Jumat, 27 September 2019

Cntoh Makalah Perladangan dan Pekarangan



Pekarangan adalah sebuah sistem taman hutan tropis di tempat-tempat tinggal yang berkembang di Indonesia, terutama Jawa. Pekarangan telah ada sejak beberapa milenium SM, namun catatan pertama dari pekarangan ditemukan dalam sebuah babad Jawa dari tahun 860 M. Wikipedia

BAB IPENDAHULUAN


1.1    Latar Belakang

Indonesia merupakan negara sangat luas dan merupakan negara maritim terluas di dunia, jumlah pulau Indonesia sebanyak 13.466 pulau dan luas lahan di Indonesia adalah 1.910.931,32 km2 yang terdiri dari yang terbentang dari sabang hingga merauke. Dari jumlah luasan tersebut yang menjadi lahan produktif bagi sektor pertanian adalah sekitar 7,75 juta hektar dari keseluruhan luas lahan di Indonesia. Jumlah ini tentu saja tidak cukup luas dibandigkan dengan luasan lahan produktif yang dimiliki dan juga jumlah penduduk yang mencapai 250 juta jiwa di tambaha lagi dengan peningkatan konversi lahan pertanian dari tahun ke tahun mencapai 80.000 hektar per tahunnya menjadi lahan yang non pertanian.
Jumlah produksi dari produk–produk pertanian semakin menurun, di karenakan alih fungsi lahan pertanian disatu sisi pertumbuhan penduduk terus meningkat, praktis hal ini akan berpengaruh terhadap jumlah permintaan pasar terhadap produk–produk pertanian. Beberapa upaya yang telah di lakukan oleh pemerintah adalah diantaranya dengan pembukaan lahan baru untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, sebagai upaya mendukung terhadap program pemerintah, sebenarnya banyak lahan tidur yang tidak termanfaatkan di daerah kota seperti pemanfaatan lahan di pekarangan rumah termasuk diantara lahan tidur yang masih belum termanfaatkan di karenakan kehidupan dan mobilitas dari penduduk kota sangat tinggi sehingga penduduk kota masih kurang sadar untuk memanfaatkan lahan di pekarangan di bandingkan dengan penduduk desa di karenakan mobilitas penduduk desa tidak terlalu tinggi di bandingkan di kota.


1.2    Rumusan Masalah

1.     Apa defenisi perladangan ?
2.     Apa defenisi pekarangan ?

1.3    Tujuan Makalah

1.     Untuk memenuhi tugas yang diberikan dosen pada mata kuliah agroekosistem.
2.     Untuk mengetahui defenisi perladangan cera luas.
3.     Untuk mengetahui defenisi dari pekarangan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


Perladangan masih merupakan cara hidup penting bagi sebagian masyarakat miskin dan terpencil di pedesaan. Transformasi perladangan sebagaimana yang terjadi di Sumatra, baik ke arah positif atau negatif, terjadi juga di daerah lain. Kiranya, akan lebih bermakna bilamana proses transisi pola perladangan secara gradual dan sistem agroforestry yang terbentuk dalam proses evolusi tersebut dibiarkan berjalan sesuai dengan harapan masyarakat lokal.

FAO (Food Agriculture Organisation) melihat peladang ini sebagai suatu bencana International yang perlu segera mendapat perhatian. Hal ini terbukti dengan diterbitkannya buku L ‘agriculture nomade pada tahun 1956 oleh G. Tondeur yang membicarakan masalah perladangan di Congo dan Afrika Barat, kemudian 1957 diterbitkan buku yang kedua, Hanunoo agriculture di daerah Philiphina oleh H.C. Conklin. FAO memberikan perhatian besar terhadapa persoalan ini dan telah mengambil inisiatif untuk menggalakkan studi tentang obyek ini melalui cabang kehutanan dan Industri Kehutannannya.

Tujuan FAO mengatasi perladangan adalah untuk mempropagandakan metode-metode pertanian-pertanian modern yang diharapkan dapat memperbaiki kualitas produksi yang berguna dan hasil-hasil hewan yang dapat diperoleh dari tanah-tanah yang tersedia. Keperluan utama didaerah tropik basah adalah intensifikasi pertanian dan penambahan hasil persatuan luas. Peralihan dari pertanian tradisional ke pertanian yang telah berkembang dengan baik seringkali amat sukar untuk dicapai, dan penggunaan metode-metode yang intensif di dalam keadaan ini seringkali berakhir dengan kegagalan.

Teknik-teknik perladangan sama saja dimana-dimana yakni penebangan dan pembakaran vegetasi berkayu diikuti dengan penanaman selama satu, dua, atau tiga tahun, kemudian tanah ditinggalkan dan kembali menjadi hutan atau tutupan belukar selama periode yang panjang. Selain kesamaan ini, perladangan mempunyai perbedaan-perbedaan dalam hal tipe dan kehidupan daripada peladangnya sendiri. Kemudian para peladang sangat berbeda dari satu tempat ketempat lain dimana perladangan tersebut tidak selalu mengarah ke kehidupan nomadik.

Di Indonesia, banyak dijumpai perladangan berpindah-pindah karena merupakan kebiasaan yang sudah menjadi adat, sudah menjadi way of life dari penduduk yang bersangkutan. Pandangan ini didasarkan pada pengamatan mereka, bahwa perladangan berpindah-pindah itu dilakukan oleh orang berabad-abad lamanya tanpa sesuatu perubahan yang berarti.

Tetapi menurut Soedarwono, Dosen Fakultas Kehutanan UGM, penyebab adanya perladangan berpindah di Indonesia bukan karena adatnya sudah begitu. Perladangan berpindah, sesuatu bentuk pertanian yang resultante dari pengaruh alam lingkungan yang memaksa manusia bertindak menyesuaikan diri.

Lahan adalah suatu lingkungan fisik terdiri atas tanah, iklim, relief, hidrologi, vegetasi, dan benda-benda yang ada di atasnya yang selanjutnya semua faktor-faktor tersebut mempengaruhi penggunaan lahan. Termasuk di dalamnya juga hasil kegiatan manusia, baik masa lampau maupun sekarang (FAO. 1975, dalam Arsyad, 1989).

Penggunaan lahan (land use) dapat diartikan sebagai campur tangan manusia terhadap lahan, baik secara menetap maupun berkala untuk memenuhi kebutuhan hidup baik material maupun spiritual (Arsyad, 1989, Talkurputra, et.al.1996).

Penggunaan lahan dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan besar,yaitu penggunaan lahan pertanian dan penggunaan lahan bukan pertanian. Penggunaan lahan pertanian dibedakan secara garis besar ke dalam macam penggunaan lahan berdasarkan penyediaan air dan lahan yang diusahakan. Berdasarkan hal itu dikenal macam penggunaan lahan seperti sawah, tegalan, kebun, kebun campuran, lalang, perkebunan dan hutan. Penggunaan lahan bukan pertanian dapat dibedakan ke dalam penggunaan kota atau desa (pemukiman), industri, rekreasi dan sebagainya (Arsyad, 2000).

Hasil penelitian yang dilakukan Suharto (1994) tentang optimalisasi alokasi penggunaan lahan di DAS Solo Hulu, Jawa Tengah, ditinjau dari segi erosi,sedimentasi, dan debit menunjukkan erosi yang terbesar terjadi pada penggunan lahan tegalan buruk, Kemudian diikuti oleh lahan pekarangan, lahan tegalan baik, lahan hutan, dan yang paling rendah lahan sawah


BAB III
PEMBAHASAN


3.1  Defenisi Perladangan

A.    Pengertian Perladangan
Berladang merupakan kegiatan bercocok tanam oleh sekelompok masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, hal ini sangat erat kaitannya dengan tradisi budaya. ‘Perladangan bergilir’ atau biasa dikenal dengan ‘perladangan berpindah’, adalah istilah lain yang menggambarkan masa tanam dan masa bera yang berlangsung secara bergiliran. ‘Sistem tebas dan bakar’, mengacu pada konsep ladang bergilir, yang dalam proses penyiapan lahan diawali dengan cara ‘tebas dan bakar’. Namun demikian, cara ini seringkali dihubungkan dengan pengrusakan atau perambahan hutan karena dilakukan dalam skala luas oleh perkebunan besar atau petani pendatang.

Istilah seperti berladang, perladangan bergilir, sistem tebas bakar, mengacu pada deskripsi aktivitas perladangan. Secara teknis, istilah-istilah tersebut memiliki makna dan arti yang nyaris serupa, namun memberi langgam dan pola yang berbeda. Perubahan praktek perladangan baik secara bertahap maupun langsung dapat menjadi ‘solusi’ atau ‘masalah’, tergantung dari persepsi mana kita melihatnya. Seperti halnya dengan negara lain, dewasa ini, masalah ‘perladangan’ di Indonesia dipandang dari berbagai persepsi yang berbeda dan seringkali justru dianggap sebagai kegiatan yang melanggar hokum.

Perladangan berkembang menjadi tiga model, yaitu:

1.     ‘Agroforest’, dimana tanaman berkayu memiliki nilai yang sama bahkan bisa lebih tinggi daripada nilai tanaman pangan;
2.     Sistem pastura atau padang penggembalaan, dimana lahan didomestikasi untuk areal pakan ternak; atau
3.     Pertanian menetap sebagai bentuk intensifikasi pertanian. Misalnya penggunaan tanaman penutup tanah dari kelompok legum (kacang-kacangan) atau tanaman penyubur, penggunaan pupuk kandang yang dihasilkan dari padang penggembalaan, atau penggunaan pupuk kimia yang menggantikan fungsi masa bera sebagai unsur tambahan untuk mengembalikan kesuburan tanah. Sejumlah penelitian mengenai ‘perladangan’ difokuskan hanya pada fase tanam dan kesuburan tanah. Fase tanam diartikan sebagai fase penurunan kesuburan tanah, sebaliknya fase bera merupakan fase pemulihan kesuburan tanah.
langkah awal untuk memahami dinamika tersebut.
Sistem pertanian primitive subsistence farming hanya terdapat pada daerah-daerah dengan penduduk yang masih jarang sekali. Oleh karena mayoritas pembukaan lading dilakukan dengan cara membakar, selain menimbulkan kebakaran hutan dan polusi asap, kegiatan ini akan merusak lapisan humus. Walaupun demikian, keutnungannya terdapat penambahan unsur potash dalam tanah. Tanah hutan biasanya dibuka 3 atau 2 minggu sebelum musim penghujan.

B.    Masalah Perladangan dan Akibat yang Ditimbulkan
Pedidikan masyarakat hutan yang tergolong rendah dan sulitnya mencari mata pencaharian menyebabkan mereka memilih membuka ladang yang biayanya cukup murah dibandingkan dengan menanam atau menebang pohon karena pohon membutuhkan jangka tumbuh yang cukup panjang dan penjualan kayu terbilang sulit karena harus mempunyai izin penebangan. Perladangan liar  ini dapat merusak hutan karena jangka waktu rotasi perladangan yang dari waktu ke waktu semakin kecil menyebabkan tidak optimalnya regenerasi hutan.

Para ahli menyarankan bahwa regenerasi hutan sebaiknya dilakukan dalam periode 20 tahun. Selama peride tersebut, kondisi tanah secara alamiah dapat diperbaiki. Dengan kondisi sudah diregenerasi, tanah tersebut dapat dimanfaatkan lagi setelah masa regenerasi. Akan tetapi, sejalan dengan laju pertumbuhan penduduk yang semakin cepat, kebutuhan akan lahan garapan pun semakin mendesak. Tidak heran jika saat ini, periode regenerasi hutan dipersingkat menjadi 6 hingga 8 tahun bahkan kurang dari itu. Selain konsekuensi penurunan produktivitas tanah, perladangan liar juga mengakibatkan menurunnya luas hutan atau degradasi lahan hutan. Definisi degradasi agak bersifat subjektif  memiliki arti yang  berbeda tergantung pada suatu kelompok masyarakat. 

Rimbawan memiliki persepsi yang bervariasi terhadap arti degradasi. Sebagian mengatakan bahwa hutan yang  terdegradasi adalah hutan yang telah mengalami kerusakan sampai pada suatu  point/titik dimana penebangan kayu maupun non kayu pada periode yang akan datang  menjadi tertunda atau terhambat semuanya.  Sedangkan sebagian lainnya mendefinisikan hutan yang terdegradasi sebagai suatu keadaan dimana fungsi  ekologis, ekonomis dan sosial hutan tidak terpenuhi. Berkurangnya areal hutan diikuti pula dengan semakin gersangnya tanah, meluasnya populasi alang-alang, serta jenis rumput-rumputan lainnya yang sangat mudah terbakar di musim kemarau.

Masalah lainnya adalah masih banyak petani masih menerapkan sistem tebas bakar untuk membersihkan lahan di hutan meskipun pemerintah telah mencanangkan program ‘zero burning’ yaitu pembersihan lahan tanpa menggunakan api atau pembakaran. Dari sebuah studi yang dilakukan di Sumatera, dilaporkan bahwa keputusan petani untuk tetap melakukan proses pembakaran lahan disebabkan karena hal berikut:

1.      Merupakan cara yang paling efektif dan cepat dalam pembukaan lahan.
2.      Dapat menekan pertumbuhan gulma dan vegetasi liar lainnya, terutama pada siklus awal setelah penanaman tanaman pangan.
3.      Mengubah biomasa menjadi pupuk alami yang bermanfaat bagi tanaman dan tanah.
4.      Menggemburkan tanah, bibit tanaman menjadi cepat tumbuh.
5.      Merupakan cara yang efektif untuk membunuh hama dan pathogen.

Akibat sistem tebas bakar inilah maka terjadi ketidakseimbangan unsur hara karena hara mineral hilang selama masa pertanaman dan tidak dapat dipulihkan hanya dalam waktu yang singkat. Permasalahan mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi (REDD) di negara berkembang juga semakin hangat diperdebatkan sejak masyarakat global paham akan emisi dan perubahan iklim global. Tidak dapat dipungkiri bahwa 20% emisi gas rumah kaca global terjadi karena pola penggunaan lahan dan perubahan yang terjadi di beberapa wilayah tropis. Para peladang dianggap  sebagai penyebab degradasi hutan. Muncul juga kehawatiran penerapan REDD dapat membatasi ruang gerak masyarakat terhadap sumber daya yang mereka miliki.

Keterkaitan deforestasi, pembangunan dan kemiskinan sangat kompleks dan bersifat spesifik. Namun demikian, penggunaan api sebagai metoda pembersihan lahan disebut-sebut sebagai penyebab terjadin deforestasi. Meski demikian, pada kenyataannya perubahan penggunaan lahan tanpa menggunakan api dapat menyebabkan hilangnya persediaan karbon dalam jumlah besar. Larangan penggunaan api dapat berdampak serius pada kehidupan masyarakat. Selain itu perladangan berpindah dan kebakaran memiliki korelasi yang positif, karena musim berladang umumnya pada musim kemarau.  Hasil penelitian menunjukan bahwa pada setiap musim kemarau terjadi kebakaran dimana-mana karena dipicuh oleh aktivitas perladangan.

C.    Langkah-Langkah  Penanggulangan
Berkurangnya areal hutan diikuti pula dengan semakin gersangnya tanah, meluasnya populasi alang-alang, serta jenis rumput-rumputan lainnya yang sangat mudah terbakar di musim kemarau. Perladangan berpindah tanpa rotasi yang cukup dan melalui cara pembakaran lahan hutan akan mengakibatkan kerusakan keanekaragaman hayati serta sumberdaya tanah dan air (erosi, kesuburan tanah menurun, meningkatnya air permukaan, rusaknya habitat satwa, rusaknya habitat satwa, berubahnya ekosistem kawasan, pemadatan tanah), bencana lingkungan (banjir, longsor, kekeringan sumber air), perubahan iklim lokal (meningkatnya suhu, berkurangnya hujan, menurunnya kelembaban) serta pencemaran lingkungan.
   Bekas perladangan liar/areal terbuka ditandai dengan jenis-jenis vegetasi yang ada seperti alang-alang, sirih-sirihan, jenis Euphatorium dan Tremor. Salah satu salah bisa dilakukan untuk membuat lahan berpindah ini menjadi bisa layak kembali sebagai hutan adalah dengan merehabilitasi lahan tersebut dengan jenis pohon-pohon pionir setempat yang potensial untuk ditanam.

   Terdapat beberapa pendekatan untuk mengatasi degradasi dan mempercepat proses pemulihan ekosistem (recovery) :
a.      Pendekatan pertama adalah restorasi (restoration) yang didefinisikan sebagai upaya untuk memulihkan kembali (recreate) ekosistem hutan aslinya melalui penanaman dengan jenis tanaman asli yang ada pada kawasan atau lahan tersebutsebelumnya.
b.     Pendekatan kedua melalui rehabilitasi yang diartikan sebagai penanaman hutan dengan jenis asli dan jenis eksotik. Dalam hal ini tidak ada upaya untuk menrecreate ekosistem asli. Tujuannya hanyamengembalikan hutan pada kondisi stabil dan produktif. Oleh karena itu ekosistem hutan yang terbentuk adalah campuran termasuk jenis asli.
c.      Alternatif terakhir adalah reklamasi yang berarti penggunaan jenis-jenis eksotik untuk menstabilkan dan meningkatkan produktivitas ekosistem hutan.
Dalam hal ini tidak ada sama sekali upaya perbaikan biodeversitas asli dari suatu areal yang terdegradasi. Akan tetapi, masih ada kegiatan ladang berpindah yang mendukung keseimbangan ekosistem. Salah satu contoh kegiatan sistem perladangan berpindah yang tidak merusak hutan adalah yang dilakukan oleh orang dayak di kalimantan memberikan sebuah contoh terbaik di dunia tentang hubungan antara kebudayaan dengan alam, yang tampaknya melestarikan kedua belah pihak. Seperti pada sistem mereka dalam bercocok tanam dengan sistem rotasi panjang.

3.2  Pekarangan

A.    Pengertian Pekarangan
Menurut arti katanya, pekarangan berasal ari kata “karang” yang berarti halaman rumah (Poerwodarminto, 1976). Sedang secara luas, Terra (1948) memberikan batasan pengertian sebagai berikut:
“Pekarangan adalah tanah di sekitar perumahan, kebanyakan berpagar keliling, dan biasanya ditanami padat dengan beraneka macam tanaman semusim maupun tanaman tahunan untuk keperluan sendiri sehari-hari dan untuk diperdangkan. Pekarangan kebanyakan saling berdekaan, dan besama-sama membentuk kampung, dukuh, atau desa”.
Batasan pengertian ini, di dalam praktek masih terus dipergunakan sampai sekitar dua puluh tahun kemudian. Terbukti dari tulisan-tlisan Soeparma (1969), maupun Danoesastro (1973), masih juga menggunakan definisi tersebut. Baru setelah Soemarwoto (1975) yang melihatnya sebagai suatu ekosistem, berhasil memberikan definisi yang lebih lengkap dengan mengatakan bahwa:
“Pekarangan adalah sebidang tanah darat yang terletak langsung di sekitar rumah tinggal dan jelas batas-batasannya, ditanami dengan satu atau berbagai jenis tanaman dan masih mempunyai hubungan pemilikan dan/atau fungsional dengan rumah yang bersangkutan. Hubungan fungsional yang dimaksudkan di sini adalah meliputi hubungan sosial budaya, hubungan ekonomi, serta hubungan biofisika”. (Danoesastro, 1978).

B.    Dari Segi Sosial Budaya
Ditinjau dari segi sosial budaya, dewasa ini nampak ada kecenderungan bawa pekarangan dipandang tidak lebih jauh dari fungsi estetikanya saja. Pandangan seperti ini nampak pada beberapa anggota masyarakat pedesaan yang telah “maju”, terlebih pada masyarakat perkotaan. Yaitu, dengan memenuhi pekarangannya dengan tanaman hias dengan dikelilingi tembok atau pagar besi dengan gaya arsitektur “modern”.

Namun, bagi masyarakat pedesaan yang masih “murni”, justru masih banyak didapati pekarangan yang tidak berpagar sama sekali. Kalaupun berpagar, selalu ada bagian yang masih terbuka atau diberi pintu yang mudah dibuka oleh siapapun dengan maksud untuk tetap memberi keleluasaan bagi masyarakat umum untuk keluar masuk pekarangannya.

Nampaknya, bagi masyarakat desa, pekarangan juga mempunyai fungsi sebagai jalan umum antar tetangga, atar kampung, bahkan antar desa satu dengan yang lainnya.

Di samping itu, pada setiap pekarangan terdapat”pelataran” (Jawa) atau “buruan” (Sunda) yang dapat dipergunakan sebagai tempat bemain anak-anak sekampung. Adanya kolam tempat mandi atau sumur di dalam pekarangan, juga dapat  dipergunakan oleh orang-orang sekampung dengan bebas bahkan sekaligus merupakan tempat pertemuan mereka sebagai sarana komunikasi masa (Soemarwoto, 1978).

Jadi, bagi masyarakat desa yang asli, pekarangan bkanlah milik pribadi yang”eksklusif”, melainkan juga mempunai fungsi sosial budaya di mana anggota masyarakat (termasuk anak-anak) dapat bebas mempergunakannya untuk keperluan-keperluan yang bersifat sosial kebudayaan pula.

C.    Segi Ekonomi
Selain fungsi hubungan sosial budaya, pekarangan juga memiliki fungsi hubungan ekonomi yang tidak kecil artinya bagi masyarakat yang hidup di pedesaan. Dari hasil survey pemanfaatan pekarangan di Kalasan, disimpulkan oleh Danoesastro (1978), sedikitnya ada empat fungsi pokok yang dipunyai pekarangan, yaitu (Tabel 1): sebagai sumber bahan makanan, sebagai penhasil tanaman perdagangan, sebagai penghasl tanaman rempah-rempah atau obat-obatan, dan juga sumber bebagai macam kayu-kayuan (untuk kayu nakar, bahan bangunan, maupun bahan kerajinan).

Daftar berbagai macam tanaman di pekarangan petani di kelurahan Sampel, dikelompokkan menurut fungsina (Kecamatan Kalasan).


No
Golongan Tanaman
Macam Tanamannya
I
Sumber bahan makanan tambahan :
1.    Tanaman sayuran
2.    Buah-buahan
3.    Lain-lain

Ubikayu, ganyong, uwi, gembolo, tales,garut dll.
Mlinjo, koro, nangka, pete.
Pepaya, salak, mangga, jeruk, duku, jambu, pakel, mundu, dll.
II
Tanaman perdagangan
Kelapa, Cengkeh, Rambutan.
III
Rempah-rempah, obat-obatan.
Jahe, Laos, Kunir, Kencur, dll.
IV
Kayu-kayuan:
1.    Kayu bakar
2.    Bahan bangunan
3.    Bahan kerajinan

Munggur, Mahoni, Lmtoro.
Jati, Sono, Bambu, Wadang.
Bambu, Pandan, Dll.



Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebutlah, maka sampai pada kesimpulan bahwa bagi masyarakat pedesaan, pekarangan dapat dipandang sebagai “lumbung hidup” yang tiap tahun diperlukan untuk mengatasi paceklik, dan sekaligus juga merupakan “terugval basis” atau pangkalan induk yang sewaktu-waktu dapat dimabil manfaatnya apabila usahatani di sawah atau tegalan mengalami bencana atau kegagalan akibat serangan hama/penyakit, banjir, kekeringan dan bencana alam yang lain.

D.    Fungsi Hubungan Biofisika
Pada pandangan pertama, bagi orang “kota” yang baru pertama kali turun masuk desa, akan nampak olehnya sistem pekarangan yang ditanami secara acak-acakan dengan segala macam jenis tanaman dan sering pula menimbukan kesan “menjijikkan” karena adanya kotoran hewan ternak di sana sini. Namun, dalam penelitian menunjukkan, bahwa keadaan serupa itu adalah merupakan manifestasi kemanunggalan manusia dengan lingkungannya sebagaimana yang telah diajarkan nenek moyangnya.

Di daerah Sunda misalnya, tetapi terdapat pandangan ang oleh Hidding (1935) disebutkan:
“Manusia adalah bagian dalam dan dari satu kesatuan yang besar .Semua mempunai tempatna sendiri dari tidak ada sesuatu yang berdiri sendiri.

   Dalam teori kebatinan Jawa, disebutkan bahwa sesuatu yang ada dan yang hidup pada pokoknya satu dan tunggal. Bahkan, justru pola pengusahaan pekarangan seperti itulah ternyata, yang secara alamiah diakui sebagi persyaratan demi berlangsungnya proses daur ulang (recycling) secara natural (alami) yang paling efektif dan efisien, sehingga pada kehidupan masyarakat desa tidak mengenal zat buangan.

Apa yang menjadi zat buangan dari suatu proses, merupakan sumberdaya yang dipergunakan dalam proses berikutnya yang lain. Sebagai contoh, segala macam sampah dan kotoran ternak dikumpulkan menjadi kompos untuk  pupuk tanaman. Sisa dapur, sisa-sisa makanan, kotoran manusia dan ternak dibuang ke kolam untuk dimakan ikan. Ikan dan hasil tanaman (daun, bunga, atau buahnya) dimakan manusia, kotoran manusia dan sampah dibuang ke kolam atau untuk kompos, demikian seterusnya tanpa berhenti dan berulang-ulang.

Dengan demikian kalaupun dalam proses kemajuan peradaban manusia ada sesuatu yang perlu diperbaki seperti: pembuatan jamban
 Keluarga di atas kolam, sistem daur ulang yang tidak baik dan efisiensi harus tetap terjaga kelangsungannya.

E.     Dampak Modernisasi Yang Memprihatinkan
Tetapi sayang, berbaai fungsi dari pekarangan yang begitu kompleks dan mencakup banyak segi kehidupan manusia serta pelestarian lingkungan itu kan mengalami “erosi” yang memprihatinkan karena sering hanya dijadikan korban untuk memenuhi alasan “modernisasi”.

Proyek-proyek pembangunan industri dan prasarana lain di desa pinggiran sering kurang memperhitungkan bahwa, pembangunan kompleks perumahan karyawannya yang terlampau mewah dibandingkan dengan perumahan penhuni asli dan yang dipagar keliling rapat serta mewah pula itu merupakan isolasi bagi masyarakat penatang dengan lingkungannya yang bisa menimbulkan ketegangan sosial dan kriminalitas.

Lebih-lebih jika pembangunan itu sendiri membutuhkan tanah urug yang harus diambilkan dari tanah lapisan aas (top soil) pekarangan penduduk di sekitarnya. Penduduk asli tidak saja menjadi kehilangan “lumbung hidup” atau “pangkalan induknya” karena pekarangan dan tegalannya tidak produktif lagi, tetapi sekalgus kualitas lingkungannya menjadi rusak karena daur ualng idak lagi berlangsung lancar.

Pengaruh pembangunan yang kurang bijak, modernisasi perumahan yang mengganti  tanaman pekarangan menjadi tanaman hias dan agar hidup yang berubah menjadi tembol atau tulang besi, sebenarnya sangat disayangkan. Modernisasi memang harus tumbuh, tetapi bkan dengan merusak lingkungan hidup. Peningkatan kesejahteraan lahiriah memang salah satu tuntutan hidup, tetapi bukan dengan menciptakan masayarakat eksklusif yang mengisolir diri. Kurangnya halaman tempat bermain bagi anak-anak mungkin saja dapat dialihkan, tetapi keakraban anak-anak sekampung yang merenggang akan dapat berbalik menjadi iri dengki, dan dendam yang tersembuni. Itulah masalahnya.


BAB IVPENUTUP


4.1  Kesimpulan

Berladang merupakan kegiatan bercocok tanam oleh sekelompok masyarakat untuk memenuhi kebutuhan  hidupnya, hal ini sangat erat kaitannya dengan tradisi budaya. Pedidikan masyarakat hutan yang tergolong rendah dan sulitnya mencari mata pencaharian menyebabkan mereka memilih membuka ladang yang biayanya cukup murah  dibandingkan dengan menanam atau menebang pohon karena pohon membutuhkan jangka tumbuh yang cukup panjang dan penjualan kayu terbilang sulit karena harus mempunyai izin penebangan. Terdapat beberapa pendekatan untuk mengatasi degradasi dan mempercepat proses pemulihan ekosistem: Pendekatan pertama adalah restorasi, Pendekatan kedua melalui rehabilitasi dan Alternatif terakhir adalah reklamasi yang berarti penggunaan jenis-jenis eksotik untuk menstabilkan dan meningkatkan produktivitas ekosistem hutan.

Pekarangan adalah tanah di sekitar perumahan, kebanyakan berpagar keliling, dan biasanya ditanami padat dengan beraneka macam tanaman semusim maupun tanaman tahunan untuk keperluan sendiri sehari-hari dan untuk diperdangkan. Pekarangan kebanyakan saling berdekaan, dan besama-sama membentuk kampung, dukuh, atau desa”. Setelah itu Soemarwoto (1975) berhasil memberikan definisi yang lebih lengkap dengan mengatakan bahwa:

Pekarangan adalah sebidang tanah darat yang terletak langsung di sekitar rumah tinggal dan jelas batas-batasannya, ditanami dengan satu atau berbagai jenis tanaman dan masih mempunyai hubungan pemilikan dan/atau fungsional dengan rumah yang bersangkutan. Hubungan fungsional yang dimaksudkan di sini adalah meliputi hubungan sosial budaya, hubungan ekonomi, serta hubungan biofisika.

DAFTAR PUSTAKA

Godam64. 2009. Definisi/Pengertian Pertanian, Bentuk & Hasil Pertanian Petani - Ilmu Geografi. 2 April 2009.
Santoso, Urip. Dampak Perladangan Berpindah Bagi Kerusakan Ekosistem Hutan. http://uripsantoso.wordpress.com/2010/10/13/dampak-perladangan-berpindah-bagi-kerusakan-ekosistem-hutan/#more-1980.
Danoesastro, Haryono : “Tanaman Pekarangan dalam Usaha Meningkatkan Ketahanan Rakat Pedesaan”. Agro – Ekonomi. Hidding, K.A.H. : Gebruiken en Godsdients der Soendaneezen G. Kolff & Co. Hal. 24. Batavia. 1975.
Soemarwotto, O  : “Pegaruh Lingkungan Proyek Pembangunan”. Prisma, N.3 Juli 1975.
Terra, G.J.A. : Tuinbouw : Van Hall en C. Van de. Koppel : De Landbouw in de indische archpel.IIA, 1949. Terjemahan Haryono Danoesastro.

Sabtu, 07 September 2019

Analisa Dan Perhitungan Usaha budidaya lele




dailylampung- Lele atau ikan keli, adalah sejenis ikan yang hidup di air tawar. Lele mudah dikenali karena tubuhnya yang licin, agak pipih memanjang, serta memiliki "kumis" yang panjang, yang mencuat dari sekitar bagian mulutnya. Wikipedia

Budidaya lele terus berkembang pesat hampir di seluruh Indonesia. 


Mulai dari lele kolam, lele di sawah dan baru-baru ini ada lele di kolam terpal plastik, semua itu dikarenakan;

1. Dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas
2. Padat tebar tinggi
3. Teknologi budidaya relatif mudah
4. Pemasarannya relatif mudah
5. Modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah.

Parameter kualitas air yan baik untuk pemeliharaan ikan lele sangkuriang adalah sebagai berikut:
a. Suhu air yang ideal untuk pertumbuhan ikan lele berkisar antara 22-32°C. Suhu air akan mempengaruhi laju pertumbuhan, laju metabolisme ikan dan napsu makan ikan serta kelarutan oksigen dalam air.
b. pH air yang ideal berkisar antara 6-9.
c. Oksigen terlarut di dalam air harus > 1 mg/l.

Pembesaran lele :

  1. Menebarkan kapur ke dalam kolam yang bertujuan untuk memberantas hama, penyakit dan memperbaiki kualitas tanah. Dosis yang dianjurkan adalah 20-200 gram/m2,
  2. Dibuat perlindungan bisa dari peralon
  3. Pemupukan dengan kotoran ternak ayam, berkisar antara 500-700 gram/m2
  4. Kolam dibiarkan ± 7 (tujuh) hari, guna memberi kesempatan tumbuhnya makanan alami.
  5. Penebaran benih sebaiknya dilakukan pagi atau sore hari atau pada saat udara tidak panas
  6. Jumlah benih yang ditebar kurang lebih 50 ekor/m2 yang berukuran 5-8 cm.
  7. Selain makanan alami, untuk mempercepat pertumbuhan ikan lele perlu pemberian makanan tambahan berupa pellet. Jumlah makanan yang diberikan sebanyak 2-5% perhari dari berat total ikan
  8. Pakan dapat diberikan 2-3 kali sehari
  9. Sedangkan komposisi makanan buatan dapat dibuat dari campuran dedak halus dengan ikan rucah dengan perbandingan 1:9 atau campuran dedak halus, bekatul, jagung, cincangan bekicot dengan perbandingan 2:1:1:1 campuran tersebut dibuat bentuk pellet.
  10. Setelah 3 bulan pembesaran dapat mencapai berat 200 - 250 gram per ekor dengan panjang 15 - 20 cm

Analisa Dan Perhitungan Usaha budidaya lele

 
ukuran 500 meter
1. Investasi
a. Sewa lahan 1 tahun
@ Rp 750.000,-.              = Rp 1.000.000
b. Persiapan kolam.      = Rp 500.000
                  
                                             Rp 1.500.000,-
2. Biaya Tetap
a. Perbaikan kolam.        = Rp 1.000.000
b. Perbaikan saluran air = Rp 500.000
                                            Rp 1.500.000,-
3. Biaya Variabel
a. Pakan pellet dan
buatan.                              = Rp 20.000.000
b. Benih ukuran 5-8 cm
25.000 ekor @ Rp 100,-  = Rp 2.500.000
c. Obat-obatan 6 unit
@ Rp 50.000                     = Rp 300.000
d. Alat perikanan 2 paket
@ Rp 100.000                   = Rp 200.000
                                            Rp 23.000.000,-
4. Total Biaya
Biaya Tetap +
Biaya Variabel                  = Rp. 24.500.000,-
                                            Rp 24.500.000,-
5. Produksi
4000 kg x Rp 10.000/kg = Rp. 40.000.000
6. Pendapatan
Produksi - (Biaya tetap + Variabel)
Rp 40.000.000 - ( Rp 24.500.000,-)
                    Pendapatan = Rp 15.500.000,-
Volume Produksi               = 4.000 kg
Harga produksi                  = Rp 10.000
Harga tingkat konsumen = Rp 13.000

 demikianlah Analisa Dan Perhitungan Usaha budidaya lele Tahun 2020

Jumat, 28 September 2018

cara Budidaya Porang, manfaat, nilai ekonomis umbi porang


Tanaman Porang

Menurut wikipedia sih porang (Amorphophallus muelleri Bl.) adalah tanaman penghasil umbi yang dapat dimakan, anggota marga Amorphophallus. Karena masih sekerabat dan mirip penampilan dan manfaatnya dengan suweg dan walur, porang sering kali disamakan dengan kedua tanaman tersebut. 

ciri ciri utama yaitu pada ranting terdapat buahnya. ini yang nantinya di buat bibit ,orang orang biasa menyebut nya (katak) atau bulbil.umur porang jika ditanam lebih dari 1 musim batang akan semakin besar ukuran umbipun sudah pasti besar,dalam periode 2 musim juga perbatang bisa menghasilkan jumlah katak bibit yang lumayan banyak pada setiap ranting ranting nya,rata rata lebih dari 20 -25 butir katak .

Ciri tanaman porang pada tubuhnya terdapat buah yang dinamakan katak yang nantinya dijadikan bibit


perbedaan dan ciri ciri Tanaman Porang dengan tanaman sejenisnya

1. Amorphopallus Onchophyllus

 Porang (jawa) Acung/Cocoan Oray/Iles (sunda) dan kruwu/larkong/labing/sebeg Bali/Subeg Leres (Madura)
  1. Porang adalah tumbuhan berumbi yang  mempunyai buah atau katak (jawa) atau pentol/bubil disetiap cabang tangkainya.
  2. Mempunyai batang halus dan tidak bergerigi
  3.  Daun berbentuk bintang tetapi agak lebar sedikit tebal kaku
  4.  Pada daging umbi porang warnanya kuning

2 . Amorphophallus Campanulatus Forma Hortensis

 Suweg ( jawa dan sunda) Sobek (madura)
  a.    Hampir mirip dengan porang tetapi tidak mempunyai buah disetiap cabang tangkainya.
  b.    Batang nya tidak begitu halus agak bergerigi.
  c.    Umbi suweg berwarna putih ,Berserat dan mempunyai mata tunas lebih dari satu

3.Amorphophallus Campanulatus Forma Sylvestris

Walur ( jawa).

  a.batang bintil bintil
  b.tidak memiliki buah di tangkainya
  c.tinggi 1-1,5 cm

iles putih .Amorphophallus variabilis

    Tanaman ini hampir sama dengan porang juga akan tetapi yang membedakan adalah:  
 a. Tidak mempunyai buah disetiap cabang tangkainya
 b. Batang nya halus,Biasanya ber batang coklat, Hitam,Ada juga yang berwarna ungu
 c. Daging umbi berwarna putih

Perkembang Biakan Porang ada 3 :

1.   Bunga:
sebenarnya bunga ini adalah buah terakhir dari tumbuhan porang yang umbinya tidak produktif lagi(mati) biasanya kalau umur tanaman lebih dari 3 tahun bunga ini baru muncul ,bunga ini menyerupai gada ,warna bunga sewaktu muncul baunya sangat tidak enak seperti bangkai, kalau bunga ini sudah tua akan berubah merah ,nah ini yang kita semaikan untuk bibit yang terlebih dulu melalui proses penjemuran

2.   Katak/bulbil :
 Katak/bubil atau pentol adalah buah yang tumbuh di setiap cabang tangkai porang adapun jenis katak dibedakan menjadi 2 lagi jenis nya yaitu katak super dan katak biasa   
    -Katak super yaitu katak yang tumbuh nya di cabang utama di pangkal batang.
     jenis katak ini per biji bisa tumbuh 2-3 batang lebih besar dalam satu musim.daripada katak biasa.keuntungan jenis ini satu musim pun bisa dipanen walau umbi tidak terlalu besar kalau perawatan serius bisa sampai 3 kg dalam 6 bulan
    -Katak biasa.yaitu katak yang tumbuhnya di pangkal ranting percabangan.katak ini bisa berjumlah 3-8 biji. jenis katak ini 1 biji bisa tumbuh 3-4 batang dalam satu musim dan akan tumbuh lagi di musim berikutnya, ini yang biasanya dijadikan bibit umbi kecil karna bobot nya cma 2,5 ons- 08 ons maxsimal

3.   Umbi:
Adalah hasil perubahan dari bunga dan katak yang tumbuh dalam satu musim,bisa dikatakan porang kecil.bibit jenis ini kalau kita tanam dalam 6 bulan bisa mencapai 3-7kg/batang, biasanya bobot 2,5 ons - 8 ons,jenis ini pula bisa digunakan untuk cara menanam cepat panen ,Jadi gak perlu menunggu 2 musim untuk panen 



Manfaat Tanaman Umbi Porang ini adalah sebagai berikut :


 Bisa dipanen dalam 7 bulan,tergantung dari jenis benih nya .dari umbi bisa dipanen dalam satu musim tetapi kalau dari bunga dan katak bisa dipanen mencapai 2 musim.Porang bisa dipanen apa bila daun dan batang nya sudah layu dan menguning,karna kadar air nya sudah rendah.biasanya pada bulan juli agustus ,Apa bila dipanen sebelum waktunya kadar air terlalu tinggi akan mempengaruhi kwalitas porang.


Tanaman porang merupakan komoditas Exsport dengan negara tujuan jepang dan vietnam serta daerah daerah eropa barat.saat ini indonesia baru bisa memenuhi 25%pertahun dari permintaan,artinya membudidayakan tanaman ini akan tetap mempunyai prospek yang bagus.

 fungsi dan kegunaan porang diantaranya sebagian kecil untuk:
  • Industri texstile
  • Pengganti selulosa pada industri perfilm man
  • Pertambangan
  • Batu bara sebagai pengikat Partikel
  • Bahan perekat
  • Bahan makanan
  • Pembuatan Konyaku,Shirataki serta berbagai mkakanan Jepang
  • Kesehatan dan masih segudang manfaat porang
  • Bahan imitasi
  • Industri kodmetika
  • Penghalus kulit
  • Kesehatan
  • Mencegah naik nya kadar kolesterol dalam darah,menngobati kencing manis,turunkan darah tinggi,
  • Industri pesawat terbang
  • Bahan pembuat parasut terjun payung,Dan alat alat pesawat terbang

Nilai Ekonomis Porang


Meski bentuknya tak beraturan dan membuat gatal bagi yang menyentuhnya, porang asal Desa Klangon, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun yang satu ini menjadi buruan banyak investor Jepang dan China sejak sepuluh tahun terakhir. Bukan tanpa alasan. Semenjak dibudidayakan petani dari tahun 1970-an, porang menjadi komoditas tanaman perkebunan yang menjanjikan bagi petani setempat. Harga porang iris kering yang terus melonjak dari tahun ke tahun menjadikan banyak petani yang banting stir menanam porang. "Dulu pertama dibudidayakan hanya empat hektar saja sekitar tahun 1986. Kini lahan yang dikembangkan sudah mencapai 650 hektar," ujar Hartoyo, salah satu perintis budidaya Porang di Klangon, Rabu ( 3 / 5 / 2017). 

Wakil Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Pandan Asri Desa Klangon KPH Saradan ini mengatakan, sebelum dibudidayakan seperti saat ini, warga mencari porang yang tumbuh liar di hutan. Untuk mengajak warga membudidayakan porang tidaklah gampang. Awalnya Hartoyo hanya mengajak satu warga untuk bersama-sama menanam porang di lahan milik perhutani. Setelah warga yang diajak itu bisa membeli sapi dari hasil panen porang, warga pun berbondong-bondong menanam porang di lahan perhutani. "Warga yang saya ajak tadi ternyata berhasil membeli sapi dari hasil panen porang. Setelah itu banyak warga yang ikut menanam porang," ungkap Hartoyo. 

Ia menyebutkan saat ini sudah ada 715 warga yang menanam porang di lahan milik perhutani. Tak hanya warga Desa Klangen saja, petani yang tinggal tak jauh dari Klangen juga ikut menanam porang. Hartoyo mengungkapkan hutan milik perhutani dijadikan lahan penanaman porang karena tanaman jenis umbi-umbian itu tidak bisa ditanam di tempat terbuka. Tanaman porang membutuhkan sandaran pohon lainnya. Meski menggunakan lahan perhutani, warga tak membayar mahal. Setiap petani yang menggunakan lahan perhutani dikenakan tarif tujuh persen dari hasil panen setahun sekali. Bagi hasil tujuh persen tidak hanya masuk ke perhutani saja. Sebagian pemasukan dari bagi hasil masuk untuk kas desa. Ia menambahkan, setiap tahunnya, porang iris kering asal Klangon yang diekspor ke Jepang dan China mencapai 750 ton. Jumlah itu bisa bertambah bila petani memiliki modal besar. Selama ini, kata Hartoyo, petani porang sering mengeluh tipisnya modal yang dimiliki untuk pengembangan komoditas unggulan yang diburu investor dari Jepang dan China. Lantaran tak memiliki modal besar, sebut Hartoyo, banyak petani yang terjebak bujuk rayu pengusaha. Modusnya, pengusaha memberikan modal bagi petani untuk budidaya porang namun saat panen nanti hasilnya harus dijual ke pengusaha dengan harga yang sudah ditentukan. "Jadi semisal pengusaha itu sudah mematok harga Rp 27.000 per kilogram porang iris kering maka ketika harganya naik Rp 35.000 per kilogram petani tidak tetap mendapatkan harga sesuai kesepakatan," ucapnya. Sementara bila hendak mengambil pinjaman di bank, petani tak banyak memiliki jaminan sehingga kesulitan mendapatkan pinjaman. Untuk pengelolaannya, Hartoyo menceritakan, porang iris kering dijual kepada pengusaha di Surabaya. Selanjutnya, porang itu diolah menjadi mi, tepung, atau jelly yang kemudian diekspor ke Jepang dan China. "Sekarang bukan hanya pengusaha Jepang yang mencari porang.

 Vidio Porang



Pengusaha asal China dan Korea juga berburu porang di Madiun," kata Hartoyo. Ia mengungkapkan kejayaan budidaya porang sudah dirasakan seluruh warga Klangon. Pendapatan warga bertambah seiring naiknya harga porang iris kering di pasaran. "Kalau bisa dirata-rata warga disini memiliki minimal dua sepeda motor," tutur Hartoyo. Senada dengan Hartoyo, Kepala Dusun Klangon, Parmo (40) yang sudah sepuluh tahun menanam porang ini mengaku bisa mendapatkan keuntungan bersih Rp 8 juta hingga Rp 9 juta setiap kali musim panen. Parmo mengatakan, dibutuhkan waktu tiga tahun untuk memanen perdana bila mulai membudidayakan porang. Menurut Parmo, kebun porang miliknya bisa menopang perekonomian keluarganya. Pasalnya satu hektar lahan bisa menghasilkan enam hingga tujuh ton porang basah. Harga porang basah bisa mencapai Rp 4.000 perkilogram. Sementara porang iris kering bisa mencapai Rp 35.000 perkilogram. Untuk mengeringkan porang ini dibutuhkan waktu sekitar tiga hari hingga sepekan, tergantung kondisi cuaca. Setelah dikeringkan, porang yang sudah diiris-iris itu menyusut dan berubah warna. Ia mencontohkan satu kuintal atau 100 kilogram porang basah kalau dikeringkan maka beratnya menyusut menjadi 17 kg. Selain menjual porang kering, warga Desa Klangon juga sudah bisa menjual bibit porang. Tak hanya bisa menjual porang basah dan kering, petani bisa menjual bibitnya. Harga per satu kilogramnya mencapai Rp 50.000.

Cara Budidaya Tanaman Porang


a. Syarat Tumbuh
Tanaman Porang  memiliki toleransi yang sangat tinggi terhadap naungan atau tempat teduh. Tanaman Porang membutuhkan cahaya maksimum hingga 40%. Tanaman Porang dapat tumbuh pada daerah dengan ketinggian sekitar 0 – 700 mdpl tapi yang paling paik adalah daerah dengan ketinggian 100 – 600 mdpl. Tanaman Porang menghendaki tanah yang gembur dan subur serta tidak tergenang air dengan derajat keasaman atau pH tanah sekitar 6 – 7.

b. Teknik Perkembangbiakan Porang
Perkembangbiakan tanaman Porang dapat dilakukan dengan cara generatif maupun vegetatif. Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk melakukan perkembangan bibit porang yaitu:

1. Perkembangbiakan dengan Bintil atau Katak
Dalam 1 kg bintil atau katak berisi sekitar 100 bintil atau katak. Pada masa panen bintil atau katak dikumpulkan kemudian di simpan hingga memasuki musim hujan dapat langsung di tanam pada lahan yang telah disiapkan.

2. Perkembangbiakan dengan Biji atau Buah
Dalam  kurun waktu empat tahun tanaman porang akan menghasilkan bunga yang kemudian menjadi buah atau biji. Dalam satu tongkol buah dapat menghasilkan biji hingga 250 biji yang nantinya dapat digunakan sebagai bibit porang dengan cara di semai terlebih dahulu.

3. Perkembangbiakan dengan Umbi
Ada dua jenis perkembangbiakan dengan umbi yaitu dengan umbi kecil dan umbi besar.
Umbi kecil didapatkan dengan melakukan pengurangan tanaman yang sudah terlalu rapat dan perlu penjarangan. Tanaman hasil penjarangan dikumpulkan yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai bibit. Sedangkan apabila menggunakan umbi besar dapat dilakukan  dengan  cara umbi besar yang telah diperoleh dibagi menjadi beberapa bagian selanjutnya ditanam pada lahan yang telah disiapkan.

c. Cara Menanam Porang
Menanam porang yang baik tentu saja dibawah naungan pohon-pohon besar seperti pohon jati atau yang lainnya. Dengan menggunakan sistem bercocok tanam tumpang sari tersebut maka akan lebih mudah melakukan perawatan.

d. Pemanenan Porang
Porang dapat dipanen setelah 3 tahun setelah tanam. Cara memanen porang ini yaitu dengan cara mengambil umbi yang paling besar dan umbi yang kecil dibiarkan saja di lahan tanam agar pada saat musim hujan umbi tersebut dapat tumbuh kembali. Setelah umbi dipanen kemudian  dibersihkan dari tanah dan akar, umbi kemudian di potong lalu dijemur, memotong umbi tersebut harus benar karena menentukan kualitas porang yang dihasilkan.

e. Penentuan Kualitas Porang
Jika salah memotong dan porang tidak kering pada saat proses penjemuran, maka pada umbi akan ditumbuhi  jamur.  Dengan tumbuhnya jamur pada potongan porang maka akan menurun nilai rupiah yang akan didapatkan karena kualitas potongan porang tidak bagus.

Sumber tulisan :
  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Iles-iles
  2. https://www.faunadanflora.com/budidaya-tanaman-porang/
  3. https://regional.kompas.com/read/2017/05/04/07080071/porang.madiun.menjadi.buruan.pengusaha.jepang.dan.china
  4. http://porangku.blogspot.com/2013/06/ponang-atau-porang.html

Cara budidaya jamur tiram secara sederhana rumahan

Cara budidaya jamur tiram secara sederhana rumahan - menurut wikipedia Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) adalah jamur pangan dari kelompok Basidiomycota dan termasuk kelas Homobasidiomycetes dengan ciri-ciri umum tubuh buah berwarna putih hingga krem dan tudungnya berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung. Jamur tiram masih satu kerabat dengan Pleurotus eryngii dan sering dikenal dengan sebutan King Oyster Mushroom.

beberapa orang melakukan budidaya jamur tiram secara rumahan atau secara sederhana, sekedar sebagai hobby atau untuk konsumsi sendiri, atau bahkan bisa di jual kembali di pasar.

Ada beberapa cara budidaya jamur tiram yang bisa kita lalui, terbagi menjadi 3 yaitu :
  1.     Menyediakan kumbung
  2.     Menyediakan baglog
  3.     Merawat baglog
  4.     memanen Jamur

Untuk Lebih detailnya silahkan baca penjelasan masing masing cara budidaya jamur tiram tersebut.

1. Menyediakan Kumbung jamur tiram



Bahan kumbung sendiri berasal dari kayu atau bambu, dan dinding kumbung pada umumnya berasal dari papan atau gedek dan atapnya berasal dari sirap atau genteng. Ada baiknya jangan memakai atau seng maupun asbes, lantaran atap itu dapat menyebabkan suhu didalam kumbung menjadi panas. Sementara untuk lantainya cukup tanah saja, supaya nantinya bisa menyerap air ketika jamur lagi disiram.

Pada kumbung juga sebaiknya terdapat rak berupa kisi-kisi dan dibuat dengan bertingkat. Rak tersebut berguna untuk menyusun baglog. Rangka rak dibuat dari kawyu atau bambu. Peletakan rak juga harus berjajar antar satu rak dengan rak yang lain dan terpisahkan oleh lorong lorong supaya meringankan kita setelah mengerjakan perawatan.

Adapun ruang antar rak tersebut sebaiknya memiliki Ukuran ketinggian paling kecil adalah 40 cm, selain itu tingkat rak bisa dibuat 2 sampai 3 tingkat.

Ada baiknya raknya tersebut memiliki lebar kira kira 40 cm dan panjang untuk tiap rus rak yaitu 1 meter. Dengan begitu ukuran standar tersebut bisa untuk menampung 70 hingga 80 baglog. Kamu bisa variasikan rak untuk jumlah baglog yang hendak dibudidayakan.

2. Menyediakan Baglog jamur tiram



Baglog merupakan media tanam tempat menaruh bibit jamur tiram. Bahan pokok untuk membuat baglog yaitu serbuk gergaji, lantaran jamur tiram juga tergolong jamur kayu.

Pada umumnya baglog dibalut dengan plastik yang bentuknya silinder, kemudian salah satu di antara dua ujungnya tersebut dibuatkan lubang. Dengan begitu jamur tiram tersebut akan tumbuh keluar lewat lubang tersebut.

Biasanya mereka para budidaya jamur tiram jika ingin memasuki skala besar, maka akan membuat baglog sendiri. Akan tetapi untuk kita yang masih baru awal awal dan cuma punya modal yang belum mencukupi disarankan supaya membeli baglog dari orang lain, maka kita tinggal fokus saja pada usaha budidaya jamur tiram ini.

3. Merawat Baglog jamur tiram


Untuk menyusun baglog dibagi menjadi dua cara yaitu yang pertama peletakan dengan vertikal yaitu lubang baglog dihadapkan ke atas. Sedangkan untuk peletakan horizontal, lubang baglog dihadapkan ke samping.

Tentunya kedua cara tersebut masing masing terdapat kelemahan dan kelebihannya. Untuk cara pertama yaitu yang horizontal akan tambah aman dari terkena siraman air. Seandainya disiram berlebihan, air tidak bakalan masuk baglog.

Disamping itu, ketika musim panen akan lebih gampang. Akan tetapi ketika menyusunnya akan menghabiskan banyak waktu.
Cara merawat Jamur Tiram

Sebelum kita akan menyusun baglognya, alangkah baiknya kita buka cincin & kertas penutup. Lalu kita biarkan kira kira 5 hari.

Sesudah itu, baru ujung baglog kita potong supaya mempunyai ruang penyimpanan yang lebih luas. Biarkan dalam 3 hari, dan tidak perlu disiram. Kita cukup ke lantainya saja.

Ketika hendak melakukan penyiraman, alangkah baiknya kita memakai spray supaya yang keluar adalah kabut air bukannya tetesan air. Semakin bagus kabutnya maka jamurnya nanti akan tumbuh lebih baik.

Silahkan disiram dalam 2 sampai 3 kali sehari, bergantung pada suhu dan kondisi kelembaban kumbung.
Pengendalian Hama

Tidak sekedar baglog saja yang kita rawat, kita juga harus melakukan berbagai penanganan yang lain seperti pencegahan dan pengendalian hama yang kemungkinan bisa membuat jamur tiram berpenyakit sewaktu waktu.

Ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan hama dan penyakit diantaranya yaitu kondisi lingkungan ataupun dalam tubuh jamur itu sendiri.

Maka dari itu kita harus rajin rajin dan berkala untuk membersihkan tempat budidaya jamur itu sendiri, salah satunya dengan menyemprot dengan formalin ke tempat sekitar kumbung.

PANEN JAMUR TIRAM


Yang perlu anda perhatikan adalah apabila masa panen sudah melewati setengah hari, warna jamur tiram berubah jadi kuning kecoklatan dan tudungnya pecah.

Jika sudah begini, jamur akan cepat layu dan tidak akan bertahan lama. Perlu diperhatikan bahwa dalam proses panen harus tepat sesuai jadwal. Jarak panena pertama ke panen berikutnya berkisar 2-3 minggu.

Normalnya sejak 2 minggu semenjak pembukaan baglog, jamur sudah mulai tumbuh dan dapat kita memanennya.

Apabila perawatan dan penanganan sesuai dengan prosedur kita sudah dapat memanennya sebanyak 5 hingga 8 kali. Baglog yang mempunyai berat berkisar 1 kg bisa memproduksi jamur kira kira sampai 0,7-0,8 kg.

Sumber : https://hidupsimpel.com/cara-budidaya-jamur-tiram/

Cara budidaya belut sederhana dalam drum rumahan

Cara budidaya belut sederhana dalam drum rumahan - Belut menurut wikipedia Belut merupakan ikan yang menjadi salah satu bahan makanan di dunia. Belut dewasa memiliki ukuran yang bervariasi dari 5 cm hingga 4 meter tergantung spesiesnya.Ikan ini tidak memiliki sirip pelvis, dan beberapa spesies tidak memiliki sirip pektoral. Sirip dorsal dan sirip anus bersatu dengan sirip ekor membentuk satu sirip yang memanjang di sepanjang tubuhnya. Sebagian besar spesies belut hidup di dekat pantai dan mengubur diri di pasir, lumpur, atau di antara bebatuan. Belut adalah hewan nokturnal sehingga jarang dilihat oleh manusia. Belut dari famili Anguillidae mendiami air tawar dan kembali ke laut hanya untuk berkembang biak. Darah belut cenderung bersifat beracun bagi manusia dan hewan lainnya, namun toksinnya dapat dimatikan dengan memasaknya.



Budidaya belut dalam drum adalah salah satu alternatif budidaya yang efektif dan praktis untuk menghasilkan panen yang melimpah. Belut merupakan salah satu jenis hewan air yang melata. Belut memiliki bentuk menyerupai ular namun belut termasuk ke dalam jenis ikan dengan bentuk tubuh yang  silinder. Ikan ini  mempunyai kandungan gizi yang sangat melimpah.
ads

Kandungan berupa protein, karbohidrat, kalsium dan lain berbagai mineral sangat baik untuk kesehatan pada tubuh. Permintaan pasar akan belut saat ini sangat banyak. Hal tersebut yang menyebabkan banyak para peternak belut yang mulai membudidaya. Cara beternak belut juga dinilai praktis dan mudah. Keahlian dan pengetahuan akan menghindari resiko untuk gagal panen. Permintaan konsumen semakin banyak namun persediaan pasar menipis.

Kelebihan cara beternak belut di dalam drum plastik adalah ini tidak membutuhkan lahan yang luas dan praktis seperti cara merawat ikan hias dalam toples. Peternak juga bisa monitoring kapanpun peternak memiliki waktu. Jika menggunakan drum maka tidak menggunakan lumpur sebagai media pertumbuhan namun menggunakan air. Modal yang dibutuhkan sebagai peternak pun menjadi lebih murah. Hal ini dapat meminimalisir tingkat kerugian. Pemula dengan memiliki budget terbatas juga dapat menekuni usaha ini. Berikut adalah beberapa cara dalam budidaya belut di dalam drum.

1. Pemilihan Media yang Baik untuk Belut di Dalam Drum


Budidaya belut dalam drum adalah dengan melakukan pemilihan media yang baik untuk belut. Ada beberapa media yang dapat digunakan untuk budidaya belut dalam drum.

Media yang umum digunakan dan telah terbukti efektif dalam mempercepat hasil panen adalah media lumpur kering yang dicampur dengan kompos, jerami padi, dan pupuk TSP.

Mikroorganisme starter juga ditambahkan untuk mempercepat penyiapan media bernutrisi.
  •     Pada peletakkan media pertama berada di bagian dasar drum. Bagian tersebut dilapisi dengan jerami yang memliki ketebalan 10 cm.
  •     Setelah itu lalu pada atas jerami disiramkan sebanyak 1 liter mikroorganisme stater.
  •     Selanjutnya dapat dilakukan penambahan pada kompos setinggi 5 cm.
  •     Kemudian di bagian teratas yakni diberi lumpur kering dengan tinggi 10 cm.
  •     Pada media terseut kemudian ditambahkan pupuk TSP sebanyak 5 kg.
  •     Saat media siap kemudian belut diberi air dengan ketinggian 5-10 cm dari media teratas.

Langkah ini dilakukan dengan teratur agar mendapatkan hasil yang maksimal. Sebaiknya pemula yang akan budidaya benar – benar memastikan kesiapan dari media yang telah disusun. Pada masa ini belut jangan langsung dimasukan namun terlebih dahulu dilakukan masa permentasi selama kurang lebih dua minggu. Jika fermentasi tidak sempurna, maka zat yang terkandung dalam media kan beresiko menjadi racun. Racun tersebut akan membuat belut menjadi rentan mati begitu pula pada budidaya ikan nila dalam drum plastik.

2. Memasukan Bibit Belut


Budidaya belut dalam drum adalah memasukan bibit dengan benar. Pemilihan bibit sebaiknya dilakukan dengan sangat hati dan tepat. Hal ini akan berpengaruh pada belut yang akan diternak.

Para peternak sebaiknya mengambil bibit belut dari daerah yang memilki kemiripan suhu dan kondisi lingkungan.

Hal ini akan mempermudah belut untuk melakukan adaptasi. Adaptasi yang mudah akan membuat belut terhindar dar berbagai resiko kematian terutama yang diakibatkan oleh stress. Peternak harus benar – benar memastikan media siap dan telah terfermentasi dengan sempurna. Biasanya pada fermentasi sempurna sudah tidak lagi ditemukan bau yang tidak sedap.
Sponsors Link

Pada media yang telah dilakukan fermentasi akan menghasilkan sumber pakan yang alami. Pakan tersebut berasal dari jentik nyamuk, cacing, dan zooplankton.  Banyak pula jasad-jasad renik. Jika telah terjadi proses tersebut selama 2 minggu, maka kemudian dapat dimasukkan bibit belut. Jumlah yang di masukan dapat berkisar antara 150 ekor hingga 200 ekor.

3. Pakan yang Baik untuk Belut Dalam Drum


Hingga saat ini belum diketahui volume pemberian pakan pada belut yang ada di dalam drum. Pada umumnya memasukan pakan dengan takaran  5 % dari bobot belut yang dimasukkan hampir sama dengan takaran pakan pada budidaya ikan bawal di kolam terpal. Misalnya saat memasukkan belut sebanyak 2 kg, maka pakan yang akan diberikan yaitu 100 gram hingga200 gram.

Jenis pakan yang diberikan yakni  terdiri dari cacahan cacing, cacahan kecebong, cacahan ikan – ikan kecil, cacahan keong mas atau bekicot. Pada saat pemberian pakan di hari ke 1 hingga ke 3, belut dibiarkan tidak diberi pakan karena dapat memakan makanan alami yang tubuh saat proses fermentasi. Belut akan diberi pakan pada saat hari ke 3, setelah masa tanam bibit yang ditebar.

4. Penggunaan Kualitas Air


Air merupakan media yang memiliki peran penting di dalam berternak belut. Peternak harus menggunakan air yang berkualitas baik. Pada drum juga dibutuhkan saluran untuk membuang sisa makanan agar tidak menumpuk. Hal ini juga berpotensi menjadi racun. Racun akan memiliki resiko pada kematian.

Belut juga akan rentan untuk mengakibatkan penyakit. Penggunaan pada air dapat dilakukan dengan menggunakan metode yang mengalirkan air bersih. Air yang dimasukan ke dalam drum dianjurkan berbentuk percikan. Aerasi pada air sangat penting untuk kebutuhan oksigen pada belut.

Hal tersebut sangat cocok dilakukan dengan penggunaan paralon. Paralon digunakan sebagai media pengalir air. Pada bagian saluran untuk pembuangan dapat dilakukan dengan cara pembuatan lubang pada bagaian drum. Hal ini dilakukan pada ketinggian dengan 8 cm dari genangan air dalam drum. Hal tersebut adalah sebagai cara untuk mengatur pembuangan dari sisa kotoran. Pada percikan air juga sangat bermanfaat untuk penambahan oksigen bagi pertumbuhan belut, berbeda dengan budidaya ikan guppy yang tidak membutuhka banyak oksigen. Suhu air yang umumnya baik adalah 26 hingga 28 derajat celcius. Jika peternak berada dalam wilayah daerah bersuhu panas maka perlu memasang hujan buatan.
Sponsors Link

5. Panen Belut


Panen belut membutuhkan waktu 3 hingga 4 bulan seperti budidaya ikan air tawar lainnya. Waktu tersebut terhitung dari proses pemasukkan bibit belut yang telah disediakan ke dalam drum. Pada umumnya bibit belut yang sudah dapat dipanen memiliki ukuran sekitar 200 gram yang memiliki ukuran kisaran 11  hingga 13 cm.

Harga bibit pada belut di pasaran dengan belut yang memiliki panjang 7 hingga 12 cm dapat dijual seharga 55.000 per kg. Satu kilogram terdapat kurang lebih 76 hingga 111 ekor. Harga ketika panen akan melonjak naik menjadi Rp. 32.000 per kg dengan banyak 4 hingga 6 ekor belut.

Sumber artikel : https://arenahewan.com/budidaya-belut-dalam-drum