Selasa, 01 Oktober 2019

Padi Sistem IP400



Info Pertanian Online - Pangan merupakan kebutuhan manusia yang paling azasi, sehingga ketersediaan pangan bagi masyarakat harus selalu terjamin. Beras sebagai pangan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia dituntut tersedia dalam jumlah yang cukup, berkualitas, serta terjangkau. Kebutuhan beras nasional meningkat setiap tahunnya seiring dengan peningkatan jumlah penduduk sedangkan lahan yang tersedia semakin berkurang akibat alih fungsi lahan subur untuk kepentingan industri, perumahan dan penggunaan lahan non pertanian lainnya. Kebutuhan beras nasional pada tahun 2007 mencapai 30,91 juta ton dengan asumsi konsumsi per kapita rata-rata 139 kg per tahun. Indonesia dengan rata-rata pertumbuhan penduduk 1,7 persen per tahun dan luas areal panen 11,8 juta hektar dihadapkan pada ancaman rawan pangan pada tahun 2030.

Berbagai upaya peningkatan produksi dan produktivitas telah dilakukan pada tahun 2007 maupun tahun tahun sebelumnya, namun hal ini belumlah cukup, perlu terobosan di tahun 2009. Salah satu upaya yang mungkin dapat dilakukan adalah mengembangkan Indeks Pertanaman Padi 400 (IP Padi 400) yang merupakan pilihan menjanjikan guna meningkatkan produksi padi nasional tanpa memerlukan tambahan fasilitas irigasi.

Tekanan sistem produksi padi semakin lama semakin berat dan komplek sehingga memerlukan terobosan spektakuler non konvensional untuk mempertahankan kapasitas sistem produksi padi nasional sampai dengan tahun 2020. Konsep IP Padi 400 ditujukan untuk optimalisasi ruang dan waktu, sehingga indeks pertanaman dapat dimaksimalkan. Pendekatan yang dilakukan dalam IP 400 adalah dengan mengintegrasikan dan mensinergikan antara bioteknologi dan hibridisasi konvensional yang didukung oleh sistem perbenihan yang handal. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan benih padi ultra genjah (< 90 hari) sebagai instrumen utama yang didukung efisiensi waktu tanam dan panen. Saat ini telah tersedia padi umur sangat genjah (90-104 hari) seperti varietas Dodokan, Silugonggo dan Inpari 1. Selama untuk lahan beririgasi teknis selama setahun, dengan kondisi air yang memungkinkan, indeks pertanaman mencapai IP 300 (tiga kali tanam). Dengan umur varietas yang saat ini digunakan mencapai 110 hari, maka total hari selama setahun untuk tiga kali musim tanam mencapai 330 hari, ada waktu 30 hari untuk istirahat.

Namun penerapan IP 400 masih mengalami banyak kesulitan dan hambatan karena selama ini untuk mencapai IP 300 (tiga kali tanam padi) dalam setahun, masih ada yang belum optimal baik akibat keterlambatan sarana produksi maupun akibat iklim yang tidak mendukung.

Pola tanam IP 400 merupakan suatu pola tanam padi yang dilakukan sebanyak empat kali tanam dalam setahun. Benih padi yang digunakan yaitu Varitas Hybrida yang sudah diuji daya kecambah kurang lebih 90 porsen daya tumbuh antara lain varitas mekongga, sintha, cigleyies. Varitas ini adalah hasil uji coba dengan produksi mencapai kurang lebih 6 ton perhektar gabah kering giling.

Tekanan sistem produksi padi semakin lama semakin berat dan komplek sehingga memerlukan terobosan spektakuler non konvensional untuk mempertahankan kapasitas sistem produksi padi nasional sampai dengan tahun 2020. Konsep IP Padi 400 ditujukan untuk optimalisasi ruang dan waktu, sehingga indeks pertanaman dapat dimaksimalkan. Pendekatan yang dilakukan adalah dengan mengintegrasikan dan mensinergikan antara bioteknologi dan hibridisasi konvensional yang didukung oleh sistem perbenihan yang handal. 

Untuk mencapai hal tersebut diperlukan benih padi ultra genjah (< 90 hari) sebagai instrumen utama yang didukung efisiensi waktu tanam dan panen. Saat ini telah tersedia padi umur sangat genjah (90-104 hari) seperti varietas Dodokan, Silugonggo dan Inpari 1. Untuk menghasilkan produksi yang optimal, maka faktor-faktor yang menghambat produktifitas harus dipahami dan diupayakan solusinya secara baik dan benar. Berdasarkan pengalaman maka tantangan pada Pola Tanam IP - 400 di pertanaman padi khususnya pada lokasi lahan praktek yang perlu dipertimbangkan adalah benih unggul yang sudah diujicoba daya kecambahnya oleh para widyaiswara dan tim Teknis Balai bekerjasama dengan Balai Benih Padi Maros, dan pengendalian hama dan penyakit serta gulma

Terdapat dua strategi yang perlu diterapkan pada IP Padi 400 adalah pertama rekayasa sosial. dan rekayasa teknologi. Rekayasa sosial perlu ditangani lebih awal, mengantisipasi perilaku para petani  yang belum terbiasa melaksanakan IP Padi 400. Perlu berbagai upaya rekayasa sosial yaitu (a) advokasi (b) pengorganisasian komunitas petani (c) pengembangan jaringan untuk menjalin kerjasama (d) pengembangan kapasitas dengan meningkatkan kemampuan masyarakat dan (e) pengembangkan KIE (komunikasi, informasi dan edukasi). Strategi kedua, yaitu Rekayasa Teknologi dengan menggunakan varietas unggul yang berumur sangat genjah (90-104 hari), berproduksi tinggi, teknologi hemat air, tanam benih langsung, persemaian culikan, serta pengembangan sistem monitoring dini.

Program IP Padi 400 dicapai melalui empat tahap yaitu : (1) Tahap Rancang Bangun dan Penelitian (2008-2014) yang bertumpu pada perakitan padi umur ultra genjah (varietas padi umur kurang dari 90 hari); (2) Tahap Uji Lapang dan Sosialisasi (2009-2010); (3) Tahap Pengembangan (2011- dst) yang akan diterapkan pada lahan sawah seluas 1,5 juta ha; dan (4) Tahap Evaluasi dan Pemantapan (2010-dst). Saat ini IP Padi 400 telah memasuki tahap uji coba yang dilaksanakan mulai Musim Hujan II 2009 (Januari/Februari 2009) sebagai musim tanam II (MT II)  yang dilaksanakn di beberapa Kebun Percobaan yang berlokasi di Pusakanegara (Sukamandi                                                
Munculnya ide untuk meningkatkan IP Padi menjadi 400 ini bermula dari keinginan untuk memanfaatkan ruang dan waktu yang ada. Selama untuk lahan beririgasi teknis selama setahun, dengan kondisi air yang memungkinkan, indeks pertanaman mencapai IP 300 (tiga kali tanam). Dengan umur varietas yang saat ini digunakan mencapai 110 hari, maka total hari selama setahun untuk tiga kali musim tanam mencapai 330 hari, ada waktu 30 hari untuk istirahat. Adapun cara untuk mencapai ip 400, yaitu dengan cara menggunakan varietas ultra genjah yang berumur kurang dari 85 hari per musim tanam. Varietas ultra genjah inilah yang bakal mengawal pelaksanaan IP Padi 400.                                                        

Pola tanam IP 400 merupakan suatu pola tanam padi yang dilakukan sebanyak empat kali tanam dalam setahun. Benih padi yang digunakan yaitu Varitas Hybrida yang sudah diuji daya kecambah kurang lebih 90 porsen daya tumbuh antara lain varitas mekongga, sintha, cigleyies. Varitas ini adalah hasil uji coba dengan produksi mencapai kurang lebih 6 ton perhektar gabah kering giling. Kajian ini hasil ubinan di Balai pada tahun 2008 dengan sendirinya layak untuk dikaji para widyaiswara, para penyuluh pertanian bahkan kepada ketua kelompok tani sehingga dapat diimplementasikan kepada petani lain di sekitar wilayah lahan kerja Balai.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2007. Padi IP 400 (On Line). http://www.warintek.progressio.or.id. Diakses tanggal 8 November 2010. Balai Penelitian Tanaman Padi. Sukamandi. Subang.

Badan Litbang Pertanian. 1999. Rencana Strategis Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian 1999-2004. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.

Subandi. 2004. Peran inovasi dalam produksi padi IP 400. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.

Sutoro, Y., Soeleman dan Iskandar. 2006. Budidaya Tanaman Padi IP 400. Puslitbang Tanaman Pangan, Bogor.

Ar-Riza, I. 2005. Pedoman Teknis Budidaya Padi  Lahan Lebak. Balittra. Puslibang Tanah dan Agroklimat. Badan Litbang Pertanian.  

http://dodikfaperta.blogspot.com/2012/02/padi-sistem-ip400.html

Sabtu, 28 September 2019

prospek peranan pemuliaan tanaman padi dalam dinamika perkembangan zaman



Info Pertanian Online - Padi merupakan bahan makanan pokok bagi sekitar setengah penduduk dunia. Di Indonesia padi merupakan makanan pokok utama, disusul jagung dan ketela pohon.Sekitar 90% produksi dan konsumsi padi berada di Asia.

Peningkatan produksi padi tetap merupakan tantangan utama di masa depan.  Pada tahun 2025 kebutuhan padi nasional diprediksikan meningkat dengan adanya pertambahan penduduk.Hal ini bertolak belakang dengan  produksi padi yang dihasilkan per tahunnya yang semakin menurun dikarenakan sulitnya membuka lahan pertanian yang baru,serta dinamika nasional dan global yang kompleks.Tanpa upaya yang serius, permasalahan tersebut tidak akan teratasi.Salah satu upaya untuk menyelesaikan permasalan tersebut adalah dengan pemuliaan tanaman.

Pemuliaan tanaman merupakan suatu metode yang secara sistematik merakit keragaman genetik mennjadi suatu bentuk yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.Dalam pemuliaan tanaman berperan ilmu (science) dan seni (art) yang ada pada diri pemulia dalam melakukan pemuliaan tanaman.

Varietas unggul sebagai hasil kegiatan pemuliaan tanaman merupakan salah satu teknologi kunci dalam peningkatan hasil padi.Peningkatan produksi padi didominasi peranan peningkatan produktivitas (teknologi).Sementara itu dalam teknologi,peran varietas bersama pupuk dan air terhadap peningkatan produktivitas padi.

Tinjauan sejarah dan perspektif kedepan pemuliaan padi sawah khususnya di Indonesia, diharapkan dapat mengungkap dinamika dan perannya dalam penyediaan  pangan di Indonesia dulu, kini, dan esok.

Upaya perakitan varietas padi di Indonesia ditujukan untuk menciptakan varietas yang berdaya hasil tinggi dan sesuai dengan kondisi ekosistem, sosial, budaya, serta preferensi masyarakat.  Sejalan dengan berkembangnya kondisi sosial ekonomi masyarakat, varietas yang dirakit pun terus berkembang. 

Padi hibrida merupakan salah satu hasil pemulian tanaman padi yang diciptakan dengan rekayasa genetika untuk meningkatkan produksivitas padi baik kualitas dan kuantitasnya.

Persilangan padi di Indonesia dimulai pada tahun 1920-an, dengan memanfaatkan gene pool yang dibangun melalui introduksi tanaman.  Sampai dengan tahun 1960-an, pemuliaan padi diarahkan pada lahan dengan pemupukan yang rendah, atau tanaman kurang responsif terhadap pemupukan (Harahap,1972).

Pengembangan varietas banyak diarahkan untuk meningkatkan daya adaptasi dan  toleransi terhadap cekaman biotik maupun abiotik pada agroekosistem yang dihadapi, sehingga mampu menciptakan stabilitas hasil tanaman yang baik (Khus et al., 1990)..

Ada beberapa teknologi yang dikembangkan untuk mengatasi sulitnya meningkatkan potensi hasil tanaman padi, dianaranya adalah perakitan padi hibrida dan padi tipe baru.  Rekayasa Genetika dengan memanfaatkan bioteknologi modern pun turut dimanfaatkan misalnya dalam peningkatan ketahanan terhadap hama/penyakit serta peningkatan mutu rasa dan nilai gizi beras (Wu, et al., 2002).

Rekayasa genetik pada tanaman padi telah banyak dan dilakukan dan telah berhasil dirakit beberapa varietas padi transgenik.  Upaya yang telah dilakukan mislnya untuk memasukkan gen ketahanan terhadap bakteri, fungi, serangga, serta perbaikan kualitas nutrisi tanaman.Ketahanan terhadap bakteri Xanthomonas oryzae dirakit dengan memanfaatkan gen Xa yang berasal dari spesies Oryza longistaminata.  Padi transgenik yang telah ada antara lain adalah Bt rice yang tahan terhadap hama penggerek batang,  Golden rice yang merupakan padi transgenik dengan kandungan beta karoten (provitamin A) yang tinggi, varietas dengan kandungan Fe pada beras yang tinggi, serta upaya memodifikikasi fotosintesis dari C3 menjadi C4.  Kegiatan besar yang saat ini tengah dilakukan adalah pemetaan genetik genom padi secara molekuler (Matsuoke, et al., 2000).

 Penemuan DNA memungkinkan dilakukannya identifikasi, isolasi dan modifikasi gen.  Karena setiap makhluk hidup pada dasarnya memiliki struktur DNA yang sama, maka Gen yang pada dasarnya merupakan segmen DNA dari spesies manapun, dari hewan, bakteri,  maupun tumbuhan dapat  disisipkan pada segmen DNA tanaman.  Proses tersebut dinamakan transformasi gen dan tanaman yang telah dimasuki gen asing disebut dengan tanaman transgenik (Matsuoke, et al., 2000).

Padi hibrida merupakan salah satu terobosan untuk mengatasi terjadinya stagnasi peningkatan potensi hasil varietas-varietas tipe sebelumnya.  Kunci kemampuan hibrida untuk memecahkan kemandekan peningkatan potensi hasil adalah potensi heterosisnya (hybrid vigor), yaitu superioritas F1 hibrida atas tetuanya (Virmani et al., 1997). 

Varietas padi hibrida diharapkan memiliki karakteristik daya hasil lebih tinggi daripada varietas yang umum ditanam petani saat ini.  Selain keunggulan potensi hasil tersebut, padi  hibrida harus disertai dengan berbagai sifat unggul yang terdapat pada varietas pembanding yang saat ini umum ditanam petani (Virmani,1994)

Penemuan DNA memungkinkan dilakukannya identifikasi, isolasi dan modifikasi gen.  Karena setiap makhluk hidup pada dasarnya memiliki struktur DNA yang sama, maka Gen yang pada dasarnya merupakan segmen DNA dari spesies manapun, dari hewan, bakteri,  maupun tumbuhan dapat  disisipkan pada segmen DNA tanaman.  Proses tersebut dinamakan transformasi gen dan tanaman yang telah dimasuki gen asing disebut dengan tanaman transgenik. 

Rekayasa genetik pada tanaman padi telah banyak dan dilakukan dan telah berhasil dirakit beberapa varietas padi transgenik.  Upaya yang telah dilakukan mislnya untuk memasukkan gen ketahanan terhadap bakteri, fungi, serangga, serta perbaikan kualitas nutrisi tanaman.Ketahanan terhadap bakteri Xanthomonas oryzae dirakit dengan memanfaatkan gen Xa yang berasal dari spesies Oryza longistamina.  Padi transgenik yang telah ada antara lain adalah Bt rice yang tahan terhadap hama penggerek batang,  Golden rice yang merupakan padi transgenik dengan kandungan beta karoten (provitamin A) yang tinggi, varietas dengan kandungan Fe pada beras yang tinggi, serta upaya memodifikikasi fotosintesis dari C3 menjadi C4.  Kegiatan besar yang saat ini tengah dilakukan adalah pemetaan genetik genom padi secara molekuler

Perakitan Padi Hibrida

Padi hibrida merupakan salah satu terobosan untuk mengatasi terjadinya stagnasi peningkatan potensi hasil varietas-varietas tipe sebelumnya.  Kunci kemampuan hibrida untuk memecahkan kemandekan peningkatan potensi hasil adalah potensi heterosisnya (hybrid vigor), yaitu superioritas F1 hibrida atas tetuanya. 

Pengembangan padi hibrida diawali dengan penemuan CMS (cytoplasmic male sterile) dan paket teknologi produksi benih padi hibrida. Teknologi padi hibrida dalam hal ini memerlukan pemanfaatan tiga galur, yaitu CMS, Restorer, dan Maintainer, sehingga biasa disebut dengan teknik tiga galur  Selanjutnya berkembang teknik hibrida dua galur yang memanfaatkan galur EGMS = Environment Genic Male Sterility.  Galur EGMS dapat menjadi steril pada kondisi tertentu sehingga  digunakan sebagai mandul jantan, tetapi dapat menjadi fertil pada kondisi yang lain sehingga digunakan untuk memperbanyak galur EGMS tersebut.  Satu galur yang lain adalah tetua jantan. 

Teknik tiga galur memerlukan dukungan komponen-komponen berikut :

  1. Galur mandul jantan  (CMS = galur A) yang 100% mandul dan stabil kemandulannya
  2. Galur pemulih kesuburan (restorer = galur R) yang tinggi daya pemulihan kesuburannya, serta daya gabung khususnya, sehingga  nilai heterosis tinggi
  3. Galur pelestari kemandulan tepung sari (galur B) yang murni


Varietas padi hibrida diharapkan memiliki karakteristik daya hasil lebih tinggi daripada varietas yang umum ditanam petani saat ini.  Selain keunggulan potensi hasil tersebut, padi  hibrida harus disertai dengan berbagai sifat unggul yang terdapat pada varietas pembanding yang saat ini umum ditanam petani. 

Padi hibrida yang dihasilkan saat ini banyak memiliki latar belakang  genetik galur-galur yang berasal dari IRRI.  Namun demikian, pemanfaatan galur-galur yang beradaptasi baik di Indonesia mulai dilaksanakan, sehingga pada masa datang diharapkan hibrida yang dihasilkan sudah beradaptasi terhadap kondisi agroekosistem di Indonesia. 

Perakitan dan pengujian padi hibrida yang dilaksanakan di Indonesia telah menghasilkan tiga kombinasi hibrida harapan yang telah diuji multi lokasi.    Saat ini telah berhasil dilepas dua varietas hibrida, yaitu Maro dan Rokan.  Walaupun demikian, pengembangan padi hibrida saat ini masih menghadapi beberapa kendala seperti :

  1. Standart heterosis yang tidak stabil pada lingkungan yang berbeda
  2. Produksi benih hibrida yang masih rendah, karena tidak sinkronnya pembungaan galur CMS dengan restorer (R) dan maintainer (B).  Namun demikian, pada penelitian terakhir di lapangan dilaporkan bahwa sinkronisasi pembungaan antara galur CMS dan Restorer cukup baik dan tidak ada interaksi yang nyata antara galur dengan lingkungan.
  3. Galur-galur CMS sangat peka terhadap hama dan penyakit daerah tropis.  Namun demikian, dengan pemanfaatan Restorer yang tahan kelemahan tersebut diharapkan dapat tertutupi.


Perakitan Padi Tipe Baru

Sejak varietas IR8 yang sangat respon terhadap pemupukan tersebar luas di berbagai negara, revolusi hijau dimulai dan produksi padi meningkat luar biasa.   Namun, sejak tahun 1980-an produktivitas padi sawah tidak banyak meningkat, hal itu diduga karena diversitas genetik yang sempit.  

Upaya terobosan dilakukan untuk membentuk arsitektur tanaman yang memungkinkan peningkatan produktivitas tanaman.  Padi yang akan dibentuk tersebut kemudian dikenal dengan padi tipe baru.IRRI mulai mengembangkan padi tipe baru pada tahun 1989 dan pada tahun 2000 hasil-hasilnya telah didistribusikan ke berbagai negara untuk dikembangkan lebih lanjut. 

Landasan pemikiran dalam pembentukan padi “tipe baru” adalah meningkatkan Indeks Panen (IP) dan produksi biomassa tanaman. Indeks panen adalah perbandingan bobot kering gabah dengan total biomassa tanaman.  IP varietas padi sebelumnya (semi dwarft) berkisar antara 0,45-0,50.  IP tersebut diupayakan untuk ditingkatkan menjadi 0,6.  Cara untuk meningkatkan IP tersebut adalah dengan meningkatkan proporsi distribusi fotosintat ke sink daripada ke source yang akan diperoleh dengan cara meningkatkan sink size yang meliputi : peningkatan jumlah gabah per malai dan peningkatan translokasi asimilat ke gabah, serta meningkatkan masa pengisian gabah, antara lain dengan penundaan senescence kanopi, memperpanjang masa pengisian biji, dan peningkatan ketahanan terhadap rebah.   Adapun cara untuk meningkatkan biomassa tanaman adalah memodifikasi kanopi sehingga pembentukan kanopi dan penyerapan hara cepat serta mengurangi konsumsi karbon.

Karakteristik arsitektur tanaman yang diperkirakan dapat meningkatkan indeks panen adalah berpotensi hasil tinggi, malai lebat (± 250 butir gabah per malai), jumlah anakan produktif lebih dari 10 buah dengan  pertumbuhan yang serempak, tanaman pendek (± 90 cm), bentuk daun lebih efisien, hijau tua, dan senescence lambat, tahan rebah, perakaran vigorous, batang lurus, tegak, besar, dan berwarna hijau gelap, sterilitas gabah rendah, berumur genjah ( 100-130 hari), beradaptasi tinggi pada kondisi musim yang berbeda, indeks panen mencapai 0,6, efektif dalam translokasi fotosintat dari source ke sink (biji), responsif terhadap pemupukan berat, dan tahan terhadap hama dan penyakit.

Kendala dalam program NPT menurut Peng et al, 1998 adalah produksi biomassa yang masih rendah, serta tingkat sterilitas yang masih tinggi, diduga karena populasi awalnya dibuat dengan menyilangkan padi yang berbeda sub spesies (indica x japonica tropic), sehingga terjadi ketidak teraturan meiosis dan tidak samanya distribusi kromosom pada keturunannya.

Upaya pemecahan yang dilakukan antara lain adalah melakukan persilangan sebanyak-banyaknya untuk membentuk populasi dengan memanfatkan tetua tropical japonica dengan sterilitas malai yang rendah, dan melakukan kultur embrio untuk persilangan yang sulit menghasilkan benih.

Populasi dasar padi NPT banyak dibentuk dengan memanfaatkan tetua dari sub spesies Indica dan Japonica tropik sehingga latar belakang genetiknya cukup luas dan diharapkan dapat memecahkan stagnasi yang terjadi pada varietas-varietas yang sudah ada.  Hidayat, 2001 melaporkan bahwa IRRI banyak sekali memanfaatkan varietas lokal Indonesia sebagai tetua dalam pembentukan NPT. 

 Varietas yang dijadikan sebagai donor untuk sifat anakan sedikit antara lain : Gaok, Genjah gempol, dan Genjah wangkal.  Varietas-varietas yang dapat membentuk sifat malai lebat antara lain: Djawa, Ketan Gubat, dan Pare Bogor. Sumber gen sifat batang kuat antara lain : Putih Dayen, Gunang, dan Sirah Bareh.  Varietas tahan tungro : Bali Ontjer, Gundil Kuning, Jimbrug, dan Umbuk putih.  Pada awalnya pembentukan populasi tanaman padi NPT di Indonesia telah digunakan varietas-varietas, IRBB5, Weshang II, Memberamo, Maros, TB154, BP68, IR65600 sebagai tetua persilangan.  Kegiatan tersebut telah menghasilkan galur-galur yang sedang diuji daya hasilnya seperti : BP138E-KN-36-2-2, BP364B-MR-33-2-PN-5-1, dan IR66160-121-4-5-3-MR-3-PN-1-2-1-1 (Balai Penelitian Tanaman Padi, 2001).  Diharapkan dalam beberapa tahun ke depan salah satu dari galur tersebut dapat dilepas sebagai varietas padi “tipe baru”.

Peranan Pemuliaan bagi kesejahteraan hidup manusia pada Masa Depan

Padi adalah sumber makanan pokok bagi hampir seluruh rakyat Indonesia.  Oleh karena itu, padi merupakan komoditi strategis yang dapat memberikan dampak yang serius pada bidang sosial, ekonomi, maupun politik di Indonesia.  Sejalan dengan hal tersebut, pengadaan padi nasional harus betul-betul diperhatikan agar tidak terjadi gejolak yang tidak diinginkan.

Penggunaan varietas hibrida dapat memberikan lonjakan peningkatan produktivitas yang memberikan harapan terpenuhinya kebutuhan padi dimasa yang akan datang.  Teknologi padi hibrida potensial untuk memenuhi kebutuhan pangan di indonesia.

 Padi Tipe Baru (New Plant Type, NPT), juga diharapkan dapat memacu peningkatan produksi padi.Potensi hasil varietas padi tipe baru mencapai 30 – 50% lebih tinggi daripada varietas unggul yang telah ada, pada kondisi lingkungan yang ideal.Keunggulan tersebut dapat ditingkatkan dengan memanfaatkannya sebagai  bahan dalam perakitan varietas hibrida.  

Varietas hibrida yang dihasilkan diharapkan memiliki produktivitas 15% lebih tinggi daripada NPT asalnya.  Keunggulan tersebut memberi harapan bahwa pelandaian peningkatan produktivitas padi dapat teratasi.Upaya pemuliaan tanaman padi telah secara nyata meningkatkan produksi padi.  Revolusi hiijau merupakan sumbangan nyata pemuliaan tanaman bagi kesejahteraan umat manusia.

Dalam rekayasa genetik tanaman padi, diterapkan pengujian-pengujian yang sangat ketat, meliputi berbagai hal secara komprehensif dan pada standar periode waktu tertentu.   Varietas yang dilepas telah melewati pengujian-pengujian tersebut sehingga diyakini aman bagimanusia dan lingkungan.  Khusus produk bahan konsumsi manusia, telah ada protokol pengujian tersendiri yang menjamin kemanan pangan tersebut. 

Rekayasa genetik tanaman padi diharapkan dapat mengatasi permasalahan ke depan yang ada.  Pemuliaan tanaman diharapkan dapat memberikan peran nyatanya dalam setiap tahap perkembangan peradaban manusia.  Setelah green revolution, diharapkan muncul gene revolution yang mampu mengatasi permasalahan pangan ke depan tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Adijono, Suwarno, Yuniati P, E. Lubis, Sudibyo, dan B. Sutaryo. 2000.  Pengujian Beberapa Padi Hibrida Harapan di Berbagai Lingkungan Pengujian dalam Upaya Pengembangan Varietas Padi Hibrida.  Kumpulan Makalah Hasil Penelitian 1999/2000 Buku II.  Balai Penelitian Tanaman Padi. Sukamandi.
Makmur, A., 1985. Pengantar Pemuliaan Tanaman.  Bina Aksara.  Jakarta. 77 hal.
Soewito, T., Adijono Pa, E. Suparman, Supartopo, P.H. Siwi. 2000. Peningkatan ketahanan varietas padi unggul tahan terhadap wereng coklat.  Kumpulan makalah hasil penelitian 1999/2000.  Balai Penelitian Tanaman Padi. Sukamandi.
Suwarno. 2000.  Orientasi penelitian plasma nutfah dan pemuliaan untuk menyongsong tantangan perpadian masa depan.  Apresiasi seminar hasil penelitian tanaman padi.  Balai Penelitian Tanaman Padi Sukamandi, 10-11 November 2000.
http://dodikfaperta.blogspot.com/2013/04/prospek-peranan-pemuliaan-tanaman-padi.html

Kamis, 19 September 2019

Cara membasmi Hama Penggerek Batang Padi



Info Pertanian Online - Pengendalian hama adalah usaha menekan populasi hama serendah-rendahnya sehingga serangannya tidak mencapai tingkat kerusakan ekonomi (Oka, 1995:116).

Menurut Gallagher (1991:42) hama penggerek batang adalah hama yang berbentuk larva penggerek batang yang merusak padi sawah dengan cara memakan batang bagian dalam yang akan mematikan tunas.

Sedang menurut Paracaya ( 2007:126) penggerek batang padi juga disebut sundep atau mati pucuk jika menyerang padi sebelum berbunga tetapi apabila ulat tersebut menyerang setelah berbunga disebut beluk.

Menurut Ati wasiati ( 2007:50), Ciri hama penggerek batang padi putih adalah ngengatnya berwarna putih, panjang betina 13 mm dan jantan 11 mm, pada tertarik oleh cahaya, telurnya berwarna coklat kekuning-kuningan ditutupi rambaut halus bentuknya bulat lonjong sebesar jarum ditata dipermukaan atas daun atau pelepah. 

Ulat ini badannya gemuk penuh lemak berwarna kuning terang dan berkepala coklat, kepompongnya berwarna kuning terang diselubungi dengan anyaman benang berwarna putih.

Ciri hama penggerek batang padi kuning adalah ngengatnya berwarna coklat kekuningan, bagian sayap depan agak kebelakang terdapat titik hitam, ngengat betina lebih besar dari jantan, telurnya diletakkan di bagian bawah daun agak ke pucuk bentuknya agak pipih, telurnya seperti sisik yang ditata, kelompok telurnya bulu halus berwarna coklat terang sebesar biji kedelai, ulatnya berwarna kuning kecoklatan dengan kepala hitam, kepompongnya berwarna coklat diselimuti oleh benang halus berwarna putih.

Hama penggerek batang padi ini adalah menyerang mulai dari persemaian sampai dengan fase generatif. Serangan pada fase vegetatif disebut sundep, sedangkan pada fase generatif disebut beluk.
Gejala serangan di persemaian terlihat daun terluar yang layu dan mengering, jika dibuka pada pangkal batang akan ditemukan ulat yang masih kecil. 

Pada saat padi baru ditanam, dapat dilihat dengan matinya daun terluar atau matinya seluruh tanaman, jika dibuka didalamnya terdapat ulat kecil yang terdapat pada titik tumbuh. Serangan fase generatif dapat dilihat dari matinya malai, malai padi menjadi berwarna putih, malai tersebut apabila dibuka akan ditemukan ulat kecil (Widagdo, 1994:5-13).


Cara pengendalian Hama Penggerek Batang Padi

Cara pengendalian, hama penggerek batang padi dapat dilakukan dengan cara kimiawi yaitu dengan menggunakan bahan yang beracun. Sebaiknya penggunaan pestisida sistemik , misalnya Furadan 3 G. Virtako, Regent, Bancool dll, sedang Cara hayati yaitu dengan menggunakan hewan pemangsa/predator (seperti laba-laba, kumbang, parasit, serangga/tabuhan kecil, lalat)caranya dengan mempertahankan dan meningkatkan efektifitas musuh alami dengan memberi sumber daya lingkungan yang bermanfaat bagi perkembangan musuh alami. Pengendalian secara kultur teknis (bercocok tanam)yaitu melakukan pengolahan tanah yang baik, sanitasi, pemupukan berimbang, pengairan berselang, pergiliran tanaman, pemilihan waktu tanam yang tepat. Sedangkan secara mekanik adalah dengan pengumpulan serangga hama di lapangan dengan tangan atau secara langsung dengan perangkap (misalnya pengumpulan kelompok telur, kemudian ulat dimusnahkan).

Sumber : https://wibowopenyuluh.blogspot.com/2015/06/pengendalian-hama-penggerek-batang-padi.html

Minggu, 15 September 2019

pentingnya pupuk kalium pada tanaman padi sawah



Info Pertanian Online - Pupuk  Kalium merupakan jenis  pupuk yang banyak dibutuhkan oleh tanaman, karena pupuk ini banyak mengandung unsur K, unsur esensial yang sangat dibutuhkan oleh tanaman padi.

Kebutuhan akan pupuk Kalium dilahan sawah achir-achir ini sangat mendesak akan kebutuhannya, karena kandungan hara akan unsur K pada lahan sawah rata-rata kurang, dibanding dengan kebutuhan hara / unsur K pada tanaman padi sawah, hal ini dipicu adanya kebiasaan petani yang kurang baik dalam mengelola lahannya diantaranya kebiasaan petani yang selalu membakar sisa tanaman misalnya jerami padi mengakibatkan berkurangnya asupan unsur hara K dalam tanah, terlebih lagi petani diera sekarang selalu meggunakan pupuk kimia yang kandungan unsurnya terbatas ( Pupuk Tunggal ).

Kebiasaan  petani yang selalu membawa pupuk kandang kelahan sawah juga semakin berkurang, sehingga kondisi lahan kita strukturnya semakin menurun, dan miskin akan bahan organik. Jarang petani yang memikirkan kandungan unsur K yang ada dilahannya cukup atau tidak untuk kebutuhan tanaman yang dibudidayakannya, sehingga produksi yang dicapai tidak mencapai yang optimal, bahkan ada kecenderungan menurun akibat kesalaahan dalam pengelolaan lahannya.

FUNGSI DAN MANFAAT


-          Membantu perkembangan akar
-          Mempercepat jaringan tanaman sehingga daya tahan terhadap beberapa hama/ penyakit meningkat
-          Kalium mempunyai peranan dalam sintesa karbohydrat pada tanaman polong

C.      GEJALA KEKURANGAN


-          Daun berwarna hijau gelap, batang kecil
-          Daun berbecak becak yang dimulai dari ujung daun kemudian pinggir daun yang achirnya meluas keseluruh daun hingga daun menjadi kering dan berwarna kecoklat-coklatan
-          Pada daun , muda menjadi menggulung kelihatan seperti akibat kekurangan air ketika temperatur tinggi dan klembaban rendah
-          Gabah menjadi lebih ramping dan panjang dengan tingkat sterilitas yang tinggi serta pengisian gabah yang kurang
-          Akar-akar rumput menjadi busuk
-          Untuk tanaman padi akan peka terhadap helmintos porium, bercak daun coklat, bacterial leaf blight

D.     MACAM-MACAM PUPUK KALIUM

Jenis-jenis pupuk yang banyak mengandung unsur Kalium diantaranya adalah :
-          Kalium klorida KCL kandungannya 60% K2O,
-           Potasium Sulphate ( ZK = K2SO4 ) = 50% K2O
-          Kali salpeter = 14% N + 44 % K2O
-          NPK , Ponska 15 : 15 : 15 = kandungan unsur Kaliumnya 15 %
-          Pupuk Bokhasi / Kompos juga mengandung unsur Kalium yang dapat digunakan untuk memupuk tanaman

E.      WAKTU PEMBERIAN

-          Mengingat pupuk kalium mudah larut / terbasuk, maka pemberian kalium sama halnya dengan pupuk N
-          Untuk serealia diberikan 3 (tiga) kali, dimana 1/3 bagian K2O diberikan berturut – turut pada saat tanam dan pada saat primordia
-          Sedang pupuk K  yang berasal dari pupuk organik cair dapat diberikan pada saat pertumbuhan vegetatip dan generatip sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Sumber : https://wibowopenyuluh.blogspot.com/2017/12/pentingnya-pupuk-kalium-pada-tanaman.html

Sabtu, 14 September 2019

cara menghitung takaran kebutuhan pupuk untuk padi sawah



Info Pertanian Online - Cara menghitung takaran Kebutuhan Pupuk Untuk Padi sawah - Mengapa kita perlu menghitung kebutuhan pupuk untuk padi sawah ?, hal ini dimaksudkan supaya kebutuhan akan unsur hara baik unsur hara makro dan mikro dapat kita cukupi sehingga tanaman mampu memberikan produksi yang maksimal. Suatu tanaman akan tumbuh dengn baik apabila unsur hara yang dibutuhkan baik unsur hara Makro dan Unsur hara mikro tercukupi jumlahnya, banyak petani yang tidak tahu bagaimana cara menghitung kebutuhan unsur hara tanaman, terutama unsur hara makro N, P, K, dan S. Sehingga petani sering dihadapkan oleh permasalahan tanamannya yang tidak tumbuh dengan subur dan tidak mampu memberikan produksi yang optimum bahkan produksi tanamannya rendah, tidak sesuai dengan potensi yang ada.

Fungsi dan Maanfaat

1.     Tanaman tercukupi akan unsur hara makronya sesuai dengan dosis anjuran
2.     Tidak akan terjadi kelebihan maupun kekurangan dosis pupuk yang diberikan
3.     Petani dapat melakukan pemupukan dengan tepat ( tepat jenis, tepat jumlah, tepat cara dan tepat waktu )

Cara Menghitung :

Sebelum kita menghitung kebutuhan pupuk, suatu jenis tanaman sebelumnya kita harus mengetahui terlebih dahulu berapa kebutuhan unsur hara yang harus dipenuhi dalam satu periode tanaman, berikut ini contoh kebutuhan unsur hara komoditas padi, jagung, kedele, dan bawang merah dan lombok

Sebagai contoh tanaman padi akan dipupuk sebanyak, (135 kg N, 35 kg P2O5 dan 20 kg K2O per ha) , Cara menghitung takaran pupuk
adalah sebagai berikut :
1.     Apabila semuanya digunakan pupuk tunggal, maka jumlah pupuk yang dibutuhkan sebagai berikut:
N = 135/45 x 100 =  300 kg Urea (urea mengandung 45% N)
      P2O5 = 35/36 x100 = 100 kg SP-36 (SP-36 mengandung 36% P2O5)
      K2O = 20/60 x 100 = 33 kg/ha KCl (KCl mengandung 60% K2O )
2.     Menggunakan pupuk majemuk
Apabila digunakan pupuk tunggal dan majemuk, maka jumlah pupuk tunggal dan majemuk yang dibutuhkan sebagai berikut:
Contoh Phonska (15, 15, 15) yang berarti pupuk tersebut mengandung 15% N, 15% P2O5 , dan 15% K2O. Berapa kg Phonska yang diperlukan, maka gunakan standar dari kebutuhan pupuk tunggal yang paling rendah, yaitu 20 kg K2O/ha.
Cara menghitung takaran pupuk
(135 kg N, 35 kg P2O5 dan 20 kg K2O per ha)
Pupuk Phonska yang diperlukan = 20/15 x 100 = 133 kg/ha.
Dalam 133 kg pupuk Phonska mengandung 20 kg N, 20 kg P2O5, dan 20 kg K2O. Oleh sebab itu kebutuhan hara K sebesar 20 kg/ha sudah terpenuhi, namun keperluan hara N dan P belum tercukupi.
Kekurangan hara N adalah 135 kg N – 20 kg N = 115 kg N                              atau sama dengan 115 /45 x 100 = 256 kg urea.
Kekurangan hara P adalah 35 kg P2O5 - 20 kg P2O5 = 15 kg P2O5 atau sama dengan 15 /36 x 100 = 42 kg SP-36.

Sumber ; https://wibowopenyuluh.blogspot.com/2017/12/cara-menghitung-takaran-kebutuhan-pupuk.html

Pasca Panen Padi Sawah



Sawasembada pangan akan sulit tercapai apabila tanpa usaha penanganan pasca panen yang baik, penanganan pasca panen mempunyai nilai ekonomis dan dampak social yang sangat luas. Pengertian pasca panen secara harfiah artinya setelah panen, lepas panen atau ada yang menyebutnya purna panen. Pengertian penanganan Pasca panen merupakan kegiatan yang dilakukan terhadap suatu komoditas hasil pertanian, segera setelah komoditas tersebut dipanen. Atau Pasca panen adalah segala kegiatan penanganan hasil setelah panen. Penangan pasca panen bertujuan untuk mengurangi susut baik jumlah maupun susut kwalitas. Dalam kegiatan penanganan pasca penen ini termasuk juga pengolahan yang sifatnya tidak merubah struktur asli komoditas tersebut. Misalnya gabah jadi beras.



B.     KOMPONEN HASIL TANAMAN PADI

Setiap tingkat pertumbuhan tanaman padi punya andil dalam hasil gabah, karena itu perlu pengelolaan yang baik pada seluruh tingkatan pertumbuhan tanaman, begitu juga factor lingkungan angat,berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.

1.      Benih

Varietas unggul baru biasanya adalah jenis malai banyak. Sedang varietas unggul type baru mempunyai kemampuan membentuk malai yang lebih banyak, kelas benih juga berpengaruh terhadap pembentukan malai yang ada

2.      Anakan

Jumlah anakan yang terbentuk menentukan terhadap jumlah malai, hal ini merupakan factor yang penting untuk mendapatkan hasil yang tinggi

3.      Pembentukan malai

Jumlah daun yang cukup menjamin terhadap banyaknya jumlah bulir dan untuk pengisian bulir. Jumlah bulir permalai ditentukan pada stadia primordia.

4.      Pembungaan

Suhu rendah dan intensitas cahaya matahari yang tersedia pada stadia pembungaan akan meningkatkan jumlah bulir- bulir yang tersedia, persarian akan menentukan perkembangan bulir menjadi gabah

5.      Pemasakan

Tingkat pemasakan ini menentukan berat gabah.faktor cahaya sinar matahari sangat menentukan bila cahaya penuh ada pada saat pembungaan sampai dengan pengisian malai,akan memberikan bobot yang maxsimal.

C.     TANDA-TANDA PADI DAPAT DIPANEN

Waktu tanaman padi sudah dapat dipanen apabila malai tingkat kemasakannya sudah optimal ( tidak terlalu masak dan tidak terlalu kering ) atau pada umur 33-36 hari sesudah berbunga merata ( 95% rumpun telah berbunga), cirri-ciri yang nampak, daun bendera mulai kuning serta sebagaian telah mati ( kering kecoklat2an ). Panen dilakukan pada saat gabah mencapai kadar air 22-29%, telah mencapai masak yang maxsimal. 


D.    KEHILANGAN HASIL

Besarnya tingkat kehilangan hasil panen padi sejak panen s/d siap dikonsumsi berkisar antara 10%-37%

No
Kegiatan
Perkiraan kehilangan hasil
1
Susut Panen
1 - 3 %
2
Suaut Perontokan
2,0-6,0 %
3
Susut pengeringan
1 – 5 %
4
Susut Penyimpanan
2 - 6 %
5
Susut penggilingan
2- 10 %
6
Susut angkutan
2-7 %
Besarnya susut
10- 37 &

E.     CARA MENEKAN KEHILANGAN HASIL

1.      Gunakan alat pasca panen yang tepat,  menggunakan sabit bergerigi, alas yang lebar, gunakan pedal treser/ power tresser
2.      Tanaman sudah cukup umur. Perhatikan umur pada masing-masing varietas
3.      Cara panen sebaiknya kelompok( 15-20 orang) yang dilengkapi dengan alat perontok ( pasca panen)
4.      Gunakan katong / waring yang masih baik, tidak berlubang.
5.      Gunakan alas pada saat mengangkut tanaman padi yang telah dipotong ketempat perontokan

F.      CARA PENYIMPANAN HASIL

1.      Untuk memperoleh beras dengan kwalitas yang tinggi perhatikan waktu panen, sanitasi dan kadar air gabah ( 12-14%)
2.      Simpan gabah/beras dalam tempat yang bersih dalam lumbung/gudang bebas hama dan memiliki sirkulasi udara yang baik.
3.      Simpan gabah pada kadar air kurang dari 14% untuk konsumsi dan untuk benih 13%
4.      Gabah yang sudah disimpan apabila mau digiling harus dijemur dahulu sampai kadar air mencapai 12-14%.
5.      Sebelum digiling, Gabah yang baru dikeringkan diangin-anginkan terlebih dahulu untuk menghindari butir pecah.
6.      Gudang yang menggunakan semen atau beton harus menggunakan alas kayu setinggi 15 cm dari lantai
7.      Fentilasi gudang harus cukup baik, dapat menyalurkan udara panas atau kelembaban dan dapat menjaga keseragaman suhu dan tingkat kelembaban tertentu.

sumber : https://wibowopenyuluh.blogspot.com/2015/06/pasca-panen-padi-sawah.html