Sabtu, 28 September 2019

Pengaruh Iklim Dan Cuaca Terhadap Hama Dan Penyakit Pada Tanaman Tebu



Info Pertanian Online - Tebu (Saccharum officinarum Linn) adalah tanaman untuk bahan baku gula. Tanaman ini hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Tanaman ini termasuk jenis rumput-rumputan. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih 1 tahun. Di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatera.

Bentuk fisik tanaman tebu dicirikan oleh terdapatnya bulu-bulu dan duri sekitar pelepah dan helai daun. Banyaknya bulu dan duri beragam tergantung varietas. Jika disentuh akan menyebabkan rasa gatal. Kondisi ini kadang menjadi salah satu penyebab kurang berminatnya petani berbudidaya tebu jika masih ada alternatif tanaman lain. Tinggi tanaman bervariasi tergantung daya dukung lingkungan dan varietas, antara 2,5-4 meter dengan diameter batang antara 2-4 cm.

Tebu merupakan tumbuhan monokotil dari famili rumput-rumputan (Gramineae), Batang tanaman tebu memiliki memiliki anakan tunas dari pangkal batang yang membentuk rumpun. Tanaman ini memerlukan waktu musim tanam sepanjang 11- 12 bulan. Tanaman ini berasal dari daerah tropis basah sebagai tanaman liar.

Tabel 2 Klasifikasi Tanaman Tebu
Divisio
Spermatophyta
Subdivisio
Angiospermae
Kelas
Monocotyledoneae
Ordo
Graminalis
Familia
Gramineae
Genus
Saccharum
Spesies
Saccharum officinarum

Syarat Tumbuh Tanaman Tebu

a.        Kesesuaian Iklim

Tanaman tebu dapat tumbuh di daerah beriklim panas dan sedang (daerah tropik dan subtropik) dengan daerah penyebaran yang sangat luas yaitu antara 35o LS dan 39o LU. Unsur – unsur iklim yang penting bagi pertumbuhan tanaman tebu adalah curah hujan, sinar matahari, angin, suhu, dan kelembaban udara.

b.      Curah Hujan

Tanaman tebu banyak membutuhkan air selama masa pertumbuhan vegetatifnya, namun menghendaki keadaan kering menjelang berakhirnya masa petumbuhan vegetatif agar proses pemasakan (pembentukan gula) dapat berlangsung dengan baik. Berdasarkan kebutuhan air pada setiap fase pertumbuhannya, maka secara ideal curah hujan yang diperlukan adalah 200 mm per bulan selama 5 – 6 bulan berturutan, 2 bulan transisi dengan curah hujan 125 mm per bulan, dan 4 – 5 bulan berturutan dengan curah hujan kurang dari 75 mm tiap bulannya. Daerah dataran rendah dengan curah hujan tahunan 1.500 – 3.000 mm dengan penyebaran hujan yang sesuai dengan pertumbuhan dan kemasakan tebu merupakan daerah yang sesuai untuk pengembangan tanaman tebu.

c.     Sinar Matahari

Radiasi sinar matahari sangat diperlukan oleh tanaman tebu untuk pertumbuhan dan terutama untuk proses fotosintesis yang menghasilkan gula. Jumlah curah hujan dan penyebarannya di suatu daerah akan menentukan besarnya intensitas radiasi sinar matahari. Cuaca berawan pada siang maupun malam hari bisa menghambat pembentukan gula. Pada siang hari, cuaca berawan menghambat proses fotosintesis, sedangkan pada malam hari menyebabkan naiknya suhu yang bisa mengurangi akumulasi gula karena meningkatnya proses pernafasan.

d.     Angin

 Angin dengan kecepatan kurang dari 10 km/jam adalah baik bagi pertumbuhan tebu karena dapat menurunkan suhu dan kadar CO2 di sekitar tajuk tebu sehingga fotosintesis tetap berlangsung dengan baik. Kecepatan angin yang lebih dari 10 km/jam disertai hujan lebat, bisa menyebabkan robohnya tanaman tebu yang sudah tinggi.

e.      Suhu

Suhu sangat menentukan kecepatan pertumbuhan tanaman tebu, sebab suhu terutama mempengaruhi pertumbuhan menebal dan memanjang tanaman ini. Suhu siang hari yang hangat atau panas dan suhu malam hari yang rendah diperlukan untuk proses penimbunan sukrosa pada batang tebu. Suhu optimal untuk pertumbuhan tebu berkisar antara 24 – 30 oC, beda suhu musiman tidak lebih dari 6o, dan beda suhu siang dan malam hari tidak lebih dari 100.

f.      Kelembaban Udara

Kelembaban udara tidak banyak berpengaruh pada pertumbuhan tebu asalkan kadar air cukup tersedia di dalam tanah, optimumnya < 80%.

g.     Kesesuaian Lahan

Tanah merupakan faktor fisik yang terpenting bagi pertumbuhan tebu. Tanaman tebu dapat tumbuh dalam berbagai jenis tanah, namun tanah yang baik untuk pertumbuhan tebu adalah tanah yang dapat menjamin kecukupan air yang optimal. Tanah yang baik untuk tebu adalah tanah dengan solum dalam (>60 cm), lempung, baik yang berpasir dan lempung liat.
Derajat keasaman (pH) tanah yang paling sesuai untuk pertumbuhan tebu berkisar antara 5,5 – 7,0. Tanah dengan pH di bawah 5,5 kurang baik bagi tanaman tebu karena dengan keadaan lingkungan tersebut sistem perakaran tidak dapat menyerap air maupun unsur hara dengan baik, sedangkan tanah dengan pH tinggi (di atas 7,0) sering mengalami kekurangan unsur P karena mengendap sebagai kapur fosfat, dan tanaman tebu akan mengalami “chlorosis” daunnya karena unsur Fe yang diperlukan untuk pembentukan daun tidak cukup tersedia. Tanaman tebu sangat tidak menghendaki tanah dengan kandungan Cl tinggi.
Daur kehidupan tanaman tebu melalui 5 fase, yaitu :

1.          Perkecambahan  

Dimulai dengan pembentukan taji pendek dan akar stek pada umur 1 minggu dan diakhiri pada fase kecambah pada umur 5 minggu.

2.           Pertunasan

Dimulai dari umur 5 minggu sampai 3,5 bulan.

3.          Pemanjangan Batang

Dimulai dari umur 3,5 bulan sampai 9 bulan.

4.          Kemasakan

Merupakan fase yang terjadi setelah pertumbuhan vegetatif menurun dan sebelum batang tebu mati. Pada fase ini gula di dalam batang tebu mulai terbentuk hingga titik optimal hingga berangsur-angsur menurun. Fase ini disebut juga fase penimbunan rendemen gula.

5.          Kematian

Tujuh varietas tebu unggul harapan yang diperkenalkan dinas perkebunan dapat dipakai sebagai alternatif pendamping mengungguli varietas lama yang masih dipertahankan yaitu PS 84-16029, PS 86-17079, PS 86-8680, PS 89-19137, PS 89-22513, PS 90-13156 dan PS90-9704

Hama Dan Penyakit Tanaman Tebu Serta Cara Pengendaliannya


Kesehatan tanaman menetukan pertumbuhan tanaman.  Tanaman tebu yang terinfeksi organisme pengganggu dapat berupa hama, penyakit dan gulma dapat dipastikan tidak akan tumbuh notmal.  Kesehatan penyakit diperhatikan sejak awal, dimulai dari penyediaan bahan tanaman sampai akhir menjelang panen.  Bahan tanaman merupakan sarana awal sering terjadinya infeksi organisme terutama penyakit dan larva hama.  Bahan tanaman yang terserang penyakit kalau tanaman tidak mengalami kematian lebih awal, penyakit tersebut akan terbawa  selama fase pertumbuhannya yang dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak normal.  Oleh karena itu, dalam pemilihan bibit sering dilakukan tahap sortasi, seleksi dan inspeksi kesehatan tanaman.

Tindakan penyehatan tanaman sering dilakuan melalui sanitasi kebun sebagai misal dengan melakukan pemeliharaan tanaman pada petak kebun dengan baik dan benar.  Salah satu faktor penghambat produksi gula adalah adanya serangan hama. Penyakit dan gulma. Upaya yang tepat pada perlindungan atau proteksi tanaman dapat menyelamatkan produksi gula kurang lebih 20 persen.
Beberapa macam hama yang sering dijumpai pada tanaman tebu adalah penggerek pucuk, penggerek batang, kutu bulu putih, tikus, uret dan babi hutan. Uret dan kutu bulu putih merupakan hama utama bagi tanaman tebu di lahan kering.

Penggerek pucuk. Hama ini berupa ulat yang menyerang pucuk tanaman sehingga mematikan titik tumbuh. Usaha pemberantasannya menggunakan insektisida carbofuran yang dapat diberikan dengan cara suntikan atau taburan.

Penggerek batang. Hama berupa ulat ini merusak ruas-ruas batang tebu sehingga pada serangan yang parah dapat merobohkan tanaman. Usaha pengendaliannya dapat dilakukan secara hayati dengan menggunakan parasit karawai Trichograma spp., dan parasit lalat Diatraeophaga striatalis.

Kutu bulu putih. Pada daun-daun yang mulai nampak ada kutu bulu putih segera dipangkas, dimasukkan ke dalam kantong plastic untuk dimusnahkan atau dibakar. Pada serangan yang sudah luas, pemberantasannya dapat menggunakan parasit Encarsia flavosculetan atau menggunakan insektisida sistemik misalnya formation 825 gr/ha atau dimetoat 1000 gr/ha.

Uret. Hama ini menyerang akar dan pangkal tanaman tebu. Tanaman yang terserang menampakkan gejala kelayuan daun. Pemberantasan uret dengan insektisida disarankan menggunakan carbofuran  3 persen sebanyak 50 kg/ha. Penggunaan insektisida yang mengandung senyawa BHC hanya diperbolehkan pada lahan yang tidak ditanami tanaman pangan. Disamping cara kimiawi, pengendalian hama uret dapat dilakukan secara mekanis dengan cara mengumpulkan uret dan imagonya. Penangkapan imago harus dilakukan sebelum imago sempat kawin. Berdasarkan siklus kehidupan uret, penangkapan imago dapat dilaksanakan pada bulan Oktober hingga Desember.

Di daerah dengan serangan hama uret kuat, dianjurkan penggunaan insektida yang berformulasi ”slow release”, antara lain dursban 14 S sebanyak 28 kg/ ha yang diberikan di dasar juringan sebelum tebu ditanam. Insektisida ini mampu mengendalikan uret selama tiga tahun tanpa merusak perakaran tebunya.

Tikus. Serangan tikus di daerah-daerah tertentu terjadi hampir setiap tahun, sehingga kemungkinan kerugian sangat besar. Pada daerah-daerah yang berbatasan dengan sawah perlu adanya kerjasama dengan petani padi untuk mengamati adanya serangan tikus pada tanaman padi. Segera setelah panen, dilakukan gropyokan dan pengasapan pada lubang-lubang persembunyian maupun pemasangan umpan beracun.

Beberapa penyakit yang biasa menyerang tanaman tebu antara lain penyakit mosaik, penyakit pembuluh, luka api (smut), blendok dan pokahbung.
Penyakit mosaik. Penyebab penyakit ini adalah virus mosaic. Tanda-tanda penyakit ini yaitu pada daun terdapat gambaran mosaik berupa garis-garis dan noda-noda berwarna hijau muda sampai kuning. Cara pencegahan yang telah dilakukan selama ini adalah dengan menggunakan bibit terseleksi yang berasal dari tanaman sehat dan dari varietas tebu yang tahan terhadap penyakit mosaik seperti Ps 56, F 154, F 156 atau M 442-51.

Penyakit pembuluh. Penyebab penyakit ini adalah bakteri Clavibacter xylisubsp xyli. Tanaman yang terserang menampakkan gejala pertumbuhan yang kurang sempurna terutama tanaman keprasan tampak kerdil. Gejala yang khas yaitu terlihat warna jingga kemerah-merahan pada berkas-berkas pembuluh batang tebu menjelang masaknya tebu. Cara pencegahan penyakit ini antara lain dengan melakukan deinfeksi alat pemotong tebu dengan lisol 20%, penanaman dengan menggunakan bibit sehat yang diperoleh dengan perawatan air panas terhadap bibit tebu pada suhu 50°C selama 2-3 jam.

Penyakit luka api (smut). Penyebabnya adalah Ustilago scitaminea Syd. Gejala penyakit ini timbulnya cambuk hitam pada pucuk tebu. Pencegahannya dengan menanam bibit yang sehat dan varietas yang resisten, bibit  didesinfeksi dengan 0,5 gr b.a./triadimefon.

Penyakit blendok. Tanda-tanda serangan penyakit yang disebabkan oleh sejenis bakteri ini yaitu apabila batang dibelah tanpak pembuluh-pembuluh berwarna kuning tua sampai merah tua. Usaha pencegahannya dengan deinfeksi pisau pemotong menggunakan lisol.

Penyakit pokahbung. Penyakit ini disebabkan oleh sejenis jamur dan terutama timbul di musim hujan. Tanda-tanda penyakit ini adalah pada daun muda terlihat memutih (chlorosis). Pada serangan yang parah, pusuk tanaman menjadi busuk, pembuluh tanaman menjadi tidak normal bentuknya (bengkok dan luka). Pemberantasan untuk tanaman yang telah terserang dengan cara disemprot bubur Bordo 1 % seminggu sekali.

Gangguan gulma dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar karena bisa menyebabkan penurunan bobot tebu. Pengendalian gulam disamping dengan cara manual ataupun kimiawi menggunakan herbisida, dapat pula dilakukan secara kultur teknis dengan menciptakan kondisi lingkungan yang dapat menekan pertumbuhan gulma atau dengan cara mekanis dengan pembajakan dan penggaruan. Keempat cara tersebut dalam pelaksanaannya dapat dilakukan secara terpadu. Usaha pengendalian gulma akan dapat memberikan hasil yang baik apabila pelaksanaannya tepat waktu, cara, alat maupun dosis dan jenis herbisida yang digunakan.


Kesimpulan
Faktor Iklim Sangat Berpengaruh Terhadap Perkembangan Hama Dan Penyakit Pada Tanaman Tebu. Beberapa Indikator Pendukungnya Adalah Curah Hujan, Sinar Matahari, Angin, Suhu Dan Sebagainya. Hama Dan Penyakit Yang Berkembang Diantaranya Adalah Penggerek Pucuk, Penggerek Batang, Kutu Bulu Putih ,Penyakit Mosaik, Penyakit Pembuluh, Penyakit Luka Ap,I  Penyakit Pokahbun.

Sumber : 
http://kuantannet.blogspot.com/2016/12/makalahpengaruh-iklim-dan-cuaca.html

Kamis, 19 September 2019

Cara membasmi Hama Penggerek Batang Padi



Info Pertanian Online - Pengendalian hama adalah usaha menekan populasi hama serendah-rendahnya sehingga serangannya tidak mencapai tingkat kerusakan ekonomi (Oka, 1995:116).

Menurut Gallagher (1991:42) hama penggerek batang adalah hama yang berbentuk larva penggerek batang yang merusak padi sawah dengan cara memakan batang bagian dalam yang akan mematikan tunas.

Sedang menurut Paracaya ( 2007:126) penggerek batang padi juga disebut sundep atau mati pucuk jika menyerang padi sebelum berbunga tetapi apabila ulat tersebut menyerang setelah berbunga disebut beluk.

Menurut Ati wasiati ( 2007:50), Ciri hama penggerek batang padi putih adalah ngengatnya berwarna putih, panjang betina 13 mm dan jantan 11 mm, pada tertarik oleh cahaya, telurnya berwarna coklat kekuning-kuningan ditutupi rambaut halus bentuknya bulat lonjong sebesar jarum ditata dipermukaan atas daun atau pelepah. 

Ulat ini badannya gemuk penuh lemak berwarna kuning terang dan berkepala coklat, kepompongnya berwarna kuning terang diselubungi dengan anyaman benang berwarna putih.

Ciri hama penggerek batang padi kuning adalah ngengatnya berwarna coklat kekuningan, bagian sayap depan agak kebelakang terdapat titik hitam, ngengat betina lebih besar dari jantan, telurnya diletakkan di bagian bawah daun agak ke pucuk bentuknya agak pipih, telurnya seperti sisik yang ditata, kelompok telurnya bulu halus berwarna coklat terang sebesar biji kedelai, ulatnya berwarna kuning kecoklatan dengan kepala hitam, kepompongnya berwarna coklat diselimuti oleh benang halus berwarna putih.

Hama penggerek batang padi ini adalah menyerang mulai dari persemaian sampai dengan fase generatif. Serangan pada fase vegetatif disebut sundep, sedangkan pada fase generatif disebut beluk.
Gejala serangan di persemaian terlihat daun terluar yang layu dan mengering, jika dibuka pada pangkal batang akan ditemukan ulat yang masih kecil. 

Pada saat padi baru ditanam, dapat dilihat dengan matinya daun terluar atau matinya seluruh tanaman, jika dibuka didalamnya terdapat ulat kecil yang terdapat pada titik tumbuh. Serangan fase generatif dapat dilihat dari matinya malai, malai padi menjadi berwarna putih, malai tersebut apabila dibuka akan ditemukan ulat kecil (Widagdo, 1994:5-13).


Cara pengendalian Hama Penggerek Batang Padi

Cara pengendalian, hama penggerek batang padi dapat dilakukan dengan cara kimiawi yaitu dengan menggunakan bahan yang beracun. Sebaiknya penggunaan pestisida sistemik , misalnya Furadan 3 G. Virtako, Regent, Bancool dll, sedang Cara hayati yaitu dengan menggunakan hewan pemangsa/predator (seperti laba-laba, kumbang, parasit, serangga/tabuhan kecil, lalat)caranya dengan mempertahankan dan meningkatkan efektifitas musuh alami dengan memberi sumber daya lingkungan yang bermanfaat bagi perkembangan musuh alami. Pengendalian secara kultur teknis (bercocok tanam)yaitu melakukan pengolahan tanah yang baik, sanitasi, pemupukan berimbang, pengairan berselang, pergiliran tanaman, pemilihan waktu tanam yang tepat. Sedangkan secara mekanik adalah dengan pengumpulan serangga hama di lapangan dengan tangan atau secara langsung dengan perangkap (misalnya pengumpulan kelompok telur, kemudian ulat dimusnahkan).

Sumber : https://wibowopenyuluh.blogspot.com/2015/06/pengendalian-hama-penggerek-batang-padi.html

Selasa, 17 September 2019

Pengendalian Hama Lalat Bibit pada Kedele Dengan Mulsa Jerami



Info Pertanian Online - Lalat bibit ( Ophiomyia phaseoli Tryon, maerupakan hama tanaman kedele yang menyerang pada awal pertumbuhan , kalau kondisi memungkikan serangan hama ini akan mencapai 60 – 80 %, bahkan akibat serangan  ini mengakibatkan puso. Perlu diketahui bahwa tanaman kedele bila menyerang pada umur muda otomatis akan mengurangi populasi dan populasi itu  tidak dapat tergantikan. Akibatnya produksi tanaman yang dihasilkan tidak dapat maxsimal

Cara hidup

Imago lalat kacang  warnanya hitam mengkilat , meletakkan telur pada siang hari antara pukul 6.00 samapai dengan 17.00.  puncak produksi telu jam 11.00 siang , kapasitas telurnya antara 94 butir – 183 butir per induk , Lalat kacang betina meletakkan telur  pada tanaman muda yang baru tumbuh, telur dimasukkan kedalam lubang bekas tusukan antara epedirmis dan bawah keping biji atau pangkal helai daun pertama atau kedua, telur berwarna mutiara dan berbentuk lonjong berukuran 0,31 mm dan lebar 0,15 mm, setelah 2 hari telur menetas dan keluar larva, larva lalat kacang berukuran kecil  mula-mula berwarna putih kemudian berwarna kecoklatan

Cara Menyerang

Serangan lalat bibit ini biasanya ditandai adanya serangan bintik putik pada  keping biji pada pertumbuhan kedele, bintik-bintik tersebut merupakan bekas tususkan peletakan telur lalat kacang oleh lalat kacang betina

Tanda serangan  larva pada keping biji dan daun berupa  garis berkelok kelok  berwarna coklat , pada batang ulat  menggerek melengkung mengelilingi batang dibawah kulit batang  dan akhirnya berkepompong didalam batang, akibat gerekan tersebut tanaman menjadi layu, mengering dan akhirnya mati.  Seranga ringan hama ini mengakibatkan tanaman kerdil , bila serangan banyak pada umur muda dibawah 2 mg tanaman menjadi mati. Telur banyak diletakkan oleh hama ini pada umur 7 – 10 hari setelah tanam

Cara mengendalikan Hama Lalat Bibit

  • Menanam kedele secara serentak
  • Menggunakan mulsa jerami sebagai penutup tanaman
  • Seed treatmen dengan insektisida fipronil
  • Penyemprotan dengan insectisida  pada umur 7-9 hari  dengan insectisida dekametrin, permetrin, dan carbosulfan


Cara Mengendalikan dengan Mulsa Jerami


Untuk menekan serangan lalat bibit yang lebih murah dapat digunakan mulsa jerami, caranya : benih kedele yang telah ditugal kemudian ditutup dengan jerami yang sudah kering dengan ketebalan 1-2 cm, secara merata ke seluruh petakan sawah. Hal ini dengan maksud supaya lalat bibit yang suka meletakkan telur pada kedele umur 7 hari setelah tanam pada bagian keping biji, lalat tersebut meletakkan telurnya dijerami, sehingga lalat tidak sempat menggerek tanaman dan meletakkan telunya di tanaman yang masih muda, sehingga telur yang diletakkan dijerami akan mati/ tidak menetas, dan bila ada yang menetas tidak akan bertahan lama hidupnya. Disamping itu pemberian mulsa jerami pada Kedele baru tanam dapat menjaga kelembaban tanah, menekan pertumbuhan gulma/ rumput  dilahan kedele.

Sumber : https://wibowopenyuluh.blogspot.com/2017/12/pengendalian-hama-lalat-bibit-pada.html

Minggu, 15 September 2019

cara pengendalian hama tikus



Info Pertanian Online - Hama tikus merupakan hama tanaman yang banyak merugikan petani , dan selalu ada. Persoalan yang muncul dimasyarakat hama ini termasuk hama yang sulit dikendalikan, karena tikus tergolong hama yang cerdik dan mempunyai penciuman yang sangaat tajam, sehingga banyak petaninyang frustasi akibat serangan hama ini. Pada pertanaman padi, petani sering terlena, petani baru tahu populasi tikus yang banyak setelah adanya serangan yang meluas atau petani tahu setelah adanya kerugian akibat serangan hama tikus.

Kehidupan dan daerah serangannya dipengaruhui oleh topografi wilayah, Daerah yang dekat dengan hutan, tanggul, jalan KA sering menjadi sasaran serangan hama ini.


BIOLOGI HAMA TIKUS


Populasi tikus dapat meningkat dengan cepat, karena tikus beranak banyak dan berkembang biak dengan cepat, masa hidup tikus 1 tahun atau lebih, tikus betina dapt melahirkan anak lebih dari 4 kali setahun dan sekali melahirkan rata-rata 6 ekor anak, tiap 3 bulas sekali 1 ekor betina dapat melahirkan 6 ekor anak. Sehingga 1 pasang tikus dalam tempo satu tahun dari hasil anak beranak mencapai lebih kuraang 925 ekor.

CARA HIDUP HAMA TIKUS


Tikus lebih suka hidup membuat sarang  di tempat yang mempunyai  tanah-tanah yang keras, seperti jalan sawah, saluran air, galengan, rel kereta api, semak-semak yang kondisinya rimbun tidak bersih. Membuat lubang dengan berbgai arah untuk digunakan sebagai perlindungan.
Hidupnya bergerombol, suka berpindah menjelajah sampai berkilo-kilo meter, untuk mencari daerah makanan.

CARA PENYERANGAN HAMA TIKUS


Tikus termasuk binatang pengerat yang suka mengerat barang-barang yang keras, hal ini dilakukan agar supaya gigi tikus itu pertumbuhannya tidak memanjang dan agar tetap tajam. Menyerang semua jenis tanaman pertanian yang diusahakan oleh petani. Untuk serangan pada tanaman padi menyerangnya dimulai dari bagian tengah kemudian akan menepi, serangan berat bagian yang tersisa hanya pada bagian tepi saja. Yang mengakibatkan gagal panen.

CARA PENGENDALIAN HAMA TIKUS


Tidak ada salah satu cara yang tepat yang dapat mengendalikan hama tikus, tikus harus dikendalikan dengan berbagai cara sesuai dengan stadia tanaman yang ada misalanya: pada stadia baru pesemaian yang tepat dengan cara melakukan gropyokan, pengumpanan. Pada stadia tanaman muda dengan cara pengumpanan dan pengemposan, pada stadia primordia dengan pengemposan, sanitasi.
Cara pengendalian diantaranya ;

1.      Dengan cara umpan
2.      Gropyokan
3.      Hembusan belerang
4.      Sanitasi
5.      Perangkap / Bubu perangkap
6.      Bau-baunan yang tidak disukai
7.      Bunyi-bunyian
8.      Kerodong plastik
9.      Pemanfatan musuh alami
10.  Pergiliran tanaman

RODENTISIDA


Rodentisida yang dianjurkan untuk pengendalian hama tikus diantaranya adalah Racumin, Klerat, fosfida seng ( Posfit istilah petani), temik. Penggunaan rodentisida hendaknya harus disesuaikan dengan kondisi setempat. Misalnya menggunakan Temik dan Pospit harus hati-hati karena racun ini mempunyai daya bunuh yang kuat tikus yang memakan akan langsung mati ditempat. Untuk itu penggunaannya harus bertahap hari pertama samapai dengan hari ke 4, dikasih umpan tanpa racun. Kemudian setelah harii ke 5 dikasih racun, hal ini dilakukan untuk mengurangi kecurigaan tikusterhadap makanan/umpan yang ada.

Penggunaan klerat/ racumin sangat dianjurkan karena cara kerjanya yang lambat dan tikus tidak banyak yang curiga.

Sumber : https://wibowopenyuluh.blogspot.com/2015/06/v-behaviorurldefaultvmlo.html

Sabtu, 14 September 2019

cara pengendalian hama boleng pada ubijalar



Info Pertanian Online - Hama  Boleng ( Cylas Formicarius F. ) adalah hama boleng yang menyerang umbi ubi jalar , banyak petani yang mengeluh akibat serangan hama  Boleng yang mengakibatkan rusaknya buah ubi jalar, dan bila serangan berat mengakibatkan ubi jalar rasanya pahit dan tidak laku dijual. Serangga ini banyak merusak umbi ubijalar  dengan cara masuk umbi dan memakan kulitnya , umbi yang telah diserangnya akan timbul bau yang tidak enak, walaupun serangannya hanya sedikit, rasa umbi yang teresrang sudah tidak enak lagi rasanya.

MORFOLOGI

Morfologi  hama ini , bentuk kumbangnya menyerupai semut , langsing dan berwarna  cerah, moncong kepala dan elytanya berwarna biru, sedangkan dada ( thorax), antena dan kakinya berwarna merah, panjangnya 6-8 mm , kakinya panjang

DAUR HIDUP

Kumbang ini tertarik sinar  lampu, selain memakan daun dan tangkai, juga suka memakan umbi, telurnya diletakkan dalam batang atau umbi yang ditutup dengan sisa makanan, setelah menetas  dia dapat langsung memakan umbi ditempat menetasnya, kumbang ini dapat hidup selama 3 bulan, setiap harinya mampu bertelur 2 butir  dan jumlahnya bisa mencapai 200 butir.



CARA MUDAH MENGENDALIKAN


  1. Dengan cara pergiliran tanaman jangan terus menerus menanam ubi jalar.
  2. Umbi yang kelihatan diatas tanah agar dibumbun agar tidak teresrang oleh hama ini
  3. Pada saat panen umbi yang terserang harap dikumpulkan , kemudian dibakar
  4. Menanam dengan stek
  5. Menanam varietas yanag tahan, varietas yang berkulit tebal, dan yang mampu membentuk umbi  yang cukup dalam didalam tanah
  6. Menanam jenis ubi jalar yang rimbun daunnya
  7. Umbi yang disimpan dalam gudang dapat ditutup dengan pasir atau disimpan didalam plastik
  8. Pada waktu umbi masih muda dapat diberi insetisida carbofuran


KESIMPULAN


Hama boleng yang menyerang buah  / umbi ketela rambat dapat dilakukan dengan cara kultur teknis, dengan memilih varietas yang tahan mempunyai daun yang lebat,  jaga kelembaban tanah  yang ada. Dengan kondisi yang lembab akan memudahkan kumbang/ hama boleng diserang cendawan Beauveria sp.

Sumber : https://wibowopenyuluh.blogspot.com/2017/12/cara-mudah-pengendalian-hama-boleng.html

Minggu, 08 September 2019

Cara pengendalian hama keong mas




Cara pengendalian hama keong mas - Keong mas termasuk filum moluscatisida , binatang yang termasuk moluscatisida umumnya tidak beruas, berbadan lunak, dan mengeluarkan lendir, binatang ini pada malam hari molusca mencari makan dan pada siang hari bersembunyi. Makanan yang disukai memakan bahan organik dan tanaman yang masih hidup terutama tanaman muda. Alat unyuk makan berbentuk lidah yang kasar seperti parut yang disebut radula. 
Ada dua macam Mollusca yaitu yang mempunyai rumah biasanya disebut bekicot, sumpil, keong dan yang tidak mempunyai rumah ( pelindung) atau rumahnya kerdil biasanya disebut siput. Bekicot atau siput umumnya hermaprodit, mempunyai alat kelamin jantan dan betina, namun sering kali kedua binatang tersebut terlihat mengadakan perkawinan dengan sesamanya. 
Keong mas (Pomaceae canaliculata Lamarck) (Gastropoda; Ampullaridae) ada juga yang menyebut siput murbei merupakan salah satu jenis keong air tawar yang berasal dari Benua Amerika.
Wikipedia

Cara Hidup keong mas

 
Keong mas sangat menyukai lingkungan yang jernih, mempunyai suhu air antara 10 - 35 C, dengan demikian sangat cocok untuk daerah pegunungan sampai pantai. Dengan demikian mudah ditemukan di daerah sawah, waduk,  rawa dan genangan air. Keong mas bersifat herbivor yang pemakan segala dan sangat rakus, tanaman yang disukai tanaman yang masih muda dan lunak seperti bibit padi, tanaman sayuran, dan enceng gondok. 
Apabila habitatnya dalam keadaan kekurangan air maka keong mas akan membenamkan diri pada lumpur yang dalam, hal ini dapat bertahan selama 6 bulan. Bila habitatnya sudah ada airnya maka keong mas akan muncul kembali pada saat pengolahan lahan. Keong mas mempunyai jenis kelamin yaitu jantan dan betina, tidak seperti jenis siput yang lain. Keong mas siap melakukan kopulasi pada saat kondisi air terpenuhi pada areal persawahan.

Musuh Alami

Banyak musuh alami yang dapat menekan populasi hama keong Mas, diantaranya Musuh alami bekicot yaitu predator Gonaxis  dan Euglandina, kunang-kunang lamprochorus dan bakteri  Aeromonas  liquefacicus juga menyerang bekicot, Burung, itik dll

 Cara pengendalian hama keong mas


a.      Mekanik

Secara mekanik yaitu pemberantasan hama keong mas dilakukan dengan :

  1. Pemungutan/ diambil  secara berkala 3 kali dalam seminggu dan dihancurkan kelompok  telur yang ada kemudian   dihancurkan dengan kayu/bambu;
  2. Pada pintu masuk air : menggunakan saringan berukuran 5 mm mesh yang dipasang pada pintu  air masuk di pematang untuk meminimalkan masuknya keong mas ke sawah dan memudahkan pemungutan dengan tangan;
  3. Menanam bibit tua,  umur > 21 hari dan tanam lebih dari satu bibit per rumpun ( 4 samapi 5 Batang/ rumpun
  4. buat caren / saluran / parit2, di dalam dan di sekeliling petakan sawah. Agar setelah dikeringkan keong mas berkumpul, sehingga memudahkan pengambilan
  5. Pemasangan umpan ditepi2 pematang sehingga keong mas dapat berkumpul kemudian diambil dan dihancurkan , makanan keongmas yang disukai seperti Daun Pepaya, Ketela dl

b.      Biologis 


Secara biologi yaitu pemberantasan hama keong mas dengan melepas itik dan membuat perangkap telur, misalnya ajir-ajir yang berasal dai bilah bambu sebagai tempat peletakan telur keong Mas,  Atau menggunakan predator atau parasit.

c.       Kimiawi


Secara kimia yaitu pemberantasan hama keong mas dilakukan dengan menggunakan pestisida yang berbahan aktif niclos amida dan pestisida botani seperti lerak, deris, dan saponine. Aplikasi pestisida dapat dilakukan di sawah yang tergenang di caren atau di cekungan-cekungan yang ada airnya tempat keong mas berkumpul.


Sumber : https://wibowopenyuluh.blogspot.com/2015/06/pengendalian-hama-keong-mas.html