setelah itu pot diisi agak penuh, tanah yang ada disekitar tanaman kita padatkan dengan cara ditekan dengan tangan, setelah itu kita siram secukupnya. Sebaiknya pada saat tanam, agar tanaman dapat tumbuh tegak dan tidak bergoyang supaya diberi ajir, sebagai penguat tumbuhnya tanaman.

Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman buah dalam pot, diantaranya dilakukan penyiraman apabila kondisi tanah dalam pot tidak lembab/ kondisi kering, penyiraman dapat dilakukan setiap pagi bila cuaca panas tetapi apabila pada musim hujan dapat dilakukan penyiraman sesuai kebutuhan. Pemupukan dapat dilakukan setiap 3 bulan sekali. Bila diperlukan pemupukan melalui media cair dengan pupuk NPK yang telah dilarutkan, dapat diberikan pada saat menyiram , dapat dilakukan stiap 1 mg sekali, tergantung kondisi tanaman.

Untuk pemangkasan tanaman dapat dilakukan pemangkasan bentuk sesuai dengan selera pemilik. Hal ini dilakukan pada saat tanaman sudah mulai tumbuh membentuk percabangan.

Sumber : https://wibowopenyuluh.blogspot.com/2017/12/menanam-tanaman-buah-buahan-dalam-pot.html

Minggu, 15 September 2019

Cara Membuat Pestisida Nabati alami



Info Pertanian Online - Pestisida nabati /alami diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan yang tumbuh disekitar kita.pestisida nabati relative lebih mudah dibuat dan didapat oleh petani , dari sisi lain pestisida alami/ nabati, mempunyai keistimewaan yang bersifat mudah terurai dialam, sehingga tidak mencemari lingkungan dan relative aman bagi lingkungan dan relative aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang. 

Pestisida nabati bersifat lebih amandan nyaman, yaitu apabila diaplikasikan akan membunuh hama pada waktu itu ( bersifat kontak) dan setelah hamanya terbunuh, maka residunya akan cepat hilang di alam. Dengan demikian tanaman akan terbebas dari residu pestisida dan aman untuk dikonsumsi.

Penggunaan pestisida nabati dimaksudkkan bukan untuk meninggalkan dan menganggap tebu menggunakan pestisida sintetis, tetapi merupakan suatu cara alternative agar pengguna tidak hanya tergantung kepada pestisida sintetis dapat diminimalkan, sehingga kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh penggunaan pestisida sintetis dapat dikurangi dan waktunya kerusakanpun dapat diperlambat pula.

Kegunaan pemakaian pestisida nabati adalah :



  • Untuk meminimalkan pemakaian pestisida sintetis sehingga dapat mengurangi kerusakan lingkungan.
  • Untuk mengurangi biaya usahatani yang mana bahan pestisida nabati mudah didapat yang tumbuh disekitar kita dan mudah dibuat
  • Tidak membahayakan terhadap kesehatan kita


Manfaat pestisida nabati :


  1. Sebagai bahan kimia dari tumbuhan
  2. Dapat digunakan sebagai agen pengendalian hama
  3. Bersifat mematikan hama dengan cepat
  4. Sebagai zat penghambat perkembangan serangga/ hama
  5. Bersifat sebagai zat pemikat
  6. Bersifat sebagai zat penolak
  7. Bersifat sebagai zat penghambat makan.


Cara membuat

Alat dan bahan


  1. Lumping
  2. Alat penumbuk
  3. Ember  plastic
  4. Saringan kain halus


 Bahan – Bahan :


  • Daun sirsak 1 genggam
  • Rimpang jeringau 1 genggam
  • Bawang putih 20 siung
  • Sabun colek 20 gram
  • Air 20 liter


Langkah kerja

-          Daun sirsak, rimpang jeringau, bawang putih ditumbuk halus
-          Seluruh bahan dicampur dengan sabun colek
-          Kemudian direndam dalam 20 lt air selama 2 hr
-          Keesokan harinya larutan tersebut disaring dengan kain halus
-          Masukkan kedalam botol

Cara menggunakan


  • Semprotkan pada bagian tanaman yang terserang hama wereng pada bagian pangkal batang, dengan larutan 1 lt pestisida nabati ditambah 17 lt air
  • Tanamn yang akan disemprot apabila berumur lebih dari 50 Hst, sebaiknya diwiyak dulu, untuk memudahkan penyemprotan.


Kesimpulan

Penggunaan pestisida nabati dilapangan perlu dimasyarakatkan karena disamping biayanya murah mudah dibuat dan ramah terhadap lingkungan.

Sumber : https://wibowopenyuluh.blogspot.com/2015/06/cara-membuat-ramuan-pestisida-nabati.html

Sabtu, 14 September 2019

Cara pemupukan yang berimbang untuk padi sawah




Info Pertanian Online - Akhir-akhir ini berdasarkan hasil ubinan yang ada menunjukkan bahwa produksi yang telah dicapai pada saat ini tidak ada kenaikan produksi dibanding tahun-tahun yang telah lalu, boleh dikatakan produksinya menurun. Kenaikan produksi yang Nampak telah dicapai di tahun 1980 s/d 1985, pada saat itu kita telah mencapai swasembada beras, kita mampu mengexport beras kenegara yang membutuhkan. Adanya kecenderungan penurunan produksi, dapat diistilahkan gejala leveling of, dari hasil penelitian dari para ahli, kondisi ini diakibatkan oleh perlakuan pemupukan yang tidak rasional, kecenderungan pemupukan N yang berlebihan, tidak diimbangi dengan pemberian unsure yang lain yang cukup, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi hara tanah yang ada.

Kebutuhan Hara Tanaman

Tanaman memperoleh makanan dapat berasal dari udara , air, tanah, dan unsure-unsur organic sebagai contoh :

1.       Dari udara dan air tanah : Karbon (C ) Hidrogen ( H ), oksigen (O)
2.       Dari tanah, pupuk buatan dan kotoran hewan : Nitrogen (N), Pospor (P), Kalium ( K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Sulfur ( S ), Besi (Fe), Mangan (Mn), dan Klorin (Cl), Co ( Kobalt)
Unsur-unsur tersebut memiliki peranan sangat penting dalam kehidupan tanaman, masing-masing unsure memiliki fungsi yang spesifik dan tidak dapat digantikan oleh unsure yang lain. Dalam hal peningkatan produksi pertanian penggunaan pupuk berimbang sangat penting karena dengan pemberian pupuk yang mengandung unsure N, P, K, S. dapat meningkatkan produksi padi yang ada.                        

Pengertian Pupuk Berimbang


Pupuk berimbang adalah suatu cara pemberian pupuk makro (NPKS ) yang seimbang yang sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kandungan hara tanah, dengan tetap memperhatikan pemberian  unsure hara mikro yang lain. Untuk kebutuhan pupuk yang mengandung unsure N, P, K, S dapat diambil dari pupuk kimia, sedang unsure hara mikro dapat diambil dari pupuk organic/ kandang. Pemupukan berimbang yaitu pemberian berbagai unsure hara dalam bentuk pupuk untuk memenuhi kekurangan hara yang dibutuhkan tanaman berdasarkan tingkat hasil yang ingin dicapai dan hara yang tersedia dalam tanah. 

Fungsi & Manfaat Pemupukan Berimbang


a.       Pupuk Nitrogen (N) yang dapat berupa Amonium sulfat/ ZA (NH4)2SO4, Urea (CO (NH2)2), Amonium nitrat (NH4NO3).
Fungsi dari pupuk nitrogen antara lain :
-          Merangsang pertumbuhan akar, batang dan daun
-          Membuat warna daun lebih tampak hijau
-          Memperbanyak anakan
-          Memperbaiki mutu dan jumlah hasil

b.      Pupuk P ( Fosfor )
Yang termasuk pupuk ini adalah super pospat tunggal (ES), Double superfosfat (DS) dan Triple super fosfat (TSP ), pupuk fosfor sebetulnya juga larut dalam air tetapi tidak secepat pupuk  urea, pupuk ini berfungsi :
-          Memperpanjang pertumbuhan akar, sehingga tanaman mudah menyerap makanan
-          Menguatkan batang dan mempercepat proses pemasakan buah
-          Memperbaiki mutu dan jumlah hasil

c.       Pupuk K ( Kalium)
Yang termasuk dalam pupuk kalium adalah pupuk kalium tunggal antara lain kalium sulfat (ZK), kalium magnesium sulfat.
Fungsi kalium bagi tanman :
-          Memperbaiki pertumbuhan tanaman
-          Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama/penyakit
-          Memperbaiki mutu hasil

Dosis Pupuk Berimbang


Sebagai Pedoman : untuk setiap ton gabag yang dihasilkan tanaman padi membutuhkan hara N sekitar 17,5kg, P. seanya 3 kg dan K sebanyak 17kg. agar pemberian pupuk dapat efektif dan efisien penggunaan pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan ketersediaan hara dalam tanah. Kebutuhan N tanaman dapat diketahui dengan mengukur tingkat kehijauan warna daun (BWD ). Pemupukan P dan K disesuaikan dengan hasil analisis status hara tanah sawah dan kebutuhan tanaman
Kisaran dosis pemupukan berdasarkan Permentan No.40/OT.140/4/2007
1.       Apabila menggunakan pupuk tunggal


Pupuk
Tanpa Organik
Dengan Jerami
5 Ton/ha
Dengan organic 2 ton/ha
Urea
250-350
230-330
200-250
SP 36
50-100
50-100
25-75
Kcl
50-100
0-50
30-80


2.       Apabila menggunakan kombinasi pupuk tunggal dan pupuk majemuk Phonska

Pupuk
Dosis kg/ha
Dosis Kg/Ha
Dosis Kg/Ha
Phonska
200
250
300
Urea
185-285
170-270
150-250
Sp36
Kurang 15
s/d surplus P
Surplus P
Surplus P
Kcl
Kurang 50 s/d cukup K
Kurang 40 s/d Surplus K
Kurang 35 s/d Surplus K


3.       Anjuran waktu pemupukan
Pemupukan I : umur 0-14 hari setelah tanam
Pemupukan ke II : umur 21-28 hari setelah tanam
Pemupukan ke III : umur 35 hari setelah tanam hingga primordia

Sumber : https://wibowopenyuluh.blogspot.com/2015/06/pemupukan-berimbang-padi-sawah.html

cara menghitung takaran kebutuhan pupuk untuk padi sawah



Info Pertanian Online - Cara menghitung takaran Kebutuhan Pupuk Untuk Padi sawah - Mengapa kita perlu menghitung kebutuhan pupuk untuk padi sawah ?, hal ini dimaksudkan supaya kebutuhan akan unsur hara baik unsur hara makro dan mikro dapat kita cukupi sehingga tanaman mampu memberikan produksi yang maksimal. Suatu tanaman akan tumbuh dengn baik apabila unsur hara yang dibutuhkan baik unsur hara Makro dan Unsur hara mikro tercukupi jumlahnya, banyak petani yang tidak tahu bagaimana cara menghitung kebutuhan unsur hara tanaman, terutama unsur hara makro N, P, K, dan S. Sehingga petani sering dihadapkan oleh permasalahan tanamannya yang tidak tumbuh dengan subur dan tidak mampu memberikan produksi yang optimum bahkan produksi tanamannya rendah, tidak sesuai dengan potensi yang ada.

Fungsi dan Maanfaat

1.     Tanaman tercukupi akan unsur hara makronya sesuai dengan dosis anjuran
2.     Tidak akan terjadi kelebihan maupun kekurangan dosis pupuk yang diberikan
3.     Petani dapat melakukan pemupukan dengan tepat ( tepat jenis, tepat jumlah, tepat cara dan tepat waktu )

Cara Menghitung :

Sebelum kita menghitung kebutuhan pupuk, suatu jenis tanaman sebelumnya kita harus mengetahui terlebih dahulu berapa kebutuhan unsur hara yang harus dipenuhi dalam satu periode tanaman, berikut ini contoh kebutuhan unsur hara komoditas padi, jagung, kedele, dan bawang merah dan lombok

Sebagai contoh tanaman padi akan dipupuk sebanyak, (135 kg N, 35 kg P2O5 dan 20 kg K2O per ha) , Cara menghitung takaran pupuk
adalah sebagai berikut :
1.     Apabila semuanya digunakan pupuk tunggal, maka jumlah pupuk yang dibutuhkan sebagai berikut:
N = 135/45 x 100 =  300 kg Urea (urea mengandung 45% N)
      P2O5 = 35/36 x100 = 100 kg SP-36 (SP-36 mengandung 36% P2O5)
      K2O = 20/60 x 100 = 33 kg/ha KCl (KCl mengandung 60% K2O )
2.     Menggunakan pupuk majemuk
Apabila digunakan pupuk tunggal dan majemuk, maka jumlah pupuk tunggal dan majemuk yang dibutuhkan sebagai berikut:
Contoh Phonska (15, 15, 15) yang berarti pupuk tersebut mengandung 15% N, 15% P2O5 , dan 15% K2O. Berapa kg Phonska yang diperlukan, maka gunakan standar dari kebutuhan pupuk tunggal yang paling rendah, yaitu 20 kg K2O/ha.
Cara menghitung takaran pupuk
(135 kg N, 35 kg P2O5 dan 20 kg K2O per ha)
Pupuk Phonska yang diperlukan = 20/15 x 100 = 133 kg/ha.
Dalam 133 kg pupuk Phonska mengandung 20 kg N, 20 kg P2O5, dan 20 kg K2O. Oleh sebab itu kebutuhan hara K sebesar 20 kg/ha sudah terpenuhi, namun keperluan hara N dan P belum tercukupi.
Kekurangan hara N adalah 135 kg N – 20 kg N = 115 kg N                              atau sama dengan 115 /45 x 100 = 256 kg urea.
Kekurangan hara P adalah 35 kg P2O5 - 20 kg P2O5 = 15 kg P2O5 atau sama dengan 15 /36 x 100 = 42 kg SP-36.

Sumber ; https://wibowopenyuluh.blogspot.com/2017/12/cara-menghitung-takaran-kebutuhan-pupuk.html